Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Prof Mu’ti Kupas Makna Qurban: Islam Datang Meluruskan Tradisi Kelam

Laporan: Firman
Jumat, 22 Mei 2026 | 14:17 WIB
Prof. Abdul Mu'ti bersepeda saat menuju masjid - Foto: Umar/RMN -
Prof. Abdul Mu'ti bersepeda saat menuju masjid - Foto: Umar/RMN -

RMBANTEN.COM — Pondok Cabe, Tangsel — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI sekaligus Sekretaris Umum Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengupas tajam makna ibadah qurban dalam perspektif agama Abrahamik saat menyampaikan tausiah di Griya Dakwah MU Pd Cabe Ilir, Tangerang Selatan, Jumat (22/5/2026).
 

Dalam tausiah bertajuk Qurban dan Agama Abrahamik, Prof. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa ibadah qurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan simbol totalitas ketaatan, pengorbanan, dan peneguhan identitas seorang Muslim.
 

Nabi Ibrahim Disebut Muslim Sejati
 

Di hadapan jamaah, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Nabi Ibrahim AS dalam Al-Qur’an secara jelas disebut bukan Yahudi ataupun Nasrani, melainkan seorang Muslim yang tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.

Menurutnya, banyak syariat Islam hari ini justru berakar dari ajaran Nabi Ibrahim AS.
 

Mulai dari sholat, haji, hingga qurban.
 

“Islam itu melanjutkan dan menyempurnakan ajaran Nabi Ibrahim,” ujar Abdul Mu’ti.
 

Ia juga menyinggung penyebutan nama Nabi Ibrahim AS dalam sholawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk penghormatan atas posisi sentral Ibrahim dalam sejarah kenabian.
 

Qurban Bukan Sekadar Sembelih Hewan
 

Abdul Mu’ti menjelaskan peristiwa perintah penyembelihan Nabi Ismail AS menjadi ujian keimanan terbesar bagi Nabi Ibrahim AS.
 

Namun Islam, kata dia, hadir sekaligus meluruskan praktik pengorbanan manusia yang pernah terjadi dalam tradisi kuno.
 

Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba sebagai simbol bahwa Islam menolak pengorbanan manusia.
 

“Qurban itu bukan sekadar menyembelih binatang. Tapi simbol ketaatan dan kepasrahan total kepada Allah,” tegasnya.
 

Qurban Mengajarkan Kepedulian Sosial
 

Dalam penjelasannya, Abdul Mu’ti menguraikan bahwa qurban memiliki banyak dimensi sosial dan spiritual.
 

Selain mengajarkan pengorbanan harta demi meraih ridha Allah, qurban juga membangun solidaritas sosial melalui pembagian daging kepada masyarakat yang membutuhkan.
 

Ia menegaskan esensi utama qurban bukan terletak pada daging atau darah hewan, tetapi pada ketakwaan dan keikhlasan pelakunya.
 

“Yang sampai kepada Allah itu bukan dagingnya, tapi ketakwaannya,” ujarnya.
 

Tradisi Qurban Indonesia Dinilai Kaya dan Adaptif
 

Abdul Mu’ti juga menyoroti praktik qurban di Indonesia yang dinilai kaya dengan semangat gotong royong dan kreativitas umat.
 

Mulai dari sistem patungan sapi tujuh orang hingga inovasi pengolahan daging qurban menjadi rendang agar lebih tahan lama dan bisa dikirim ke daerah terpencil.
 

Ia menyebut Muhammadiyah memiliki berbagai ijtihad sosial dalam distribusi daging qurban agar manfaatnya lebih luas dirasakan masyarakat.
 

Singgung Aktivis Barat dan “Spiritual Slaughtering”
 

Dalam tausiahnya, Abdul Mu’ti sempat menyinggung kritik sebagian aktivis hak binatang di Barat terhadap praktik penyembelihan hewan qurban.
 

Namun menurutnya, Islam memiliki konsep “spiritual slaughtering” yang menempatkan penyembelihan bukan sebagai tindakan kekerasan, melainkan ibadah yang sarat nilai spiritual dan kemanusiaan.
 

Qurban Tinggalkan Legacy Kebaikan
 

Menutup tausiahnya, Abdul Mu’ti mengajak umat Islam memahami qurban sebagai jalan meninggalkan legacy atau warisan kebaikan bagi sesama.
 

Menurutnya, semangat pengorbanan para nabi harus diterjemahkan dalam kehidupan sosial yang penuh kepedulian, solidaritas, dan kebermanfaatan bagi kemanusiaan.
 

“Inti dari qurban adalah ketakwaan, keikhlasan, dan bagaimana kita memberi manfaat bagi sesama,” pungkasnya.rajamedia

Komentar: