Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Potensi Perbedaan Idul Fitri 1447 H: Ikut Jumat atau Sabtu?

Laporan: Raja Media Network
Senin, 16 Maret 2026 | 10:59 WIB
Ilustrasi prediksi 1 Syawal 1447 Hijriah anatara pemerintah dan Muhammadiyah -
Ilustrasi prediksi 1 Syawal 1447 Hijriah anatara pemerintah dan Muhammadiyah -

RMBANTEN.COM - Jakarta— Potensi perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri kembali mencuat. Berdasarkan perhitungan kalender hijriah dan analisis astronomi terbaru, ada kemungkinan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 ditetapkan pada tanggal berbeda antara Muhammadiyah dan pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia.
 

Jika skenario ini terjadi, sebagian umat Islam berpotensi merayakan Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026, sementara lainnya pada Sabtu, 21 Maret 2026.
 

Muhammadiyah Sudah Tetapkan Lebaran 20 Maret
 

Organisasi Islam Muhammadiyah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
 

Penetapan ini didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang menjadi pedoman Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
 

Melalui maklumat resmi yang telah dikeluarkan, keputusan tersebut bersifat pasti bagi warga Muhammadiyah.
 

Metode hisab yang digunakan menghitung posisi bulan secara astronomis. Selama hilal sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, maka bulan baru dianggap telah masuk, tanpa harus menunggu terlihatnya hilal secara langsung.
 

Pemerintah Tunggu Sidang Isbat
 

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia diperkirakan akan menetapkan 1 Syawal 1447 H pada Sabtu, 21 Maret 2026.
 

Namun keputusan resmi baru akan diumumkan setelah Sidang Isbat yang dijadwalkan berlangsung Kamis, 19 Maret 2026.
 

Pemerintah menggunakan metode rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung hilal yang dikombinasikan dengan perhitungan astronomi.
 

Penentuan tersebut juga mengikuti standar MABIMS, forum kerja sama Menteri Agama dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
 

Hilal Diprediksi Belum Penuhi Kriteria
 

Prediksi perbedaan ini muncul setelah analisis astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional.
 

BRIN memperkirakan pada petang Kamis, 19 Maret 2026, posisi hilal kemungkinan belum memenuhi kriteria baru MABIMS.
 

Kriteria tersebut mensyaratkan:
 

- Tinggi hilal minimal 3 derajat

- Elongasi (jarak sudut bulan–matahari) minimal 6,4 derajat
 

Jika syarat itu tidak terpenuhi, maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga Idul Fitri jatuh sehari setelahnya.
 

Beda Metode, Beda Hasil
 

Perbedaan awal bulan hijriah antara Muhammadiyah dan pemerintah bukan hal baru.
 

Perbedaan biasanya terjadi karena metode penentuan yang digunakan berbeda—antara hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).
 

Meski begitu, para tokoh agama kerap mengimbau masyarakat untuk menyikapi perbedaan ini dengan bijak.
 

Yang jelas, kepastian resmi penetapan Idul Fitri 2026 dari pemerintah baru akan diumumkan setelah Sidang Isbat Kementerian Agama menjelang akhir Ramadan nanti.rajamedia

Komentar: