Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

IKALUIN dan PTKIN: Antara Kesamaan Peran dan Potensi Mubazir

Oleh: H. Dede Zaki Mubarok
Sabtu, 25 April 2026 | 17:59 WIB
---
---

RMBANTEN.COM - ADA satu pertanyaan sederhana, tapi jarang diajukan secara jujur: untuk apa ada dua wadah alumni yang bergerak di ruang yang sama?
 

IKALUIN dan IKA PTKIN—dua nama, satu ekosistem, satu basis alumni: perguruan tinggi keagamaan Islam negeri. Secara historis dan emosional, keduanya punya legitimasi. Tapi dalam praktik, batasnya sering kabur. Di situlah problem mulai terasa: tumpang tindih, duplikasi program, bahkan potensi mubazir.
 

Satu Akar, Dua Wadah
 

IKALUIN lahir dari identitas kampus spesifik: UIN. Sementara IKA PTKIN bergerak lebih luas, mencakup seluruh alumni PTKIN—UIN, IAIN, dan STAIN.
 

Artinya, secara keanggotaan, banyak orang yang sama berada di dua rumah sekaligus. Satu orang, dua kartu alumni, dua forum, dua struktur.
 

Di atas kertas, ini tampak memperluas jaringan. Tapi di lapangan, sering kali justru memecah energi.
 

Duplikasi Agenda, Minim Sinergi
 

Mari lihat kegiatan yang sering muncul:
 

1. Seminar keislaman 

2. Penguatan moderasi beragama 

3. Konsolidasi alumni 

4. Advokasi kebijakan umat 
 

IKALUIN mengerjakan. IKA PTKIN juga akan mengerjakan. Tema mirip, narasumber kadang sama, bahkan peserta yang itu-itu juga.
 

Pertanyaannya: apakah ini memperkuat, atau justru mengulang?
 

Jika dua organisasi menjalankan agenda identik tanpa koordinasi, maka yang terjadi bukan akselerasi, melainkan repetisi. Energi besar, hasilnya tidak berlipat.
 

Biaya Sosial dan Organisasi
 

1. Setiap organisasi butuh:

2. Struktur pengurus 

3. Rapat koordinasi 

4. Kegiatan seremonial 

5. Anggaran operasional 
 

Ketika dua wadah berjalan paralel dengan fungsi yang mirip, biaya sosialnya ikut berlipat. Waktu, tenaga, bahkan dana—semua terserap ke dalam rutinitas organisasi yang sebenarnya bisa disederhanakan.
 

Di titik ini, istilah “mubazir” mulai relevan. Bukan karena niatnya salah, tapi karena desainnya belum efisien.
 

Ego Sektoral atau Kebutuhan Nyata?
 

Tidak bisa dipungkiri, ada faktor identitas. Alumni UIN merasa punya kekhasan. Alumni PTKIN ingin merangkul semua.
 

Namun, jika identitas berubah menjadi ego sektoral, maka organisasi kehilangan arah strategis.
 

Harusnya, pertanyaannya bukan “siapa lebih besar”, tapi “siapa lebih efektif”.
 

Jalan Tengah: Integrasi atau Diferensiasi
 

Ada dua pilihan rasional:
 

Pertama, integrasi.
Menggabungkan kekuatan dalam satu payung besar, dengan struktur yang rapi dan representatif. Tidak ada lagi duplikasi.
 

Kedua, diferensiasi peran.
Jika tetap ingin dua wadah, maka fungsi harus jelas dibedakan:
 

1. IKALUIN fokus pada penguatan internal kampus dan jejaring spesifik 

2. IKA PTKIN fokus pada advokasi nasional dan lintas institusi 
 

Tanpa itu, keduanya akan terus berjalan di jalur yang sama—dan saling menabrak secara halus.
 

Penutup: Antara Gagasan Besar dan Realitas Lapangan
 

Niat membangun peradaban Islam melalui jaringan alumni adalah gagasan besar. Tapi gagasan besar butuh desain yang efisien.
 

Jika tidak, yang terjadi bukan kebangkitan, melainkan keramaian tanpa arah.
 

Dan di tengah dunia yang bergerak cepat, kemewahan terbesar bukan punya banyak organisasi—tapi punya organisasi yang benar-benar bekerja.

 
Ketua IKALUIN: DR H. Tb Ace Hasan Syadzily
Ketua PTKIN: DR. M Idrus Marham 
 

Penulis: Alumni IAIN Jakarta angkatan 1997, Fak. Dakwah - Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam rajamedia

Komentar: