Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

REFLEKSI RAMADHAN

Akhlak yang Anggun

Oleh: Dahnil Anzar Simanjuntak
Rabu, 04 Maret 2026 | 08:19 WIB
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak

RMBANTEN.COM - Nabi Muhammad SAW diutus Allah SWT ke dalam sejarah dunia tiada lain untuk memperbaiki etika-moral atau akhlak manusia (makaarima al-akhlaq) sehingga dapat memberikan kedamaian dan kebaikan hidup bagi seluruh umat manusia (rahmatan lil 'aalamiin).


Nabi Muhammad SAW adalah contoh kesempurnaan akhlak yang anggun itu sendiri, sebelum beliau menyampaikan risalah kebenaran agama Islam. Kesempurnaan akhlak yang membantu Nabi untuk melakukan risalah kenabiannya menyiarkan agama Allah SWT, kesempurnaan akhlak yang berpihak kepada mereka yang tertindas, mereka yang miskin dan mereka yang didzalimi. Menjadikan agama Islam solusi dan pembebasan bagi umat saat itu, dan sampai kini.


Mengutip Mulkhan (2010), suatu saat Nabi Khidhir menguji Nabi Musa dalam sebuah tanya-jawab. Khidhir bertanya kepada Musa tentang amalan yang pahalanya akan dihadiahkan langsung oleh Allah SWT. Jawaban Musa yang diberikan dalam ulasan panjang lebar dengan penuh percaya diri, ternyata tidak satu pun yang dibenarkan Khidhir.


Ketika Musa mulai tampak kehabisan jawaban, Khidhir lalu memberikan penjelasan, bahwa amalan yang pahalanya langsung dihadiahkan oleh Allah SWT itu adalah memberikan makan orang yang kelaparan, memberikan minum yang kehausan, memberikan pakaian mereka yang telanjang, dan membela kaum tertindas tanpa catatatan apakah mereka memeluk agama yang sama dengan agama yang dipeluk Nabi Musa.


Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri untuk menjadi muslim yang menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak dalam kehidupan. Etika kejujuran misalnya, menjadi bagian yang paling penting diajarkan selama melaksanakan ibadah puasa. Kita bisa menipu orang lain dengan menyatakan diri kita berpuasa, tetapi kita tidak bisa menipu Allah SWT. Etika kejujuran ini yang banyak hilang dalam kehidupan kita hari ini.


Di bagian lain, akhlak berempati dan simpati juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari ibadah puasa melalui menahan konsumsi yang berlebihan dan bersedekah lebih banyak serta membayar zakat.


Keanggunan akhlak pribadi bersenyawa dengan akhlak empati dan simpati akan membentuk kumpulan pribadi-pribadi muslim yang mampu mengukir indah peradaban. Kita umat Islam membutuhkan fokus memperbaiki diri menjadi pribadi-pribadi yang memiliki persenyawaan akhlak pribadi yang anggun seperti jujur dengan akhlak kepedulian terhadap sesama. Karena empati kemanusiaan dan pemihakan tulus bagi kaum yang fakir, miskin dan tertindas itulah yang dibutuhkan bagi kehidupan negeri ini dan dunia global.


Ketika persenyawaan keanggunan akhlak pribadi dengan akhlak empati dan simpati absen dalam kehidupan kita, maka bencana peradaban akan kita temukan dalam setiap kehidupan kita berbangsa. Tengok saja, kita banyak temukan elite birokrasi, politisi, pemimpin agama, bahkan masyarakat biasa, cenderung memikirkan diri sendiri, memperkaya diri sendiri melalui jalan mencuri hak orang banyak (korupsi). Kejujuran menjadi barang langka bahkan terkadang dicemooh karena aneh. Pastilah ada yang salah dengan konstruksi peradaban seperti ini, peradaban dimana akhlak yang anggun langka.


Kita selalu berdoa semoga pemimpin-pemimpin kita, masyarakatnya, bisa menggunakan momentum Ramadhan ini untuk memperbaiki diri menjadi pribadi yang menjunjung tinggi kesempurnaan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa memulai dari diri dan keluarga terdekat untuk menjadi pribadi yang anggun akhlaknya.


Seorang muslim yang sukses ibadah puasanya adalah muslim yang akhlaknya menjadi lebih anggun ketika Ramadhan usai. Tidak sekadar menjadikan Ramadhan sebagai sarana hipokrasi (kemunafikan) bagi kehidupan sosial, tetapi justru memanfaatkan Ramadhan sebagai sarana memperbaiki diri, menuju muslim yang memiliki keanggunan akhlak.


Catatan: Tulisan Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak ini diambil dari salah satu bukunya yang berjudul “Menggembirakan Puasa” (2017).rajamedia

Komentar:
BERITA LAINNYA
Mendikdasmen RI, Abdul Mu'ti
Puasa Communal Piety
Selasa, 03 Maret 2026
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak
Puasa dan Moral Kedermawanan
Selasa, 03 Maret 2026
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak - ist
Puasa untuk Pemimpin Kaum Tertindas
Minggu, 01 Maret 2026
Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ti
Makan Sahur
Minggu, 01 Maret 2026
Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ti
Buka Bersama
Sabtu, 28 Februari 2026
Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ti
Puasa Rojali-Rohana
Kamis, 26 Februari 2026