Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Kasus Korupsi BBM Pertamina: Kerugian Nyaris Rp1.000 Triliun, Kejagung Usut Tuntas

Laporan: Raja Media Network
Kamis, 27 Februari 2025 | 07:12 WIB
Jaksa Agung ST Burhanuddin - Foto:: Repro -
Jaksa Agung ST Burhanuddin - Foto:: Repro -

RMBANTEN.COM - Jakarta, 27 Februari 2025 – Kejaksaan Agung mengungkap kasus dugaan korupsi impor minyak mentah Pertamina yang berpotensi merugikan negara hingga Rp1.000 triliun. Jaksa Agung ST Burhanuddin menegaskan bahwa hanya dalam satu tahun, kerugian negara sudah mencapai Rp193,7 triliun. Jika dihitung sejak 2018 hingga 2023, jumlahnya bisa membengkak luar biasa.
 

"Angka ini sangat besar dan mencerminkan praktik korupsi yang sistematis dalam tata kelola minyak mentah di Pertamina," ujar Burhanuddin dalam keterangannya.
 

Kasus ini menyeret sejumlah nama petinggi Pertamina, termasuk Riva Siahaan, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka.
 

Modus Operandi: Blending Pertalite Jadi Pertamax
 

Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Agung Abdul Qohar mengungkapkan bahwa para tersangka diduga melakukan blending Pertalite (RON 90) menjadi Pertamax (RON 92).
 

"Selain itu, impor BBM dilakukan melalui perantara atau broker, yang berdampak pada meningkatnya harga minyak akibat pemberian kompensasi dan subsidi yang tidak seharusnya," kata Agung.
 

Kejagung merinci bahwa kerugian negara berasal dari beberapa komponen, antara lain:
 

✅ Ekspor minyak mentah dalam negeri yang tidak optimal
✅ Impor minyak mentah melalui perantara (broker)
✅ Impor bahan bakar minyak (BBM) lewat broker
✅ Pemberian kompensasi dan subsidi yang tidak tepat sasaran
 

Akibat praktik ini, negara mengalami kerugian finansial yang sangat besar, yang berpotensi menjadikannya salah satu skandal korupsi terbesar dalam sejarah Indonesia.
 

Pertamina Buka Suara
 

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menjelaskan bahwa pihaknya memperoleh BBM dari kilang dalam negeri maupun pengadaan luar negeri.
 

"Kami menerima BBM sesuai permintaan, baik RON 90 maupun RON 92, baik dari kilang Pertamina maupun impor," ujar Mars Ega.
 

Ia juga menegaskan bahwa penambahan zat aditif dalam Pertamax bertujuan untuk meningkatkan kualitas BBM, seperti mencegah karat, membersihkan mesin, dan meningkatkan akselerasi.
 

Namun, ia membantah bahwa terminal-terminal Pertamina Patra Niaga memiliki fasilitas blending untuk produk gasoline.
 

Daftar Tersangka yang Sudah Ditahan
 

Kejaksaan Agung telah menetapkan dan menahan tujuh tersangka dalam kasus ini:
 

1️⃣ Riva Siahaan (RS) – Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga
2️⃣ Sani Dinar Saifuddin (SDS) – Direktur Optimasi Feedstock dan Produk PT Kilang Pertamina Internasional (KPI)
3️⃣ Yoki Firnandi (YF) – Direktur Utama PT Pertamina International Shipping
4️⃣ Agus Purwono (AP) – VP Feedstock Management PT Kilang Pertamina Internasional
5️⃣ Muhammad Kerry Adrianto Riza (MKAR) – Pemilik PT Navigator Khatulistiwa
6️⃣ Dimas Werhaspati (DW) – Komisaris PT Navigator Khatulistiwa & PT Jenggala Maritim
7️⃣ Gading Ramadhan Joedo (GRJ) – Komisaris PT Jenggala Maritim & Direktur PT Orbit Terminal Merak
 

Ujian Besar bagi Kejaksaan Agung
 

Dengan besarnya angka kerugian negara, kasus ini bisa menjadi skandal korupsi terbesar di Indonesia. Tantangan besar kini ada di tangan Kejaksaan Agung.
 

Mampukah Kejagung mengusut kasus ini hingga tuntas dan memulihkan kerugian negara? Ataukah kasus ini justru akan berakhir tanpa kepastian hukum?

Masyarakat menunggu jawaban.rajamedia

Komentar: