Menteri Maman Gebrak APEC! UMKM Digenjot, 10 Juta Wirausaha Dibidik
RMBANTEN.COM — Guangzhou — Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menegaskan komitmen Indonesia memperkuat ekosistem kewirausahaan sekaligus memperluas akses pembiayaan yang inklusif bagi UMKM.
Komitmen tersebut disampaikan Maman dalam Pertemuan Tingkat Menteri UMKM APEC (32nd APEC SME Ministerial Meeting) di Guangzhou, Cina, Jumat (4/9/2026).
Menurut Maman, kehadiran Indonesia dalam forum APEC bukan sekadar bagian dari kerja sama kawasan. Forum tersebut juga menjadi ruang bagi Indonesia untuk berbagi pengalaman dan praktik kebijakan yang dapat menjadi pembelajaran bersama negara-negara anggota.
Pembiayaan Harus Bikin UMKM Naik Kelas
Maman menegaskan keberhasilan kebijakan pembiayaan tidak cukup diukur dari besarnya dana yang disalurkan.
Dampak pembiayaan terhadap pertumbuhan usaha, ketahanan UMKM, hingga kemampuan pelaku usaha untuk naik kelas menjadi ukuran yang jauh lebih penting.

“Keberhasilan kebijakan pembiayaan tidak hanya diukur dari seberapa besar pembiayaan yang disalurkan, tetapi juga dari seberapa efektif pembiayaan tersebut mampu membuat UMKM tumbuh, semakin resilien, dan naik ke tingkat pengembangan yang lebih tinggi,” kata Maman.
KUR Tembus Rp286 Triliun
Salah satu instrumen pembiayaan yang terus diperkuat pemerintah adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Pada 2025, penyaluran KUR mencapai Rp286 triliun kepada sekitar 4,5 juta UMKM. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, porsi penyaluran KUR ke sektor produktif mencapai 60,5 persen, antara lain untuk sektor pertanian, perikanan, dan manufaktur.
“Ini mencerminkan komitmen kami untuk mengarahkan pembiayaan kepada kegiatan produktif yang mampu menciptakan nilai ekonomi lebih besar dan membuka lapangan kerja berkualitas,” ujarnya.
Penguatan tersebut berlanjut pada 2026. Hingga 24 Agustus 2026, penyaluran KUR telah mencapai Rp201 triliun kepada 3,1 juta debitur.
Menariknya, 51 persen dari penyaluran tersebut menyasar wirausaha perempuan.
Mekaar Ditargetkan Lebih Murah
Pemerintah juga melakukan transformasi terhadap skema Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) untuk membuat pembiayaan bagi perempuan semakin terjangkau.
Maman mengatakan, di bawah arahan Presiden, tingkat pembiayaan Mekaar ditargetkan turun signifikan.
“Di bawah arahan Presiden, skema pembiayaan Mekaar saat ini sedang ditransformasikan, dengan tingkat pembiayaan yang ditargetkan turun dari sekitar 20-25 persen menjadi 8 persen mulai tahun ini,” kata Maman.
Langkah tersebut diharapkan memperluas akses pembiayaan bagi perempuan sekaligus memperkuat peran mereka dalam aktivitas kewirausahaan dan ekonomi keluarga.
Target 10 Juta Orang Berusaha dan Bekerja
Di sisi kewirausahaan, pemerintah memperkuat PRO-KESRA Produktif. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menciptakan wirausaha baru, tetapi juga meningkatkan kapasitas pelaku usaha dan memperkuat ekosistem bisnis.

“Program tersebut diarahkan untuk mendukung target 10 juta orang berusaha dan bekerja melalui layanan yang terintegrasi lintas kementerian dan lembaga,” ujar Maman.
Menurutnya, penciptaan wirausaha harus dibarengi dengan peningkatan kemampuan agar pelaku usaha mampu bertahan, berkembang, dan menciptakan lapangan kerja.
Rasio Kewirausahaan Dibidik 8 Persen pada 2045
Indonesia juga membagikan praktik baik dalam membangun ekosistem kewirausahaan melalui penguatan kebijakan dan program inkubasi usaha.
Penguatan ekosistem tersebut didukung Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional.
Perpres tersebut menjadi acuan kebijakan lintas kementerian dan lembaga sekaligus menetapkan target rasio kewirausahaan Indonesia mencapai 8 persen pada 2045.
Target itu menunjukkan arah kebijakan pemerintah yang tidak hanya mengejar bertambahnya jumlah pelaku usaha, tetapi juga mendorong lahirnya wirausaha yang memiliki kapasitas, mampu naik kelas, dan membangun bisnis berkelanjutan.
SAPA UMKM Satukan Ekosistem Usaha
Untuk memperkuat integrasi program, pemerintah mengembangkan SAPA UMKM, platform yang menghubungkan pendataan, akses terhadap program, peningkatan kapasitas, hingga pemantauan penerima manfaat secara terpadu.
Dengan pendekatan tersebut, pelaku UMKM diharapkan tidak berjalan sendiri dalam mengembangkan usahanya, mulai dari mendapatkan pembiayaan, meningkatkan kapasitas, hingga memperluas akses pasar.
“Melalui berbagai inisiatif tersebut, Indonesia tidak hanya memperkuat UMKM di tingkat nasional, tetapi juga berkontribusi dalam agenda APEC untuk membangun UMKM yang lebih inklusif, inovatif, digital, tangguh, serta terhubung dengan pasar regional maupun global,” pungkas Maman.
RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Parlemen | 5 hari yang lalu
Info haji | 1 hari yang lalu
Pulitik Jero | 1 minggu yang lalu
Warta Banten | 6 hari yang lalu
Warta Banten | 5 hari yang lalu
Warta Banten | 4 hari yang lalu
Hukum | 6 hari yang lalu
Parlemen | 6 hari yang lalu
Patandang | 2 hari yang lalu