UMKM Inklusif Jadi Mesin Baru Ekonomi Rakyat di Tangsel
RMBANTEN.COM - Tangsel — Gerakan penguatan ekonomi perempuan makin konkret. Pusat Studi Islam, Perempuan dan Pembangunan (PSIPP) ITB-AD Jakarta berkolaborasi dengan Kementerian UMKM Republik Indonesia menggelar Pelatihan Pengembangan Kapasitas Usaha Mikro Inklusif di Hotel Citra Dream Bintaro, 20–21 April 2026.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa. Ini panggung bagi perempuan untuk bangkit, mandiri, dan naik kelas dalam dunia usaha.
30 Perempuan, Satu Misi: Mandiri Secara Ekonomi
Sebanyak 30 peserta ambil bagian. Mereka berasal dari kelompok ultra mikro binaan ITB-AD, calon wirausaha muda, hingga pelaku UMKM komunitas seperti ‘Aisyiyah dari Depok, Ciputat, dan Pamulang.
Menariknya, peserta juga datang dari luar daerah. Salah satunya Rohani, Ketua Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Kedaton, Lampung—menandakan gaung program ini melampaui batas wilayah.
Pelatihan ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang bertumbuh. Bukan hanya teori, tapi juga penguatan mental usaha dan jejaring.
UMKM Tulang Punggung, Legalitas Jadi Kunci
Asisten Deputi Pengembangan Kapasitas Usaha Mikro Kementerian UMKM, M. Firdaus, menegaskan UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional.
Namun, kata dia, pelaku usaha harus siap menghadapi tuntutan ke depan—terutama soal legalitas.

“Nomor Induk Berusaha (NIB) itu wajib. Setelah itu baru bisa masuk ke BPOM dan sertifikasi halal. Apalagi mulai 17 Oktober 2026, produk UMKM—khususnya di Tangsel—harus sudah bersertifikat halal,” tegasnya.
TABP: Filantropi yang Menggerakkan, Bukan Sekadar Memberi
Kepala PSIPP ITB-AD Jakarta, Yulianti Muthmainah, menjelaskan pelatihan ini bagian dari program berkelanjutan sejak kerja sama dengan Kementerian UMKM pada November 2025.
Pendekatannya tidak berhenti di pelatihan. Ada pendampingan nyata berbasis kebutuhan lapangan.
Salah satu fondasinya adalah konsep Teologi al-Mu’an Berperspektif Perempuan (TABP)—model filantropi Islam yang tidak sekadar memberi bantuan, tapi membangun kemandirian.
Mulai dari pemetaan keluarga duafa, penggalangan dana kreatif oleh mahasiswa, hingga penyaluran bantuan produktif tanpa uang tunai—semuanya dirancang agar tepat guna.
Dari Mesin Cuci hingga Gerobak
Bantuan TABP bukan simbolis. Nyata dan langsung berdampak.
Mulai dari mesin cuci untuk buruh cuci keliling, kulkas untuk pedagang es, hingga gerobak, kompor, dan alat usaha lainnya. Intervensi sederhana, tapi mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan perempuan kepala keluarga.
“Jangan sampai usaha mereka berhenti hanya karena mata kuliah selesai. Mereka harus terus didampingi agar usahanya melesat,” ujar Yulianti.
Bekal Lengkap
Peserta juga dibekali materi praktis—mulai dari pengelolaan keuangan keluarga, penyusunan rencana usaha, hingga pemasaran digital.
Literasi keuangan ditegaskan sebagai fondasi utama kesejahteraan. Sementara digitalisasi menjadi kunci agar UMKM bisa bersaing di era modern.

Turut hadir pula perwakilan Biro UMKM Pemkot Tangerang Selatan yang memberikan panduan teknis soal izin usaha dan proses sertifikasi halal.
Perempuan Bukan Lagi Pelaku, Tapi Penggerak
Pelatihan ini membawa pesan kuat: perempuan bukan sekadar pelaku ekonomi, tapi motor penggerak.
Dengan akses, pendampingan, dan kapasitas yang tepat, perempuan bisa menjadi pilar utama ekonomi keluarga—bahkan masyarakat.
Langkah seperti ini bukan hanya soal UMKM. Ini tentang membangun ekonomi inklusif yang adil—dimulai dari dapur-dapur kecil yang kini siap menembus pasar besar.![]()
Nagara | 3 hari yang lalu
Nagara | 6 hari yang lalu
Pendidikan | 3 hari yang lalu
Pulitik Jero | 5 hari yang lalu
Kaamanan | 1 hari yang lalu
Patandang | 4 hari yang lalu
Hukum | 1 hari yang lalu
Kaamanan | 2 hari yang lalu
Warta Banten | 1 hari yang lalu