Mata Air Keteladanan dari Kampung Air Mata Kupang
RMBANTEN.COM - PADA Jumat, 5 Juni 2026, di sela-sela kegiatan Forum Pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Negeri se-Indonesia di Kupang, Nusa Tenggara Timur, saya berkesempatan menunaikan Salat Jumat di Masjid Agung Al-Baitul Qadim. Masjid yang dikenal sebagai masjid tertua di Pulau Timor itu berdiri sederhana namun sarat makna sejarah. Di tengah arsitekturnya yang bersahaja, saya merasakan denyut panjang perjalanan dakwah, perjuangan, dan persaudaraan yang telah melintasi generasi. Al-Baitul Qadim bukan sekadar tempat ibadah, melainkan penanda hidup perjalanan umat Islam di bumi Timor.
Pada agenda city tour yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan, saya bersama Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr. Malkisedek Taneo, M.Si., berkesempatan mengunjungi kawasan bersejarah di sekitar masjid. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah keberadaan sebuah perkampungan muslim bernama Kampung Air Mata. Nama itu terdengar unik sekaligus mengundang rasa penasaran. Semakin jauh menelusuri kisahnya, semakin tampak bahwa Kampung Air Mata bukan sekadar nama sebuah kampung, melainkan simpul sejarah yang menyimpan pelajaran berharga tentang perjuangan, toleransi, dan persaudaraan lintas iman.

Sebagai warga Banten yang saat ini mengemban amanah sebagai Dekan FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, kunjungan tersebut menghadirkan kesan yang sangat mendalam. Saya tidak hanya menemukan jejak sejarah Islam di Pulau Timor, tetapi juga menemukan jejak panjang diaspora dan perjuangan masyarakat Banten yang berkelindan dengan sejarah setempat. Ada ikatan emosional yang sulit diabaikan ketika mengetahui bahwa para ulama dan pejuang asal Banten pernah menjadi bagian dari perjalanan Kampung Air Mata dan Masjid Agung Al-Baitul Qadim. Dalam pengertian itulah saya merasakan bahwa terdapat "DNA Banten" yang ikut mengalir dalam denyut kehidupan masyarakat Muslim Timor hingga hari ini.
Namun yang lebih menarik, jejak Banten yang hadir di Kampung Air Mata bukanlah jejak dominasi, melainkan jejak perjuangan, dakwah, dan keterbukaan. Para ulama dan pejuang yang datang sebagai korban pengasingan kolonial diterima oleh masyarakat setempat yang berbeda latar belakang agama dan budaya. Pertemuan antara semangat perjuangan para pendatang dan keterbukaan masyarakat Timor itulah yang kemudian melahirkan tradisi toleransi yang tetap hidup hingga kini. Karena itu, ketika menyaksikan kehidupan masyarakat di Kampung Air Mata, saya seolah melihat bagaimana nilai-nilai Banten dan Timor bertemu dalam satu simpul kemanusiaan yang sama: menghormati perbedaan, melawan kezaliman, dan merawat persaudaraan.
Sejarah Kampung Air Mata tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Islam di Kupang dan keberadaan Masjid Agung Al-Baitul Qadim. Masjid yang namanya berarti "rumah pertama" ini telah menjadi pusat kehidupan umat Islam selama berabad-abad. Bagi masyarakat Muslim Timor, Al-Baitul Qadim bukan hanya bangunan bersejarah, melainkan tempat bernaung, belajar, beribadah, dan membangun peradaban. Dari masjid inilah nilai-nilai keagamaan, pendidikan, dan kehidupan sosial bertumbuh di tengah masyarakat yang majemuk.
Dalam perjalanan sejarahnya, Kampung Air Mata juga menjadi tempat berlabuh para ulama dan pejuang yang mengalami pengasingan akibat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Salah satu tokoh yang paling dikenal adalah Kiai Haji Mas Mohammad Arsyad Thawil al-Bantani, ulama pejuang asal Banten yang diasingkan pasca Perang Geger Cilegon tahun 1888. Kehadiran beliau di Kupang menambah energi baru bagi perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat Muslim setempat. Meski bukan pendiri Masjid Agung Al-Baitul Qadim, Kiai Arsyad berperan penting dalam mengembangkan fungsi masjid sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan penguatan umat.
Pengasingan tidak memadamkan semangat perjuangan para ulama dan pejuang tersebut. Mereka datang ke Timor sebagai korban kebijakan kolonial yang berusaha membungkam suara perlawanan. Namun, di tanah yang jauh dari kampung halaman, mereka tetap mengajar, berdakwah, membangun jaringan sosial, dan menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat. Dari keterbatasan lahir ketangguhan; dari pengasingan lahir pengabdian. Mereka membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata, tetapi juga melalui pendidikan, keteladanan, dan pembinaan masyarakat.
Tradisi lisan masyarakat setempat mengisahkan bahwa komunitas Muslim di kawasan ini pernah mengalami berbagai kesulitan sebelum akhirnya berkembang secara mantap. Pengalaman berpindah tempat dan menghadapi tekanan kolonial meninggalkan jejak emosional yang kemudian melekat pada nama "Air Mata". Namun seiring perjalanan waktu, nama tersebut memperoleh makna yang lebih dalam. Air mata tidak lagi dipahami sebagai simbol kesedihan semata, melainkan saksi perjuangan yang melahirkan harapan dan kehidupan baru.
Titik penting dalam sejarah Kampung Air Mata adalah keterbukaan masyarakat dan para pemimpin lokal terhadap kehadiran komunitas Muslim. Dalam berbagai tradisi yang berkembang, Raja Taebenu dikenal memberikan ruang bagi komunitas Muslim untuk menetap dan berkembang. Sikap tersebut menunjukkan bahwa hubungan antarumat beragama di Timor dibangun di atas fondasi penghormatan dan kemanusiaan. Perbedaan keyakinan tidak menghalangi lahirnya kerja sama dan persaudaraan.
Di sinilah Kampung Air Mata memperlihatkan wajah toleransi yang sesungguhnya. Toleransi tidak berhenti pada sikap membiarkan pihak lain hidup berdampingan, tetapi diwujudkan dalam kesediaan memberikan ruang bagi orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Komunitas Muslim yang jumlahnya relatif kecil dapat membangun kehidupan keagamaan, pendidikan, dan sosial karena memperoleh penerimaan dari lingkungan sekitarnya. Kehadiran Masjid Agung Al-Baitul Qadim yang tetap berdiri hingga kini menjadi bukti bahwa toleransi dapat melahirkan warisan peradaban yang bertahan lintas generasi.
Lebih jauh lagi, keterbukaan tersebut memungkinkan nilai-nilai perjuangan melawan kezaliman kolonial diterima melampaui batas-batas identitas agama. Para ulama dan pejuang yang datang ke Timor membawa semangat jihad dalam makna yang luhur, yakni membela kebenaran, menolak penindasan, dan menjaga martabat manusia. Mereka tidak datang untuk menebarkan permusuhan, melainkan untuk mempertahankan prinsip-prinsip keadilan yang diyakini. Karena itu, perjuangan mereka menemukan simpati di kalangan masyarakat yang berbeda latar belakang dan keyakinan.
Yang diterima oleh masyarakat Timor bukan semata identitas keislaman para pejuang tersebut, melainkan nilai-nilai universal yang mereka perjuangkan. Keberanian menghadapi ketidakadilan, keteguhan mempertahankan kehormatan, serta kesediaan berkorban demi kemaslahatan bersama merupakan nilai yang dapat dipahami dan dihormati oleh siapa pun. Dalam konteks itulah, api jihad melawan kezaliman kolonial memperoleh ruang penerimaan dan dukungan lintas iman. Semangat keadilan ternyata mampu menjembatani perbedaan dan menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam penghormatan terhadap martabat manusia.
Kampung Air Mata mengajarkan bahwa perjuangan yang berlandaskan keadilan memiliki daya jangkau yang melampaui sekat-sekat identitas. Ketika manusia dipertemukan oleh cita-cita yang sama untuk menolak penindasan dan menjunjung martabat kemanusiaan, perbedaan agama tidak menjadi penghalang. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan yang memperkaya solidaritas sosial. Sejarah menunjukkan bahwa keadilan sering kali menjadi bahasa universal yang dipahami oleh semua orang.
Pelajaran ini sangat relevan bagi Indonesia masa kini. Di tengah masyarakat yang beragam, persatuan tidak selalu lahir karena kesamaan identitas, melainkan karena kesamaan komitmen terhadap nilai-nilai luhur. Kampung Air Mata memberikan teladan bahwa kerukunan sejati dibangun melalui penghormatan, kepercayaan, dan keberanian untuk berdiri bersama menghadapi ketidakadilan. Warisan semacam ini jauh lebih berharga daripada sekadar slogan tentang toleransi.
Kini, Masjid Agung Al-Baitul Qadim tetap berdiri kokoh sebagai penanda perjalanan sejarah tersebut. Ia bukan hanya bangunan tua yang menyimpan kenangan masa lalu, melainkan simbol hidup tentang bagaimana dakwah, perjuangan, dan persaudaraan dapat berjalan beriringan. Setiap generasi yang datang dapat belajar bahwa peradaban tidak dibangun oleh kebencian, melainkan oleh keteguhan memegang prinsip dan keluasan hati menerima perbedaan.
Pada akhirnya, Kampung Air Mata adalah mata air keteladanan yang terus mengalir hingga hari ini. Dari kampung kecil di Kupang ini, kita belajar bahwa perjuangan melawan kezaliman dapat menyatukan manusia lintas iman. Kita belajar bahwa api jihad yang berorientasi pada keadilan dan kemanusiaan tidak memecah masyarakat, tetapi justru menemukan sahabat-sahabat perjuangan di berbagai kalangan. Dan kita belajar bahwa toleransi terbaik bukan sekadar hidup berdampingan, melainkan keberanian membuka ruang bagi kebaikan untuk tumbuh bersama demi kemaslahatan seluruh umat manusia. Wallahu a'lam.
Penulis: Dekan FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA)![]()
Pulitik Jero 6 hari yang lalu
Nagara | 6 hari yang lalu
Hukum | 4 hari yang lalu
Kaamanan | 6 hari yang lalu
Warta Banten | 6 hari yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu
Hukum | 3 hari yang lalu
Warta Banten | 2 hari yang lalu
Gaya Hirup | 4 hari yang lalu
Nagara | 5 hari yang lalu