HPN 2026 di Banten: Ketika Pers Pulang ke Tanah Jawara
RMBANTEN.COM - BANTEN akhirnya tiba pada satu titik sejarah penting: menjadi tuan rumah Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Bagi sebagian orang, ini sekadar perhelatan tahunan. Tapi bagi Banten—tanah yang lahir dari perlawanan, darah, dan kata-kata—HPN adalah kepulangan.
Kepulangan pers ke rumah lamanya.
Di bumi jawara, pers tidak tumbuh dari ruang nyaman. Ia lahir dari konflik, ketidakadilan, dan perlawanan terhadap kuasa yang sewenang-wenang. Maka ketika Kota Serang menjadi pusat perayaan HPN pada 6–9 Februari 2026, sesungguhnya yang dirayakan bukan hanya profesi, tetapi sejarah keberanian.
Pers dan Watak Jawara
Banten dikenal sebagai tanah para jawara—mereka yang keras di sikap, lurus di niat, dan tegas melawan ketidakadilan. Watak itu, sadar atau tidak, juga mengalir dalam jurnalisme Banten.
Sejak era kolonial, wilayah Banten tidak pernah benar-benar sunyi dari denyut informasi. Ketika Bataviasche Nouvelles terbit pada 1744 di Batavia dan memuat aktivitas perdagangan Pelabuhan Banten, pers sudah menjadikan Banten sebagai ruang penting ekonomi dan politik. Bahkan di masa kolonial, surat kabar seperti De Banten Bode menjadi bukti bahwa Banten bukan sekadar daerah pinggiran, melainkan wilayah strategis yang diperebutkan wacana.
Namun sejarah juga mencatat: pers kala itu lebih banyak menjadi corong kekuasaan kolonial. Ia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan pers baru benar-benar menemukan maknanya setelah republik ini lahir.
Dari Proklamasi ke Konsolidasi
Pasca-1945, pers Indonesia—termasuk di Banten—berubah wajah. Pembentukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946 memberi kerangka etik, ideologis, dan organisatoris bagi jurnalis daerah. Pers bukan lagi sekadar pencatat peristiwa, melainkan bagian dari perjuangan.
Semangat Tirto Adhi Soerjo—meski tak lahir di tanah ini—hidup dalam denyut jurnalisme Banten: berani, kritis, dan berpihak pada publik. Pers di Banten tumbuh sebagai alat kontrol sosial, terutama di masa-masa awal republik yang penuh ketidakpastian.
Reformasi dan Ledakan Media Lokal
Momentum paling menentukan bagi pers Banten datang bersamaan dengan kelahiran Provinsi Banten pada 4 Oktober 2000. Pemisahan dari Jawa Barat bukan hanya peristiwa administratif, tetapi juga kelahiran ruang publik baru.
Media-media lokal bermunculan. Surat kabar, tabloid, hingga radio dan televisi lokal mengambil peran sebagai pengawas kekuasaan provinsi yang masih belia. Radar Banten, misalnya, menjadi salah satu tonggak penting jurnalisme lokal yang konsisten mengawal isu-isu publik selama lebih dari dua dekade.
Di fase ini, pers Banten tidak selalu ramah pada penguasa. Kritik tajam, laporan investigatif, dan advokasi publik menjadi menu harian. Pers kembali pada fitrahnya: mengganggu yang nyaman dan menguatkan yang lemah.
Era Digital dan Tantangan Baru
Kini, lanskap pers Banten berubah cepat. Media digital tumbuh subur, tapi tantangannya juga berlipat: disinformasi, tekanan ekonomi, hingga maraknya media tanpa badan hukum jelas. Di sinilah HPN 2026 menemukan relevansinya.
Pendataan media oleh Dewan Pers, penguatan profesionalisme, dan sinergi dengan pemerintah daerah bukan agenda seremonial. Itu adalah upaya menyelamatkan pers dari erosi kepercayaan publik.
Gubernur Banten Andra Soni menyebut kolaborasi dengan pers sebagai kunci akselerasi pembangunan. Pernyataan ini penting—namun lebih penting lagi bagaimana pers menjaga jarak kritis. Kolaborasi tanpa kritik hanya akan melahirkan propaganda.
HPN sebagai Cermin, Bukan Panggung
Maskot HPN 2026, Si Juhan—Jurnalis Handal—seolah mengingatkan bahwa profesionalisme bukan slogan, melainkan kerja sunyi yang konsisten. Jalan sehat, seminar, konvensi media, hingga kehadiran Presiden Prabowo Subianto di puncak acara adalah simbol. Tapi substansinya tetap satu: apakah pers masih setia pada kebenaran?
HPN di Banten seharusnya menjadi cermin, bukan panggung. Cermin untuk melihat apakah pers masih menjadi bagian dari denyut rakyat, atau justru terjebak dalam klik, sensasi, dan pesanan.
Di tanah jawara, sejarah mengajarkan satu hal: kekuasaan boleh datang dan pergi, tetapi kata-kata yang jujur akan selalu menemukan jalannya.
Dan pers—jika ia setia pada nuraninya—akan selalu menjadi jawara yang paling sunyi, namun paling ditakuti.
Penulis: Wartawan senior, Pendiri Raja Media Banten, Ketua Dewan Etik Pro JournalisMedia Indonesia, Wabemdum IKALUIN Jakarta![]()
Hukum | 6 hari yang lalu
Patandang | 4 hari yang lalu
Patandang | 2 hari yang lalu
Nagara | 3 hari yang lalu
Gaya Hirup | 5 hari yang lalu
Warta Banten | 2 hari yang lalu
Warta Banten | 3 hari yang lalu
Nagara | 4 hari yang lalu
Ékobis | 4 hari yang lalu
