Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Cerita Prabowo, Pernah Dituduh Diktator hingga Mau Kudeta

Laporan: Raja Media Network
Kamis, 08 Januari 2026 | 12:36 WIB
Presiden Prabowo Subianto - TangkapanLayar Youtube Setpres -
Presiden Prabowo Subianto - TangkapanLayar Youtube Setpres -

RMBANTEN.COM - Karawang, Polkam - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa dalam perjalanan panjang memperjuangkan kepentingan bangsa, dirinya pernah dituduh sebagai diktator, haus kekuasaan, hingga hendak melakukan kudeta. 
 

Tuduhan itu, menurut Presiden, muncul justru ketika ia bersikap kritis terhadap ketidakadilan yang dialami rakyat Indonesia.
 

“Saya bisa merasakan keadilan dan tidak adanya keadilan, karena itu saya berjuang terus. Saya dituduh mau jadi diktator, saya dituduh mau berkuasa, saya dituduh mau kudeta,” kata Presiden saat menghadiri panen raya sekaligus pengumuman swasembada beras di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).
 

Keprihatinan atas Nasib Rakyat
 

Presiden menuturkan, keprihatinannya berawal dari kenyataan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang kaya sumber daya alam, namun hingga kini belum sepenuhnya mampu memakmurkan seluruh rakyatnya. Ia menilai, banyak kekayaan nasional yang tidak dikelola dan dinikmati secara adil.
 

Kondisi itulah yang mendorongnya terus bersuara dan berjuang, meski harus menghadapi berbagai tuduhan dan resistensi.
 

Melihat Ketimpangan Sejak Lama
 

Sebelum menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, Prabowo mengaku telah lama bergelut dalam perjuangan tersebut melalui berbagai peran, termasuk saat menjabat Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Dari posisi itu, ia melihat langsung adanya ketimpangan dalam pengelolaan kekayaan negara.
 

“Dari dulu saya mengerti hal ini, tapi saya tidak mengerti seberapa banyak kebocoran itu. Saya melihat ada kejanggalan di bangsa kita, saya melihat sudah berapa tahun negara yang begini kaya rakyatnya masih banyak yang miskin,” ujar Presiden.
 

Tak Masuk Akal Bergantung Impor
 

Kepala Negara menilai, kondisi Indonesia yang masih bergantung pada impor pangan adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Padahal, Indonesia dianugerahi tanah yang subur dan kekayaan alam yang melimpah oleh Tuhan Yang Maha Esa.
 

“Bagaimana bisa negara yang begini besar, yang diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa bumi yang luas, bumi yang kaya, tanah yang subur, tetapi kita tergantung bangsa lain untuk pangan kita,” tegas Presiden.
 

Bukan Profesor, Tapi Punya Nurani
 

Menutup pernyataannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa dirinya mungkin bukan sosok akademisi dengan gelar tinggi. Namun ia meyakini memiliki nurani dan akal sehat untuk membedakan mana kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat dan mana yang tidak.
 

“Saya memang bukan orang pintar. Saya tidak punya gelar profesor, tapi saya bisa melihat yang benar dan yang tidak benar,” tandas Presiden.
 

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa perjuangan Presiden Prabowo berangkat dari rasa keadilan dan komitmen untuk mengubah ketimpangan, bukan dari ambisi kekuasaan seperti yang kerap dituduhkan.rajamedia

Komentar: