“Menulis untuk Melawan!” Iwakum Gembleng Mahasiswa Untirta Jadi Jurnalis Penggerak
RMBANTEN.COM — Kota Serang — Dunia kampus tak cukup hanya dipenuhi diskusi dan demonstrasi. Mahasiswa juga ditantang mampu melawan lewat tulisan. Semangat itulah yang dibawa Ikatan Wartawan Hukum (Iwakum) saat menggelar pelatihan jurnalistik bertajuk “Menulis untuk Melawan: Peran Jurnalistik dalam Pergerakan Mahasiswa” di FKIP Kampus C Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Kota Serang, Banten, Minggu (24/5/2026).
Pelatihan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan kesadaran kritis mahasiswa terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Hadirkan Praktisi Media Nasional
Kegiatan yang diinisiasi Iwakum itu menghadirkan dua praktisi media nasional sebagai narasumber.
Mereka adalah jurnalis Tirto, Irfan Amin, serta Produser SCTV, Isa Anshori, yang berbagi pengalaman seputar dunia jurnalistik, teknik peliputan, hingga tantangan media di era digital.
Peserta pelatihan datang dari berbagai elemen mahasiswa, mulai dari Untirta Movement Community (UMC), BEM Untirta, UKM Jurnalistik Bidik Utama Untirta, FKIP Untirta, Fakultas Hukum Untirta, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untirta, hingga Permahi Untirta.
Jurnalisme Bukan Sekadar Menulis Berita
Sekretaris Jenderal Iwakum, Ponco Sulaksono, mengatakan pelatihan ini bukan hanya soal keterampilan teknis membuat berita.
Lebih dari itu, kata dia, jurnalistik harus menjadi alat perjuangan sosial dan ruang keberpihakan terhadap masyarakat yang selama ini suaranya jarang terdengar.
“Melalui pelatihan ini kami berharap wawasan mahasiswa semakin terbuka, literasi semakin meningkat, dan lahir keberanian untuk menyuarakan berbagai persoalan publik melalui karya jurnalistik yang berkualitas,” ujar Ponco melansir laman SinPo.id, Senin (25/5/2026).
Mahasiswa Harus Jadi Suara yang Tak Terdengar
Menurut Ponco, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sekaligus penghubung antara masyarakat dan pengambil kebijakan.
Karena itu, keterampilan jurnalistik dinilai penting untuk mengangkat isu-isu publik yang sering terabaikan.
“Jurnalisme harus menjadi alat untuk menghadirkan the voice of the voiceless, menjadi ruang bagi mereka yang selama ini tidak memiliki akses atau kesempatan untuk didengar,” tegas Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS) tersebut.
Ia menilai mahasiswa bisa memainkan peran besar melalui tulisan, laporan investigasi, hingga karya jurnalistik yang berpihak pada kepentingan publik.
Lawan Disinformasi di Era Digital
Selain membahas teknik peliputan, penulisan berita, dan etika jurnalistik, pelatihan juga diisi diskusi interaktif mengenai tantangan media digital.
Peserta didorong mampu menghasilkan informasi yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab di tengah derasnya arus informasi serta maraknya hoaks dan disinformasi.
Iwakum berharap kegiatan ini melahirkan generasi muda yang tidak hanya piawai menulis, tetapi juga memiliki keberanian moral memperjuangkan kebenaran dan keadilan sosial.
“Melalui kegiatan ini, Iwakum berharap lahir generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan jurnalistik yang baik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial serta keberanian untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan melalui karya jurnalistik,” pungkas Ponco.![]()
Patandang | 2 hari yang lalu
Nagara | 4 hari yang lalu
Parlemen | 4 hari yang lalu
Patandang | 1 hari yang lalu
Pamenteun | 3 hari yang lalu
Warta Banten | 2 hari yang lalu
Nagara | 6 hari yang lalu
Pamenteun | 4 hari yang lalu
Hukum | 1 hari yang lalu



