Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Hari Baru, Janji Lama

Oleh: H. Dede Zaki Mubarok
Rabu, 02 April 2025 | 07:00 WIB
Ilustrasii -
Ilustrasii -

RMBANTEN.COM - LEBARAN sudah lewat. Ketupat habis. Kue-kue mulai tinggal remah-remahnya.
 

Hari baru datang. Tapi apakah benar-benar baru?
 

Atau kita hanya mengulang yang lama?
 

Sama Seperti Tahun Lalu?
 

Setiap tahun, kita selalu bicara soal kembali suci. Kembali nol.
 

Tapi berapa lama?
 

Seminggu? Sebulan? Lalu semua kembali seperti biasa.
 

Yang tadinya sabar, kembali gampang marah di jalanan.
Yang tadinya rajin berbagi, kembali sibuk menghitung keuntungan.
Yang tadinya rajin tahajud, kembali susah bangun pagi.
 

Seolah-olah Ramadan dan Lebaran itu cuma jeda. Setelahnya, hidup berjalan seperti biasa.
 

Padahal, kata Sayyidina Ali:
"Barang siapa yang harinya sekarang lebih baik dari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang harinya sekarang sama dengan kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang harinya sekarang lebih buruk dari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka."
 

Lalu, kita ini masuk kategori yang mana?
 

Pemimpin Juga Begitu
 

Bukan cuma rakyat. Pemimpin juga begitu.
 

Janji kampanye masih segar di ingatan. Tapi realisasinya?
 

Presiden Prabowo baru memulai. Harapan masih tinggi. Tapi rakyat tidak bisa menunggu terlalu lama.
 

Bung Hatta pernah berkata:
"Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar, kurang cakap bisa dihilangkan dengan pengalaman, tapi tidak jujur itu sulit diperbaiki."
 

Rakyat tidak menuntut kesempurnaan. Mereka hanya ingin kejujuran. Bahwa janji-janji lama benar-benar dikerjakan.
 

Jangan Hanya Seremoni
 

Hari baru selalu membawa harapan. Tapi harapan tanpa usaha hanya akan jadi angan-angan.
 

Mahatma Gandhi pernah berpesan:
"Jadilah perubahan yang ingin kamu lihat di dunia."
 

Kalau kita ingin perubahan, kita harus mulai dari diri sendiri.
 

Dan kalau pemimpin ingin dihormati, mereka harus lebih dulu menunjukkan keteladanan.
 

Kalau tidak, “Hari Baru” hanya akan jadi tanggal di kalender.
 

Dan kita akan terus mengulang pola yang sama.
 

Tahun depan, ketupat habis lagi. Kue tinggal remahan lagi. Jalanan macet lagi.
 

Dan harapan, kembali jadi angan-angan lagi.rajamedia

Komentar:
BERITA LAINNYA