Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Ade Rossi Soroti TPT Banten Tinggi, Dorong Link and Match Pendidikan–Industri

Laporan: Raja Media Network
Kamis, 05 Februari 2026 | 12:25 WIB
Anggota Komisi X DPR RI, Adde Rosi - Humas DPR -
Anggota Komisi X DPR RI, Adde Rosi - Humas DPR -

RMBANTEN.COM - Serang, Kunker — Status Provinsi Banten sebagai salah satu pusat manufaktur nasional belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan tenaga kerjanya. Data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Februari 2025 yang mencapai 6,69 persen menempatkan Banten sebagai salah satu provinsi dengan pengangguran tertinggi secara nasional.
 

Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari Anggota Komisi X DPR RI, Adde Rosi, yang mendorong solusi komprehensif melalui pembukaan lapangan kerja baru serta penguatan sistem pendidikan yang selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
 

“Permasalahan pengangguran di Provinsi Banten ini memang cukup tinggi. Dan ini bukan hanya di Banten saja, rata-rata provinsi besar juga mengalami hal yang sama,” ujar Adde Rosi kepada Parlementaria dalam Kunjungan Kerja Spesifik Bidang Kepemudaan Komisi X DPR RI ke Provinsi Banten, Rabu (4/2/2026).
 

Pusat Industri, Tapi Pengangguran Masih Tinggi
 

Politisi daerah pemilihan Banten I itu menilai tingginya TPT menjadi ironi besar bagi daerah dengan kawasan industri yang sangat masif. Menurutnya, kekuatan industri seharusnya mampu menjadi lokomotif penyerapan tenaga kerja, khususnya bagi generasi muda.
 

“Banten ini daerah industri. Seharusnya itu menjadi kekuatan untuk menekan angka pengangguran, bukan sebaliknya,” tegasnya.
 

Pendidikan Harus Link and Match
 

Adde Rosi menekankan bahwa pembukaan lapangan kerja harus dibarengi dengan penyesuaian sistem pendidikan. Ia menilai masih terjadi jurang antara lulusan pendidikan dan kebutuhan riil industri di Banten.
 

“Solusinya, Banten harus membuka lapangan kerja, tapi juga memberikan pendidikan yang link and match dengan dunia usaha dan dunia industri. Sekolah vokasi, S1, S2, sampai S3 harus mendukung ekosistem industri yang sudah ada,” pungkasnya.
 

Butuh Sinergi Lintas Sektor
 

Politisi Fraksi Partai Golkar itu menambahkan, penurunan angka pengangguran tidak bisa dibebankan hanya pada sektor pendidikan. Diperlukan sinergi kuat lintas sektor, termasuk keterlibatan Kementerian Ketenagakerjaan dan dukungan kebijakan pemerintah pusat.
 

“Harus ada sinergi antara pendidikan, industri, dan kebijakan ketenagakerjaan agar penurunan pengangguran pemuda bisa berkelanjutan,” tegas Adde Rosi.
 

Pemprov Akui Lulusan Tak Sesuai Kebutuhan Industri
 

Sebelumnya, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Provinsi Banten Ahmad Syakuni mengakui masih kuatnya ketidaksesuaian antara lulusan pendidikan dengan kebutuhan dunia industri.
 

“Memang terlihat jelas belum matching antara lulusan pendidikan dan dunia industri. Kami berharap ada regulasi, khususnya advokasi pemuda agar mendapatkan peluang kerja,” ujarnya.
 

Mahasiswa Soroti Angka 42 Ribu Pengangguran
 

Sorotan juga datang dari kalangan mahasiswa. Perwakilan BEM UPI Banten, Umam, menyampaikan keprihatinannya atas angka pengangguran terbuka sebesar 6,69 persen atau sekitar 42.710 orang di Banten.
 

“Itu angka yang besar. Kami sepakat, kurikulum pendidikan harus benar-benar matching dengan kebutuhan dunia kerja,” tandasnya.
 

Tingginya TPT di Banten menjadi alarm keras bahwa pertumbuhan industri saja tidak cukup. Tanpa keselarasan pendidikan, kebijakan ketenagakerjaan, dan kebutuhan pasar kerja, bonus demografi justru berpotensi berubah menjadi beban sosial.rajamedia

Komentar: