Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Zayed Award 2027 Jadi Momentum, Filantropi Islam Indonesia Didorong Mendunia

Laporan: Firman
Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:50 WIB
Diskusi Mini Workshop Zayed Award for Human Fraternity di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (26/8/2026). - Foto: Dok Baznas RI -
Diskusi Mini Workshop Zayed Award for Human Fraternity di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (26/8/2026). - Foto: Dok Baznas RI -

RMBANTEN.COM — Jakarta — Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid menilai ajang penghargaan Zayed Award for Human Fraternity 2027 dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat ekosistem zakat, infak, dan sedekah di Indonesia.
 

Menurut Sodik, ajang tersebut sekaligus membuka peluang untuk memperluas pengakuan dunia terhadap kontribusi filantropi Islam Indonesia dalam pembangunan kemanusiaan.
 

Hal tersebut disampaikan Sodik dalam silaturahmi dan diskusi Mini Workshop Zayed Award for Human Fraternity di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
 

Bukan Sekadar Mengejar Penghargaan
 

Pertemuan tersebut membahas peluang dan strategi memperkuat gerakan filantropi Islam Indonesia agar mampu memberikan kontribusi lebih luas di tingkat global.
 

Sodik menyambut baik inisiatif pengusulan Indonesia dalam ajang tersebut. Menurutnya, langkah tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk meraih penghargaan, tetapi juga menjadi kesempatan memperkuat sinergi antarlembaga zakat.


“Kita harus memanfaatkan peluang ini untuk memperkuat ekosistem zakat, infak, dan sedekah di Indonesia. BAZNAS siap mendukung penuh pengusulan ini, baik secara kelembagaan inklusif yang menaungi seluruh gerakan amil zakat maupun melalui pembuktian kontribusi nyata filantropi nasional bagi pembangunan manusia,” kata Sodik.
 

Indonesia Punya Modal Diplomasi Kemanusiaan
 

Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief mengatakan Indonesia memiliki modal kuat untuk menampilkan profil diplomasi kemanusiaan yang relevan di tingkat global.
 

Menurut Hilman, pengalaman Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang meraih Zayed Award for Human Fraternity pada 2023 menjadi salah satu modal penting.
 

Namun, pengalaman tersebut dinilai perlu dikembangkan menjadi kekuatan bersama dengan menampilkan ekosistem filantropi Islam Indonesia secara lebih luas.
 

“Kita memiliki keunggulan pada aspek mainstreaming zakat yang melibatkan sinergi antara regulasi pemerintah dan gerakan masyarakat sipil. Narasi kolaborasi besar ini baik dalam respons bencana, penanggulangan kemiskinan, hingga keberlanjutan menjadi poin diferensiasi yang sangat kuat,” ujar Hilman.
 

Ekosistem Zakat Layak Mendunia
 

Hilman menilai pengalaman Indonesia dalam mengelola filantropi Islam perlu ditampilkan sebagai kekuatan bersama.
 

Menurutnya, capaian NU dan Muhammadiyah pada 2023 bukan menjadi akhir, tetapi dapat menjadi pijakan untuk memperkenalkan kekuatan ekosistem perzakatan Indonesia secara lebih luas.
 

“Indonesia harus membuktikan bahwa selain dua ormas tersebut, ekosistem perzakatannya juga sangat layak mendapat pengakuan dunia,” ucapnya.
 

Dengan demikian, pengusulan Indonesia dalam Zayed Award 2027 diharapkan tidak hanya berbicara mengenai satu organisasi, tetapi menggambarkan kekuatan kolektif gerakan filantropi Islam di Tanah Air.
 

Kolaborasi Jadi Kekuatan Utama
 

Ketua Umum Forum Zakat (FOZ) Wildhan Dewayana menyoroti kemampuan lembaga-lembaga zakat Indonesia dalam membangun kolaborasi untuk menangani berbagai persoalan kemanusiaan.
 

Menurut Wildhan, kekuatan tersebut terlihat terutama ketika terjadi bencana. Lembaga-lembaga filantropi mampu bergerak bersama meskipun berada dalam ekosistem dan latar belakang organisasi yang beragam.
 

“Kunci utamanya terletak pada pembeda yang kuat dan khas Indonesia. Kita punya keunggulan modal kolaborasi di tengah keberagaman lembaga, resiliensi dan militansi amil saat menangani bencana di Ring of Fire, program pemberdayaan kemiskinan yang berdampak luas, serta transformasi tata kelola dalam mengoptimalkan potensi zakat nasional,” ujar Wildhan.
 

Satukan Narasi Filantropi Indonesia
 

Wildhan menambahkan, berbagai pengalaman tersebut perlu dirangkai menjadi satu narasi bersama yang mampu menunjukkan kontribusi nyata filantropi Islam Indonesia.
 

Kolaborasi, respons kemanusiaan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan tata kelola zakat dinilai menjadi modal penting untuk memperkenalkan Indonesia di panggung global.
 

Pertemuan yang melibatkan BAZNAS, PP Muhammadiyah, POROZ, dan FOZ tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sinergi antarlembaga dalam mempersiapkan pengusulan Indonesia.
 

Dari Zakat untuk Dunia
 

Zayed Award for Human Fraternity 2027 dipandang sebagai peluang untuk membawa pengalaman Indonesia dalam mengelola zakat dan filantropi ke level internasional.
 

Jika kekuatan berbagai lembaga dapat disatukan dalam satu narasi, Indonesia tidak hanya tampil sebagai negara dengan potensi zakat besar, tetapi juga sebagai contoh praktik filantropi Islam yang mampu menjawab persoalan kemanusiaan secara kolaboratif.
 

Zakat bukan sekadar ibadah sosial. Jika dikelola dengan kolaborasi dan tata kelola yang kuat, filantropi Islam Indonesia berpotensi menjadi kekuatan kemanusiaan yang diakui dunia.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: