Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Bonie Triyana Kritik Tajam Board of Peace

Laporan: Raja Media Network
Sabtu, 07 Maret 2026 | 11:54 WIB
Anggota DPR RI Bonnie Triyana - Humas DPR -
Anggota DPR RI Bonnie Triyana - Humas DPR -

RMBANTEN.COM - Rangkasbitung — Diskusi bertajuk Bedah Pemikiran Islam Bung Karno di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Jumat (6/3/2026), berubah menjadi forum refleksi politik internasional. Bukan sekadar mengenang pemikiran Sang Proklamator, forum ini juga menyoroti keras posisi Indonesia dalam Board of Peace (BoP) di tengah memanasnya konflik global.
 

Acara yang digelar dalam rangka Dies Natalis ke-72 Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) itu dihadiri tiga narasumber: Anggota DPR RI Bonnie Triyana, akademisi Agus Sutisna, dan politisi muda Seno Bagaskoro. Diskusi berlangsung hangat, terutama ketika pembahasan mengarah pada agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
 

Islam Bung Karno: Lahir dari Tradisi Intelektual dan Perdebatan
 

Bonnie Triyana membuka diskusi dengan memaparkan perjalanan intelektual Soekarno dalam memahami Islam. Menurutnya, pemikiran keislaman Bung Karno tidak lahir secara instan, tetapi terbentuk melalui perjumpaan dengan berbagai tokoh dan pengalaman hidup.
 

Ia menjelaskan bahwa ketika muda, Bung Karno tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya. Di sanalah ia belajar tentang Islam, retorika politik, hingga strategi mengorganisasi massa.
 

“Bung Karno itu produk dari campuran kebudayaan, dibesarkan dalam tradisi sinkretis, sehingga mudah merangkul berbagai kalangan,” kata Bonnie.
 

Pendalaman pemikiran Islam Bung Karno juga terjadi saat ia dipenjara dan diasingkan oleh pemerintah kolonial. Pada masa itu ia membaca Al-Qur’an, tafsir, serta berdiskusi dengan tokoh-tokoh seperti Ahmad Hassan dari Persis dan Mohammad Natsir.
 

Bonnie menyebut Bung Karno sebagai sosok yang berani melakukan ijtihad sosial. Ia mencontohkan kisah Bung Karno yang membolehkan penggunaan sabun antiseptik untuk membersihkan najis anjing, serta membolehkan transfusi darah dari non-muslim dalam keadaan darurat kemanusiaan.
 

“Dia seorang mujtahid. Ia mengaitkan ajaran Islam dengan konteks zaman dan realitas masyarakat,” tegas Bonnie.
 

Api Sejarah: Berani Menggugat Status Quo
 

Politisi muda Seno Bagaskoro kemudian menambahkan perspektif tentang keberanian berpikir kritis yang diwariskan Bung Karno.
 

Ia menyinggung tokoh Belanda Eduard Douwes Dekker atau Multatuli, yang pernah tinggal di Rangkasbitung dan menulis novel legendaris Max Havelaar. Karya tersebut mengungkap praktik penindasan kolonial di Hindia Belanda.
 

Menurut Seno, keberanian Multatuli dalam menantang status quo menginspirasi generasi setelahnya, termasuk Bung Karno.
 

“Dia mencatat, menganalisis, lalu menantang sistem yang ada. Itu inti dari pemikiran kritis,” ujarnya.
 

Inspirasi tersebut juga mengalir ke tokoh-tokoh lain seperti R.A. Kartini, yang menulis gagasan emansipasi perempuan dalam karya Habis Gelap Terbitlah Terang.
 

Board of Peace Jadi Sasaran Kritik
 

Diskusi kemudian memanas ketika peserta menyinggung posisi Indonesia dalam Board of Peace di tengah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
 

Bonnie Triyana menilai situasi ini memunculkan dilema konstitusional bagi Indonesia. Ia mengingatkan bahwa Pembukaan UUD 1945 dengan tegas menyatakan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
 

“Maka ketika ada serangan ke Iran yang dilakukan Amerika, sementara Indonesia berada dalam organisasi yang sama, kata peace dalam Board of Peace menjadi gugur,” kata Bonnie.
 

Pendiri media sejarah Historia itu juga menilai serangan tanpa mandat Dewan Keamanan PBB merupakan tindakan ilegal dalam hukum internasional.
 

Ia bahkan menyebut keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace berpotensi bertentangan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang menjadi warisan para pendiri bangsa.
 

“Mungkin ini momentum untuk menjalankan opsi strategis: keluar dari Board of Peace dan kembali ke khittah diplomasi bebas aktif,” ujarnya.
 

Seruan Kembali ke Semangat Asia-Afrika
 

Seno Bagaskoro menilai organisasi tersebut sudah kehilangan relevansi. Ia bahkan menyebut istilah “Board of Peace” kini berubah makna.
 

“Beberapa minggu setelah diresmikan, Board of Peace justru berubah menjadi Board of War,” ujarnya, merujuk pandangan Jimly Asshiddiqie.
 

Sebagai alternatif, Seno mengusulkan Indonesia kembali menggagas semangat solidaritas global seperti yang pernah dilakukan Bung Karno melalui Konferensi Asia Afrika 1955.
 

Menurutnya, forum seperti itu lebih mencerminkan semangat kemandirian negara-negara dunia selatan dalam menciptakan tatanan dunia yang lebih adil.
 

“Warisan Bung Karno adalah keberanian menciptakan realitas baru. Bukan sekadar mengikuti arus kekuatan besar dunia,” pungkasnya.rajamedia

Komentar: