Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Andra Soni Buka Kartu ke Mahasiswa, 8 Program Unggulan Dibedah di Forum Cipayung

Laporan: Iyan Sopian
Selasa, 17 Maret 2026 | 17:27 WIB
Gubernur Banten Andra Soni berfoto bersama perwakilan organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Cipayung Plus - Biro Adpimpro Banten -
Gubernur Banten Andra Soni berfoto bersama perwakilan organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Cipayung Plus - Biro Adpimpro Banten -

RMBANTEN.COM - Serang – Gubernur Banten Andra Soni tak menutup diri. Di hadapan organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Cipayung Plus, ia membeberkan arah pembangunan hingga delapan program unggulan yang tengah digeber Pemprov Banten.
 

Dialog berlangsung di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Senin (16/3/2026), dalam suasana terbuka—bahkan penuh kritik dari mahasiswa.
 

Dialog Terbuka: Mahasiswa Sampaikan Keresahan
 

Andra menyebut forum ini bukan sekadar seremoni, tapi ruang diskusi serius antara pemerintah dan mahasiswa.
 

“Ini dialog berbagai hal dengan teman-teman Kelompok Cipayung, termasuk satu tahun kepemimpinan dan keresahan yang mereka sampaikan,” ujar Andra mengutip laman bantenprov.go.id.
 

Ia menegaskan, hasil dialog tidak akan berhenti sebagai catatan, tetapi akan ditindaklanjuti bersama.
 

Ajak OPD Turun, Mahasiswa Dilibatkan
 

Tak hanya berdialog, Andra juga menginstruksikan jajaran perangkat daerah di Pemerintah Provinsi Banten untuk membuka ruang komunikasi dengan mahasiswa.
 

Menurutnya, kelompok muda harus diberi ruang nyata untuk berkontribusi dalam pembangunan.
 

Salah satu contoh datang dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang menyoroti angka putus sekolah dan persoalan ijazah yang tertahan.
 

Sekolah Gratis, Jawaban untuk Ijazah Tertahan
 

Andra menyinggung program Sekolah Gratis sebagai solusi konkret atas persoalan ijazah yang selama ini tertahan di sekolah swasta.
 

Menurutnya, dengan skema ini, praktik penahanan ijazah bisa ditekan bahkan dihilangkan.
 

“Kita juga ajak sekolah mitra berdialog. Mereka punya sistem keuangan, tapi kita cari solusi bersama agar ijazah tidak lagi jadi beban siswa,” jelasnya.
 

Ke depan, program ini akan diperluas hingga menjangkau sekolah berbasis keagamaan atau madrasah.
 

Bang Andra dan RSUD Dikebut
 

Selain pendidikan, Andra juga memaparkan progres program Bangun Jalan Desa Sejahtera (Bang Andra) yang kini banyak berjalan di wilayah selatan seperti Lebak dan Pandeglang.
 

Respons masyarakat disebut tinggi, dengan lebih dari 2.000 proposal pengajuan masuk ke pemerintah.
 

Tak hanya itu, Pemprov juga mempercepat operasional RSUD Muhammad Irsyad Djuwaeli Labuan dan RSUD Uwes Qorny Cilograng yang sebelumnya mangkrak bertahun-tahun.
 

Kejar Ketimpangan Utara–Selatan
 

Menurut Andra, seluruh program itu diarahkan untuk mengurangi kesenjangan antara wilayah utara dan selatan Banten.
 

Ia mengungkapkan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banten saat ini masih ditopang wilayah utara, sementara selatan tertinggal.
 

“PDRB kita sudah mendekati Rp1.000 triliun. Tapi pemerataan harus jadi fokus,” tegasnya.
 

Demo Itu Wajar, Mahasiswa Pengawas Kekuasaan
 

Di akhir dialog, Andra menyampaikan pesan tegas: demonstrasi adalah bagian dari demokrasi. Ia bahkan mengaku tidak anti kritik dan justru menganggap mahasiswa sebagai pengawas kekuasaan.
 

“Kalian adalah pewaris Banten ke depan. Proses berorganisasi itu bentuk kepedulian,” kata Andra.
 

Pesan itu sekaligus menjadi sinyal: pemerintah membuka ruang, mahasiswa diminta tetap kritis—demokrasi harus terus hidup.rajamedia

Komentar: