Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

jeda ramadan

Marah Boleh, Pemarah Jangan

Oleh: Abdul Mu'ti
Selasa, 17 Maret 2026 | 11:54 WIB
Illustrasi Mendikdasmen, Abdul Mu'ti - Raja Media -
Illustrasi Mendikdasmen, Abdul Mu'ti - Raja Media -

RMBANTEN.COM - MARAH adalah ekspresi jiwa yang bisa dilakukan oleh siapa saja.


Daniel Goleman, dalam buku Emotional Intelligence (1995) mengutip Aristoteles (Atistotle) tentang marah: Anybody can become angry, that is easy. But to be angry with the right person and to the right degree and at the right time and for the right purpose and in the right way - that is not everybody's power, and is not easy.


Siapa pun bisa marah. Itu mudah. Namun, marah kepada orang yang tepat dengan tingkat kemarahan yang terukur, kapan waktu yang tepat, serta untuk apa tujuan marah tersebut, tidak semua orang bisa melakukan, dan hal itu tidaklah mudah.


Di dalam Al-Qur'an, marah disebutkan dalam empat istilah, yaitu ghodlob (17x), ghaidz (5x), sakhat (3x), dan maqta (5x). Semuanya mengandung pengertian yang senada. Ghaidz lebih tinggi tingkatannya daripada ghodlob. Maqta pada umumnya dikaitkan dengan kemarahan yang berkaitan dengan perilaku maksiat, melanggar hukum, atau perbuatan tercela.


"Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan," (QS Ash-Shaf [61]: 3). "Manusia bertakwa adalah mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain," (QS Ali Imran [3]: 134).


Menurut Tafsir Al-Muyassar, yang dimaksud dengan menahan amarah adalah bersabar, menahan rasa marah dalam hati dengan tidak melampiaskan kemarahan dan berbuat zalim kepada orang lain.


Marah bukanlah perbuatan terlarang. Dalam beberapa riwayat disebutkan Rasulullah SAW juga pernah marah. Ketika sedang marah, wajah beliau memerah, cenderung tidak bicara, dan tidak pernah melakukan kekerasan fisik.


Rasulullah SAW tidak pernah marah ketika dirinya dihina atau hal-hal yang bersifat pribadi. Beliau marah apabila ada yang melanggar hukum Allah.


Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah SAW marah kepada Usamah bin Zaid karena membunuh seseorang yang ketika dalam posisi terdesak di medan perang mengucapkan ‘la ilaha illa Allah’. Usamah tetap membunuh orang itu dengan alasan ia hanya mengelabui, berpura-pura. Rasulullah SAW memarahi Usamah karena kesalahannya.rajamedia

Komentar:
BERITA LAINNYA
Mendikdasmen RI, Abdul Mu'ti
Iktikaf
Rabu, 11 Maret 2026
Mendikdasmen RI, Abdul Mu'ti
Filantropi Islam
Senin, 09 Maret 2026
Mendikdasmen RI, Abdul Mu'ti
Muhasabah
Minggu, 08 Maret 2026
Mendikdasmen RI, Abdul Mu'ti
Nuzulul Quran
Jumat, 06 Maret 2026