Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Kepemimpinan Berdampak

Oleh: Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Kamis, 29 Januari 2026 | 18:05 WIB
Ilustrasi foto AI -
Ilustrasi foto AI -

RMBANTEN.COM - KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar menjaga rutinitas, melainkan melakukan terobosan. Pemimpin hadir untuk menggerakkan perubahan yang bermakna. Bahkan bila perlu, ia berani mengubah aturan yang tidak lagi selaras dengan tujuan luhur. Aturan adalah alat, bukan tujuan. Ketika alat menghambat misi, pemimpin wajib mengoreksinya. Di sinilah nyali dan keberanian moral diuji. Kepemimpinan lahir dari kesadaran melampaui kebiasaan. Ia menuntut visi, strategi, dan stamina. Ia juga menuntut keteladanan dan integritas. Kepemimpinan berdampak berarti kepemimpinan yang terasa manfaatnya.


Kepemimpinan dapat dimaknai lewat gerak fisik lintas peradaban. Dari memanah, joging, gulat, berkuda, dayung, renang, lari maraton, hingga tari Sema Rumi, semuanya mengandung hikmah kepemimpinan. Setiap cabang mengajarkan aspek berbeda tentang arah, strategi, kerja tim, budaya, stamina, dan refleksi. Kepemimpinan bukan hanya kerja pikiran, tetapi juga kerja sikap dan jiwa. Dari sinilah lahir konsep kepemimpinan paripurna. Ia memadukan rasionalitas, etos kerja, dan makna hidup. Pemimpin mengelola arah sekaligus gerak. Ia menghubungkan visi dengan tindakan nyata. Kepemimpinan menjadi seni menggerakkan manusia. Kepemimpinan berdampak lahir dari kesatuan niat dan perbuatan.


Memanah: Visioning & Goal Setting


Memanah fokus pada sasaran sebelum busur dilepas. Visioning adalah kemampuan pemimpin merumuskan gambaran masa depan yang ingin dicapai. Secara konseptual, visi memberi arah dan makna bagi seluruh aktivitas organisasi. Tanpa visi, kepemimpinan kehilangan orientasi. Goal setting menerjemahkan visi menjadi tujuan yang spesifik dan terukur. Visi mengikat pikiran dan perasaan anggota pada tujuan bersama. Secara operasional, pemimpin menetapkan misi, target strategis, dan indikator kinerja. Ia menyusun prioritas program kerja. Tindakan kepemimpinan tampak dalam konsistensi mengomunikasikan arah. Setiap keputusan diuji dengan visi. Seperti pemanah, pemimpin harus yakin pada sasaran.


Joging: Situational Analysis


Joging mengajarkan membaca medan sebelum menambah kecepatan. Situational analysis menuntut kepekaan pada realitas organisasi. Secara konseptual, pemimpin harus memahami konteks sosial, budaya, dan kelembagaan. Kepemimpinan tidak boleh terlepas dari lapangan. Tanpa analisis situasi, kebijakan mudah meleset. Secara operasional, pemimpin melakukan pemetaan masalah dan potensi. Ia mengumpulkan data, fakta, dan aspirasi. Ia mendengar suara bawahan dan mitra. Keputusan dibuat berbasis bukti. Tindakan kepemimpinan tampak dalam kebijakan yang relevan. Seperti pelari, pemimpin menyesuaikan langkah dengan kondisi.


Gulat: Strategic Analysis, SWOT & Risk Management


Gulat menuntut membaca gerak lawan sebelum menyerang. Strategic analysis adalah jembatan antara visi dan kenyataan. Secara konseptual, pemimpin mengenali kekuatan dan kelemahan organisasi. Ia juga membaca peluang dan ancaman lingkungan. Risiko adalah keniscayaan dalam perubahan. Kepemimpinan bukan soal nekat, tetapi bijak. Secara operasional, pemimpin menyusun analisis SWOT dan peta risiko. Ia menyiapkan skenario kebijakan. Ia menentukan prioritas strategis. Tindakan kepemimpinan tampak pada kesiapan menghadapi kegagalan. Pemimpin selalu punya rencana cadangan. Seperti pegulat, ia menyerang dengan perhitungan.


Berkuda: Organizing & Coordinating


Berkuda menuntut kesatuan ritme antara penunggang dan kuda. Organizing berarti menyusun sistem kerja yang rapi. Secara konseptual, ini mencakup struktur, peran, dan alur kerja. Tanpa organisasi, visi tinggal wacana. Coordinating menciptakan sinergi antarunit. Secara operasional, pemimpin menetapkan pembagian tugas yang jelas. Ia memastikan komunikasi berjalan efektif. Ia mengadakan koordinasi rutin. Setiap unit tahu perannya. Tindakan kepemimpinan tampak dalam kelancaran kerja tim. Seperti penunggang kuda, pemimpin mengarahkan laju organisasi.


Dayung: Team Building & Leadership Style


Dayung menuntut semua pendayung menjaga irama yang sama. Team building adalah fondasi kerja kolektif. Secara konseptual, kepercayaan menjadi modal sosial utama. Tanpa kepercayaan, tidak ada kinerja tim. Pemimpin bukan sekadar atasan, tetapi penggerak. Secara operasional, pemimpin membangun komunikasi terbuka. Ia memberdayakan anggota melalui pelibatan aktif. Ia menyelesaikan konflik secara adil. Ia menguatkan solidaritas. Tindakan kepemimpinan tampak dalam kekompakan tim. Seperti perahu dayung, organisasi melaju jika semua serempak.


Renang: Organizational Culture & Ecosystem


Renang mengajarkan menyatu dengan air agar bisa melaju. Organizational culture adalah sistem nilai yang hidup. Secara konseptual, budaya lebih kuat daripada aturan tertulis. Ia membentuk kebiasaan dan etos kerja. Tanpa budaya, struktur menjadi kering. Secara operasional, pemimpin menanamkan nilai melalui keteladanan. Ia memperkuat integritas dan profesionalisme. Ia memberi penghargaan pada perilaku baik. Ia menegur pelanggaran nilai. Tindakan kepemimpinan tampak dalam iklim kerja yang sehat. Seperti perenang, pemimpin menyatu dengan ekosistemnya.


Maraton: Execution & Performance Management


Maraton menuntut ketahanan hingga garis akhir. Execution adalah ujian utama kepemimpinan. Secara konseptual, kepemimpinan diukur dari hasil. Rencana tanpa tindakan tidak berarti. Disiplin dan konsistensi menjadi kunci. Secara operasional, pemimpin memantau kinerja secara berkala. Ia menggunakan indikator dan target. Ia memberi umpan balik berkelanjutan. Ia berani mengoreksi arah. Tindakan kepemimpinan tampak dalam pencapaian tujuan. Seperti pelari maraton, pemimpin harus tahan uji. Ia tidak berhenti di tengah jalan.


Tari Sema Rumi: Reflective & Moral Leadership


Tari Sema berputar untuk menemukan pusat diri. Reflective leadership memurnikan arah kepemimpinan. Secara konseptual, pemimpin menimbang niat dan dampak kebijakan. Tanpa refleksi, kekuasaan mudah menyimpang. Kepemimpinan harus bermoral. Nilai menjadi kompas tindakan. Secara operasional, pemimpin membuka ruang evaluasi. Ia belajar dari kritik dan kesalahan. Ia menjaga kerendahan hati. Ia memperbaiki diri dan sistem. Tindakan kepemimpinan tampak dalam keteladanan etis. Seperti penari Sema, pemimpin kembali ke pusat makna.


Pemimpin sejati mengejar makna, bukan hanya medali. Kepemimpinan berdampak adalah perpaduan arah, strategi, budaya, dan jiwa. Ia lahir dari visi yang jelas. Ia tumbuh lewat analisis yang tajam. Ia menguat melalui organisasi dan tim yang solid. Ia hidup dalam budaya yang sehat. Ia diuji dalam eksekusi yang konsisten. Ia dimurnikan oleh refleksi moral. Di sanalah kepemimpinan menjadi jalan pengabdian. Kepemimpinan berdampak bukan retorika. Ia dirasakan oleh banyak orang. Ia meninggalkan jejak kebaikan.


Penulis: Dekan FKIP UNTIRTArajamedia

Komentar:
BERITA LAINNYA
Kenangan penulis saat menjadi bagian Pantia GKN 2013. - Foto: Dok Pribadi -
Berbudi Itu Telah Tiada
Minggu, 18 Januari 2026
Foto Ilustrasi: Dok Gemini -
Tangsel Sudah Darurat Sampah
Jumat, 09 Januari 2026
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Madura oleh pasukan elit Amerika - Repro -
Venezuela dan Ujian Bebas Aktif
Selasa, 06 Januari 2026
Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Terlantar Tanpa Ayah
Jumat, 14 November 2025