Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Kultum, Literasi, Deep-Listening

Oleh: Abdul Mu’ti
Jumat, 27 Februari 2026 | 11:49 WIB
Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ti
Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ti

RAJAMEDIA.CO - Ramadan adalah bulan yang identik dengan kultum (kuliah tujuh menit). Pada umumnya, kultum berisi ceramah keagamaan, terutama yang terkait dengan puasa dan ibadah Ramadan yang lainnya. Kultum berkembang menjadi tradisi lisan (oral tradition) yang memperkaya khazanah kebudayaan Islam Indonesia. Tradisi serupa tidak, atau sangat jarang ditemukan di negara-negara Muslim.


Kultum merupakan interpretasi dan ekspresi ajaran dakwah. Di dalam Surat An-Nahl (16): 125, Umat Islam diperintahkan untuk mengajak manusia ke jalan Tuhan dengan hikmah (bijaksana), mauidhah hasanah (nasihat yang baik), dan mujadalah (dialog) .


Di dalam Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Ruqaiyah Tamim, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa agama adalah nasihat bagi Allah, Kitab, Rasul, para pemimpin, dan seluruh umat muslim. Nasihat dan mauidhah hasanah diterjemahkan dalam bentuk dakwah bi al-lisan: pidato, ceramah, dan sejenisnya.


Karena merupakan tradisi, kultum seakan menjadi sebuah kewajiban. Ramadan tidak afdol tanpa kultum. Meskipun, tidak dapat dihindari, banyak materi yang berulang-ulang seperti Surat  Al-Baqarah [2]: 183 dan 185 serta Hadits riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah tentang ampunan bagi mereka yang berpuasa. Pengulangan bisa jadi membosankan. Akan tetapi, jika jemaah mendengarkan dengan seksama (deep listening), ia bisa menghafal banyak ayat Al-Qur'an dan Hadits tanpa harus menghafalkan secara khusus.


Dalam buku How To Listen: Discover The Hidden Key To Better Communication (2022), Oscar Trimboli menjelaskan bahwa mendengarkan adalah "state of mind... listening is  the willingness to have your mind changed." Mendengarkan adalah sebuah pandangan dan kehendak yang kuat untuk mengubah pandangan.


Dengan mendengar, seseorang akan memperoleh visi dan pandangan yang memperkaya atau memperluas pengetahuan dan pengalaman. Pengulangan bukanlah sesuatu yang sia-sia tetapi justru dapat memperkuat memori. Banyak ayat Al-Qur'an yang disebutkan berulang-ulang. Hal demikian agar tertanam kokoh di dalam hati.


Deep listening terdiri atas lima proses yang saling berkaitan. Pertama, yourself: siapkan mental untuk mendengarkan, berniat, dan berikan perhatian yang serius. Kedua, content: dengarkan dengan seksama, lihat, dan resapi materi dan cara menyampaikan.


Ketiga, context: eksplorasi latar cerita, perhatikan dengan seksama bagaimana suatu materi diungkapkan. Keempat, unsaid: cobalah fokus pada hal-hal yang tidak dikatakan, tetapi tetap terkait dengan materi dan konteks. Kelima, meaning: perhatikan baik-baik pada makna materi, konteks, dan hal-hal (penting) yang tidak dikatakan.


Dengan deep listening, seseorang tetap menghormati mubaligh walaupun yang disampaikan bukan sesuatu yang baru, sebagian bahkan mungkin salah. Dengan deep listening, seseorang dapat menjadi pendengar yang cerdas (ulu al-bab) yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya (Qs. Az-Zumar [39]: 18).


Dengan deep listening, kultum  merupakan proses literasi yang dapat memungkinkan umat Islam meningkatkan wawasan keagamaan, memperkuat iman dan takwa serta ikatan sosial di antara jemaah.  Kultum merupakan tradisi lisan berbasis Islam yang memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia.rajamedia

Komentar: