Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Bahan Bakar Nuklir RSG-GAS Habis! BAPETEN Soroti Belum Kelarnya Serah Terima INUKI-BRIN

Laporan: Tim Redaksi
Jumat, 11 September 2026 | 09:44 WIB
Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS) milik BRIN di Serpong, Tangerang Selatan menghadapi persoalan serius setelah bahan bakar reaktor disebut telah habis. - RMN -
Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS) milik BRIN di Serpong, Tangerang Selatan menghadapi persoalan serius setelah bahan bakar reaktor disebut telah habis. - RMN -

RMBANTEN.COM — Serpong, Tangsel — Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS) milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, menghadapi persoalan serius setelah bahan bakar reaktor disebut telah habis.
 

Persoalan tersebut berkaitan dengan belum rampungnya proses serah terima aset dan kelembagaan dari PT Industri Nuklir Indonesia (INUKI) kepada BRIN. Padahal, fasilitas RSG-GAS merupakan bagian penting dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir nasional.
 

Hal itu diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Zainal Arifin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (9/9/2026). 
 

Bahan Bakar Reaktor Sudah Habis
 

Zainal mengatakan informasi yang diterimanya menunjukkan stok bahan bakar untuk RSG-GAS telah habis, sementara produksi bahan bakar nuklir baru belum berjalan.
 

“Sampai saat ini kami sampaikan bahwa info yang saya terima bahan bakar reaktor nuklir sudah habis dan kita tidak memproduksi bahan bakar nuklir,” kata Zainal dalam RDP.
 

Masalahnya, bahan bakar yang digunakan RSG-GAS selama ini memiliki rantai produksi khusus. PT INUKI merupakan pihak yang selama ini memasok elemen bahan bakar untuk keberlangsungan operasi RSG-GAS. 
 

Serah Terima INUKI-BRIN Belum Tuntas
 

Zainal menjelaskan, kebutuhan bahan bakar RSG-GAS tidak dapat begitu saja dipenuhi dengan membeli dari negara lain karena fasilitas produksi yang selama ini digunakan berada dalam lingkup PT INUKI.
 

“Bahan bakar nuklir untuk reaktor di Serpong itu tidak bisa serta merta kita membeli dari negara lain karena itu hanya diproduksi oleh PT INUKI. Nah sampai saat ini serah terima INUKI ke BRIN belum terselesaikan,” jelasnya.
 

Persoalan tersebut sebenarnya telah menjadi perhatian pemerintah. BRIN pada Maret 2026 menyatakan tengah mempercepat proses pengalihan aset INUKI sekaligus revitalisasi fasilitas fabrikasi bahan bakar nuklir di Gedung 60, Serpong. 
 

BRIN Sudah Siapkan Revitalisasi
 

BRIN sebelumnya melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap fasilitas fabrikasi bahan bakar nuklir di Gedung 60.
 

Hasil pemeriksaan menunjukkan sebagian peralatan fabrikasi masih dapat digunakan kembali dengan perawatan dan perbaikan. Namun, sejumlah fasilitas penunjang, termasuk sistem ventilasi, peralatan kendali kualitas, serta sejumlah infrastruktur gedung, membutuhkan revitalisasi. 
 

BRIN juga sebelumnya memproyeksikan ketersediaan bahan bakar RSG-GAS hanya mencukupi hingga 2026. Karena itu, percepatan revitalisasi dinilai penting untuk menjamin keberlanjutan operasi reaktor. 
 

Masih Ada Sekitar 20 Kilogram Uranium
 

Dalam RDP dengan Komisi XII DPR, Zainal juga mengungkap masih terdapat sekitar 20 kilogram uranium dalam aset PT INUKI.
 

Material tersebut menjadi perhatian pengawas nuklir karena berkaitan dengan kewajiban keselamatan, keamanan, dan safeguards yang tetap harus dipenuhi meski kegiatan usaha perusahaan telah berhenti.
 

“Yang perlu menjadi perhatian Bapak Ibu, karena di INUKI masih tersedia uranium sekitar 20 kilogram setara 1 fuel element, ini yang menjadi perhatian kita semua,” terang Zainal.
 

Zainal juga menyebut Gedung 10 dan Gedung 60 masih membutuhkan proses dekontaminasi.
 

Ia menegaskan, berhentinya kegiatan usaha tidak menghapus kewajiban untuk memastikan keselamatan dan keamanan bahan nuklir.


“Meskipun kondisi sarana prasarana sudah tidak ideal, kewajiban terhadap keselamatan, keamanan, dan safeguards secara nasional maupun internasional masih harus dilakukan,” ujarnya.
 

Fasilitas Harus Tetap Diawasi
 

BAPETEN sebelumnya juga mencatat bahwa PT INUKI sudah tidak bergerak dalam usaha fabrikasi bahan bakar nuklir. Kondisi tersebut berdampak pada pasokan bahan bakar baru untuk RSG-GAS sehingga reaktor melakukan penyesuaian operasi untuk memperpanjang penggunaan bahan bakar yang tersedia. 
 

Di sisi lain, BRIN terus mendorong revitalisasi fasilitas agar kemampuan nasional dalam memproduksi bahan bakar reaktor riset dapat kembali diperkuat.
 

Upaya tersebut tidak hanya menyangkut pengalihan aset, tetapi juga kesiapan teknologi, fasilitas, sumber daya manusia, keselamatan radiasi, serta pemenuhan standar pengawasan nuklir.
 

Kemandirian Nuklir Dipertaruhkan
 

RSG-GAS memiliki peran strategis dalam penelitian dan pemanfaatan teknologi nuklir Indonesia. BRIN menyebut reaktor tersebut memiliki kemampuan penting dalam mendukung riset serta produksi radioisotop dan radiofarmaka. 
 

Karena itu, persoalan bahan bakar dan status aset INUKI tidak semata-mata persoalan administratif.
 

Penyelesaian serah terima, dekontaminasi fasilitas, pengamanan material nuklir, serta revitalisasi fasilitas produksi menjadi pekerjaan penting untuk memastikan keberlanjutan teknologi nuklir nasional.
 

Kuncinya satu: proses kelembagaan harus segera dituntaskan, tetapi standar keselamatan dan keamanan nuklir tidak boleh dikompromikan.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: