Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Gubernur Andr Dorong Sekolah Wajib Menanam, Bisa dari Polybag hingga Pekarangan

Laporan: Firman
Jumat, 10 April 2026 | 10:12 WIB
Gubernur Banten Andra Soni saat memberikan pembekalan kepada 21 petani muda yang akan belajar ke Jepang - Biro Adpimpro Banten -
Gubernur Banten Andra Soni saat memberikan pembekalan kepada 21 petani muda yang akan belajar ke Jepang - Biro Adpimpro Banten -

RMBANTEN.COMSerang — Gubernur Banten Andra Soni mendorong setiap sekolah di wilayahnya menggalakkan gerakan menanam. Program ini dinilai penting untuk menumbuhkan budaya bertani sejak dini, bahkan bisa dimulai dari lahan kecil atau media polybag.
 

Hal itu disampaikan Andra saat melepas keberangkatan 21 petani milenial asal Banten yang akan magang ke Jepang di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Kamis (9/4/2026).
 

Sekolah Diminta Jadi Pusat Edukasi Bertani
 

Andra menegaskan, kegiatan menanam di sekolah bukan sekadar praktik tambahan, tapi bagian dari pendidikan karakter dan kemandirian pangan.
 

Menurutnya, program ini harus didampingi mentor berpengalaman agar siswa tidak hanya belajar teori, tapi juga praktik yang bisa diterapkan di rumah.
 

“Harus ada pendampingan agar siswa bisa benar-benar belajar dan menerapkannya,” kata Andra.

Kisah ‘Mang Yana’ Edukasi Pelajar Bertani
 

Dalam kesempatan itu, Ketua Gapoktan Bunga Desa Tambak Baya, Ruhyana atau akrab disapa Mang Yana, memaparkan pengalamannya mengedukasi pelajar lewat praktik langsung.
 

Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, Yana membuka lahan pertanian sekitar 1.000 meter untuk edukasi hortikultura.
 

Tak hanya itu, ia juga aktif berkeliling ke sekolah-sekolah mengenalkan konsep bertani sederhana.
 

“Bertani tidak harus lahan luas, di pekarangan rumah pun bisa,” ujarnya.
 

Bertani Bisa Hasilkan Jutaan Rupiah
 

Yana menjelaskan, dari lahan kecil pun pelajar bisa belajar menghasilkan.
 

Dengan waktu kerja sekitar 2 jam per hari, tanaman seperti kangkung, bayam, dan pakcoy bisa menghasilkan hingga Rp3 juta per bulan.
 

Konsep ini dinilai relevan untuk dikenalkan kepada generasi muda sebagai alternatif produktivitas.
 

Antisipasi Krisis Pangan Global
 

Andra menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai gerakan menanam penting di tengah kekhawatiran global terhadap krisis pangan.
 

Menurutnya, Banten memiliki keunggulan alam yang subur sehingga seharusnya tidak mengalami kekhawatiran serupa.
 

“Kita bisa tanam kapan saja, tinggal kemauan yang harus diperkuat,” tegasnya.

OPD Diminta Tindak Lanjuti
 

Andra meminta sejumlah OPD seperti Dinas Pendidikan, Dinas Ketahanan Pangan, dan Dinas Pertanian untuk segera menindaklanjuti program ini.
 

Langkah awalnya:
 

1. Menunjuk sekolah percontohan 

2. Menyediakan lahan edukasi 

3. Menghadirkan pendamping seperti Mang Yana 
 

“Harus ada proses pembelajaran dan hasil yang nyata,” katanya.
 

Target: Budaya Menanam Sejak Dini
 

Jika program berjalan baik, Andra ingin gerakan ini diperluas ke seluruh sekolah di Banten, baik negeri maupun swasta.
 

Ia menegaskan, tujuan utama bukan untuk komersial, melainkan membangun kebiasaan.
 

“Yang penting tumbuh budaya menanam di setiap siswa,” ujarnya.
 

Program ini diharapkan menjadi bekal keterampilan bagi siswa setelah lulus—bahkan bisa menjadi solusi sederhana menghadapi tantangan ekonomi dan pangan di masa depan.rajamedia

Komentar: