Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Prabowo Diskusi Dengan Diplomat Senior, Risiko Global Board Of Peace Dibedah Terbuka

Laporan: Tim Redaksi
Kamis, 05 Februari 2026 | 11:24 WIB
Mantan Menlu, Wamenlu dan tokoh politik luar negeri apresiasi dialog terbuka Presiden Prabowo membahas kebijakan global, terutama terkait Palestina - Biro Setpres -
Mantan Menlu, Wamenlu dan tokoh politik luar negeri apresiasi dialog terbuka Presiden Prabowo membahas kebijakan global, terutama terkait Palestina - Biro Setpres -

RMBANTEN.COM - Jakarta — Presiden Prabowo Subianto kembali mengirim sinyal kuat soal arah kepemimpinan diplomasi Indonesia. Di Istana Merdeka, Rabu (4/2/2026), Kepala Negara menerima sejumlah mantan Menteri Luar Negeri, mantan Wakil Menteri Luar Negeri, serta tokoh senior diplomasi nasional dalam pertemuan tertutup yang berlangsung hampir tiga jam.
 

Pertemuan tersebut bukan sekadar silaturahmi. Diskusi berjalan terbuka, dua arah, dan menyentuh isu-isu paling sensitif dalam politik luar negeri Indonesia—mulai dari konflik global, risiko geopolitik, hingga sikap Indonesia terhadap Palestina.
 

Atmosfer dialog yang cair itu bahkan membuat sejumlah peserta mengaku terkejut.
 

Dino Patti Djalal: Totally Open, Bukan Satu Arah
 

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengungkapkan kekagetannya atas suasana pertemuan yang jauh dari kesan top down. Ia menilai Presiden Prabowo justru memberi ruang luas bagi para diplomat senior untuk bertanya, berdebat, hingga menguji opsi kebijakan.
 

“Terus terang saya agak surprise. Selama ini kita banyak dengar cerita bahwa pertemuan dengan Presiden itu satu arah. Tapi yang saya lihat hari ini totally open,” ujar Dino kepada awak media usai pertemuan.
 

Menurut Dino, tak ada topik yang dibatasi. Seluruh risiko, tantangan global, hingga kemungkinan skenario kebijakan dibahas secara terbuka dan ditanggapi langsung oleh Presiden.
 

“Diskusinya dua arah, sangat apa adanya. Tidak ada larangan bertanya ini atau itu,” tambahnya.
 

Hassan Wirajuda: Banyak Hal yang Selama Ini Tak Diketahui Publik
 

Sementara itu, mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menilai pertemuan tersebut memberikan pencerahan penting, terutama terkait isu-isu diplomasi yang selama ini sulit diakses publik.
 

Ia mengakui, keterbatasan informasi kerap melahirkan persepsi yang tidak utuh di tengah masyarakat. Karena itu, dialog langsung dengan Presiden menjadi momentum berharga.
 

“Sore ini kita mendapat banyak pencerahan. Banyak informasi yang sebelumnya memang tidak kita ketahui,” ujar Hassan.
 

Alwi Shihab: Palestina dan Two-State Solution Harga Mati
 

Isu Palestina menjadi salah satu pembahasan utama. Mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab menegaskan bahwa Presiden Prabowo menyampaikan sikap Indonesia secara konsisten dan tegas.
 

Menurut Alwi, tidak ada perubahan arah kebijakan. Indonesia tetap berdiri pada perjuangan rakyat Palestina dan solusi dua negara.
 

“Indonesia tidak pernah meninggalkan komitmen terhadap Palestina. Two-state solution itu harga mati,” tegas Alwi.
 

Jusuf Wanandi: Presiden Menjawab Sebelum Ditanya
 

Tokoh senior diplomasi Jusuf Wanandi turut mengapresiasi gaya komunikasi Presiden Prabowo yang dinilainya komprehensif dan mendalam. Bahkan, sejumlah pertanyaan sudah dijawab Presiden sebelum sempat diajukan peserta.
 

Ia menilai langkah membuka ruang dialog ini penting agar publik memahami kompleksitas pengambilan kebijakan luar negeri.
 

“Ini kesempatan yang dibuka oleh Bapak Presiden. Harus kita hargai dan kita manfaatkan bersama,” kata Jusuf.
 

Diplomasi Terbuka, Arah Kebijakan Dipertegas
 

Pertemuan ini menjadi penanda pendekatan baru Presiden Prabowo dalam mengelola diplomasi: inklusif, transparan, dan berbasis dialog strategis. Di tengah situasi global yang kian bergejolak, Presiden menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia tetap berpijak pada kepentingan nasional, prinsip kemanusiaan, dan konsistensi sikap di forum internasional.
 

Bagi para diplomat senior, pertemuan tersebut bukan hanya ajang bertukar pikiran, tetapi juga sinyal bahwa Istana membuka telinga—dan ruang—bagi pengalaman panjang diplomasi Indonesia.rajamedia

Komentar: