Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Guru Besar UIN Jakarta Sebut Pancasila Tetap Relevan di Era AI

Laporan: Raja Media Network
Minggu, 31 Mei 2026 | 12:47 WIB
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie - Foto: Dok. Kemenag -
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie - Foto: Dok. Kemenag -

RMBANTEN.COM — Jakarta — Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie menegaskan peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 memiliki makna strategis bagi masa depan Indonesia sekaligus peradaban dunia.
 

Menurutnya, tema nasional “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” menunjukkan bahwa Pancasila tetap relevan sebagai nilai hidup dalam menghadapi berbagai tantangan global.
 

Mulai dari konflik kemanusiaan, krisis moral, polarisasi sosial-politik, disrupsi teknologi, hingga ancaman perubahan iklim dunia.
 

Indonesia Jadi Contoh Persatuan Dunia
 

Prof. Tholabi menilai Indonesia merupakan contoh nyata bangsa besar yang mampu menjaga keberagaman dalam satu ikatan kebangsaan.
 

Dengan ribuan pulau, ratusan etnik, bahasa, dan tradisi keagamaan, Indonesia dinilai berhasil membangun persatuan di tengah perbedaan.
 

Dalam konteks itu, Pancasila disebut bukan sekadar ideologi negara, tetapi etika publik dan fondasi moral kehidupan bersama.
 

“Perbedaan dapat tumbuh menjadi energi persatuan, kerja sama, dan solidaritas kebangsaan,” ujarnya.
 

Pancasila Relevan di Era Digital dan AI
 

Menurut Tholabi, perkembangan artificial intelligence (AI), media sosial, dan budaya digital justru membuat nilai-nilai Pancasila semakin penting.
 

Ia menegaskan teknologi membutuhkan arah etik agar kemajuan digital tetap berpihak pada kemanusiaan dan solidaritas sosial.
 

“Persatuan Indonesia di era digital berarti membangun ruang publik yang sehat, melawan hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, dan polarisasi,” katanya.
 

Krisis Lingkungan Disebut Masalah Moral
 

Selain isu sosial dan teknologi, Tholabi juga menyoroti ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan global.
 

Ia menilai krisis lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan etika peradaban manusia.
 

Nilai gotong royong dan keadilan sosial dalam Pancasila dinilai dapat menjadi dasar moral menjaga keberlanjutan bumi dan masa depan generasi mendatang.
 

Indonesia Bisa Jadi Kekuatan Moral Dunia
 

Tholabi menegaskan Indonesia memiliki posisi strategis sebagai moral middle power atau kekuatan moral dunia.
 

Menurutnya, nilai musyawarah, penghormatan terhadap keberagaman, dan semangat kemanusiaan universal dapat menjadi modal diplomasi perdamaian Indonesia di tingkat global.
 

“Indonesia memiliki tanggung jawab sejarah untuk menghadirkan nilai perdamaian, persaudaraan, dan keadilan melalui pengamalan Pancasila,” tegasnya.
 

Kampus Punya Tanggung Jawab Moral
 

Sebagai Guru Besar dan Anggota Dewan Pendidikan Tinggi, Tholabi juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjaga nilai-nilai Pancasila.
 

Ia menyebut kampus harus menjadi ruang dialog, toleransi, penghormatan keberagaman, serta penguatan etika kebangsaan bagi generasi muda.
 

Menurutnya, pendidikan tinggi tidak cukup hanya melahirkan lulusan unggul secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan sosial.
 

Pancasila Jangan Hanya Jadi Seremoni
 

Tholabi mengingatkan peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial tahunan.
 

Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan sosial harus hadir dalam kebijakan publik, pendidikan, hingga tata kelola pemerintahan.

“Pancasila adalah titik temu kebangsaan yang mempersatukan Indonesia sekaligus pesan moral untuk dunia,” pungkasnya.rajamedia

Komentar: