Puasa untuk Pemimpin Kaum Tertindas
RMBANTENCOM.COM - Muhammad SAW adalah seorang yatim, gembala kambing di pegunungan Makkah. Para nabi pendahulu Muhammad SAW yang dikirim Tuhan untuk hamba-hamba-Nya pun semua dipilih dari para penggembala. Dan Muhammad menjadi yang terakhir dari silsilah itu.
Mengapa Tuhan memilih para penggembala yang hidupnya susah menjadi nabi-nabi-Nya? Cobalah lihat para sahabat-sahabat nabi, para pejuang Islam sejati, yang beberapa orang dari mereka menjadi pemimpin kelompoknya.
Bilal misalnya, seorang budak, anak seorang budak dari Abyssinia; Salman Al Farisi, gelandangan dari Persia yang diciduk menjadi budak; Abu Dzar, manusia gurun yang selalu dirundung kemiskinan, dan Salim, seorang budak istri Khuzaifah, seorang hitam yang terasing dan diremehkan.
Istana Muhammad tidak lebih dari tumpukan tanah liat. Ia terlihat mengangkat batu-batuan ketika umatnya bekerja membangun masjid, membangun dari pelepah-pelepah kurma, kayu-kayu untuk istananya. Puasa mengajarkan kita mengolah "rasa" kesusahan, minimal membangun empati kepada mereka yang tertindas seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Muhammad dan para sahabat pemimpin Islam sejati lahir dari kesusahan-kesusahan yang silih berganti menghampiri mereka. Namun, kesusahan tersebut mengajarkan mereka akan nilai-nilai keyakinanan akan kekuatan Maha Penentu, mengajarkan kepada mereka bahwa penindasan hanya akan melahirkan perlawanan.
Muhammad SAW dan para sahabat seperti Bilal, Salman, Ali, Umar, Abu Bakar dan seluruh umat Islam pada saat itu lahir dan besar dari penindasan-penindasan tanpa akhir yang dilakukan oleh orang-orang berkuasa ketika itu.
Yang karena banyaknya kaum tertindas ketika itu, dengan tawaran liberasi (pembebasan) dari Islam yang dibawa Muhammad, maka lahirlah pemimpin-pemimpin kaum tertindas yang berhasil menguasai hampir seluruh bagian jazirah Arab dan pengakuan seluruh dunia akan kepemimpinan mereka.
Saudaraku, Muhammad lahir menjadi pemimpin sejati karena keberpihakannya kepada para kaum tertindas. Muhammad memberikan contoh dan kenyamanan hidup bagi mereka sebagai kaum yang merdeka tanpa ada kekangan dari negara yang dipimpin Nabi SAW.
Saudaraku, ketika pemimpin dapat menyelami hati yang paling dalam dari rakyatnya dan merasakan penderitaan, kesusahan, keluhan mereka, maka pemimpin sejati seperti Muhammad SAW akan lahir kembali dengan mengangkat harkat dan martabat kaum tertindas.
Bagi saya menafsirkan bahwa puasa adalah praktik yang juga disediakan oleh Allah SWT agar kita, umat Islam yang beriman bisa merasakan dan menemukenali makna puasa sebagai jembatan menuju memahami dan merasakan ketertindasan mereka yang dijerat oleh kesulitan hidup.
Sehingga melahirkan empati dan simpati, sehingga melahirkan gerak yang membebaskan mereka yang tertindas, mereka yang mustadhafin dari kesulitan ekonomi dan kebodohan. Fastabiqul Khoirot.
Catatan: Tulisan Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak ini diambil dari salah satu bukunya yang berjudul “Menggembirakan Puasa” (2017).![]()
Patandang | 13 jam yang lalu
Parlemen | 5 hari yang lalu
Hukum | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu
Mancanagara | 1 hari yang lalu
Patandang | 3 hari yang lalu
Mancanagara | 13 jam yang lalu
Patandang | 3 hari yang lalu
Ékobis | 5 hari yang lalu

