Menag: Indonesia Siap Jadi Episentrum Baru Peradaban Islam Dunia
RMBANTEN.COM — Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar meyakini Indonesia memiliki peluang besar menjadi episentrum baru peradaban Islam modern dunia. Optimisme itu lahir dari kombinasi kekuatan ekonomi nasional, stabilitas politik, karakter Islam moderat, hingga bonus demografi yang dinilai menjadi modal strategis di tengah ketidakpastian global.
Pernyataan tersebut disampaikan Menag usai membuka Seminar Nasional Forum Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (IKA PTKIN) di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, pusat perkembangan peradaban Islam ke depan tidak lagi harus berada di kawasan Timur Tengah.
"Ke depan banyak yang membayangkan Indonesia akan menjadi kekuatan baru lahirnya peradaban dunia Islam. Pemikiran besar hanya lahir dari negara yang tenang, aman, dan memiliki stabilitas ekonomi yang kuat," ujar Menag.
Ekonomi Stabil Jadi Modal Besar
Menag menjelaskan, salah satu faktor utama yang membuat Indonesia diperhitungkan adalah kondisi ekonomi yang relatif stabil.
Di tengah gejolak geopolitik dan konflik berkepanjangan di berbagai kawasan dunia, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen dengan tingkat inflasi yang tetap terkendali.
Kondisi tersebut dinilai menjadi fondasi penting bagi lahirnya inovasi, ilmu pengetahuan, dan peradaban baru.
Islam Moderat Jadi Kekuatan Indonesia
Selain faktor ekonomi, Menag menilai karakter umat Islam Indonesia yang moderat menjadi keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara.
Ditambah dengan penghormatan terhadap hak asasi manusia, stabilitas politik nasional, serta keberhasilan memanfaatkan bonus demografi, Indonesia dinilai memiliki modal lengkap untuk memimpin peradaban Islam modern.
Menurutnya, suasana yang damai akan melahirkan pemikiran yang jernih dan inovatif.
Alumni PTKIN Harus Melek Geopolitik
Dalam pidatonya sebagai keynote speaker, Menag mengingatkan alumni PTKIN agar tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman klasik.
Ia mendorong lahirnya lulusan yang memiliki wawasan geopolitik, memahami perkembangan sains dan teknologi, serta mampu membaca perubahan dunia.
"Kita jangan hanya mahir membaca kitab kuning, tetapi juga 'kitab putih'. Alumni PTKIN harus memahami situasi regional, nasional, hingga perkembangan global," tegasnya.
Tak Cukup Kuasai Kitab Kuning
Menag menilai transformasi pendidikan Islam harus menghasilkan generasi yang mampu memadukan nilai-nilai keagamaan dengan ilmu pengetahuan modern.
Menurutnya, tradisi intelektual Islam pada masa keemasan lahir karena mampu menyatukan semangat iqra' dengan nilai ketuhanan.
Karena itu, perguruan tinggi keagamaan didorong melahirkan lebih banyak ilmuwan, peneliti, inovator, dan penemu teknologi.
Indonesia Butuh Seribu Habibie
Menutup pemaparannya, Menag melontarkan pesan yang mengundang tepuk tangan peserta seminar.
Ia mengatakan, jika Indonesia benar-benar ingin menjadi pusat peradaban Islam modern dunia, maka bangsa ini harus melahirkan lebih banyak ilmuwan sekaliber BJ Habibie.
"Kalau Indonesia ingin menjadi episentrum peradaban dunia modern, tidak ada cara lain. Kita harus melahirkan seribu BJ Habibie. Selama ini kita terlalu banyak melahirkan ahli bismillahirrahmanirrahim, padahal pada masa keemasan Islam lahir generasi iqra' yang menguasai ilmu pengetahuan," tegas Menag.
Menurut Nasaruddin Umar, perpaduan iman, ilmu pengetahuan, dan inovasi menjadi kunci agar Indonesia mampu memimpin peradaban Islam pada masa depan.
RAJA MEDIA — Cepat, Tajam, Terpercaya.![]()
Warta Banten | 6 hari yang lalu
Ékobis | 3 hari yang lalu
Hukum | 5 hari yang lalu
Patandang | 3 hari yang lalu
Kaséhatan | 5 hari yang lalu
Hukum | 5 hari yang lalu
Hukum | 3 hari yang lalu
Pulitik Jero | 4 hari yang lalu
Parlemen | 5 hari yang lalu