KUMITRA Buka Akses Ritel, 25 Usaha Mikro Aceh Kantongi Potensi Transaksi Rp2,54 Miliar
RMBANTEN.COM – Banda Aceh – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperluas akses pasar bagi usaha mikro di Aceh melalui kemitraan rantai pasok dengan jaringan ritel. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mempercepat pemulihan ekonomi daerah pascabencana.
Melalui temu bisnis Program KUMITRA (Kemudahan Usaha Mikro untuk Bermitra), sebanyak 25 usaha mikro terpilih memperoleh komitmen awal kemitraan dalam bentuk Letter of Intent (LOI) dengan potensi nilai transaksi mencapai Rp2,54 miliar.
25 Usaha Mikro Dibuka Akses ke Ritel Modern
Asisten Deputi Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Mikro Kementerian UMKM Pristiyanto, yang mewakili sekaligus membacakan sambutan Plt. Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM Reghi Perdana, mengatakan Aceh menjadi salah satu lokus prioritas Program KUMITRA untuk mendukung pemulihan ekonomi wilayah terdampak bencana di Sumatra.

“Program KUMITRA hadir sebagai solusi konkret untuk membuka akses pasar yang masih menjadi tantangan bagi para pengusaha mikro. Dari forum temu bisnis Klinik UMKM Bangkit Aceh ini, telah disepakati komitmen awal kemitraan dalam bentuk Letter of Intent dengan potensi nilai transaksi mencapai Rp2,54 miliar,” kata Pristiyanto di Banda Aceh, Selasa (22/9/2026).
Komitmen tersebut membuka peluang bagi 25 usaha mikro untuk memperluas pemasaran melalui jaringan ritel modern dan rantai pasok industri berskala lebih besar.
Klinik UMKM Bangkit Berjalan Sejak Maret
Temu bisnis tersebut merupakan bagian dari layanan Klinik UMKM Bangkit Aceh, hasil kolaborasi Kementerian UMKM, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Aceh, serta Asosiasi Profesi Pendamping Entrepreneur Indonesia (ASPPENDO).
Program pendampingan telah berjalan secara hibrida sejak Maret 2026, mulai dari webinar akses pasar, pelatihan standardisasi produk, kurasi mutu, hingga pendampingan bisnis secara intensif.
Kegiatan temu bisnis menjadi tahap lanjutan untuk mempertemukan pelaku usaha yang telah melalui proses kurasi dan presentasi bisnis dengan calon mitra pemasaran.
Potensi Transaksi KUMITRA Capai Rp13,74 Miliar
Reghi menjelaskan, temu bisnis Program KUMITRA telah dilaksanakan di empat lokasi, yakni Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kabupaten Tangerang, dan Aceh.
Dari empat lokasi tersebut, total potensi transaksi yang dituangkan melalui LOI mencapai Rp13,74 miliar.
Menurut Reghi, kepastian pasar atau off-taker menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha mikro, terutama ketika pelaku usaha berada dalam fase pemulihan pascabencana.

“Pemasaran adalah pilar vital bagi keberlangsungan usaha mikro. Melalui perluasan akses pasar yang terstruktur, pengusaha UMKM di Aceh tidak hanya dapat memulihkan aktivitas bisnisnya pascabencana, tetapi juga meningkatkan kapasitas produksi, menyerap tenaga kerja lokal, dan menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat,” kata Reghi.
Ritel Besar Jadi Mitra Pemasaran
Dalam sesi temu bisnis, para pelaku usaha mikro mempresentasikan produk unggulan mereka di hadapan sejumlah calon mitra, antara lain Suzuya Group, Alfamart, Indomaret, Simpang Lima, Aroma, dan Pusaka Souvenir Gallery.
Forum tersebut tidak hanya membuka peluang transaksi, tetapi juga memberikan pemahaman kepada pelaku usaha mengenai persyaratan memasuki rantai pasok yang lebih luas.
Materi yang menjadi perhatian antara lain standardisasi mutu, kepatuhan terhadap izin edar, higienitas kemasan, hingga kemampuan menjaga kontinuitas pasokan.
Pelaku Usaha Didorong Benahi Produk
Salah satu peserta Klinik UMKM Bangkit Aceh, Nova, pendiri Inovasi Cantik asal Aceh Tamiang, mengatakan akses pasar yang stabil menjadi salah satu kebutuhan penting bagi pelaku usaha yang sedang memulihkan bisnis setelah terdampak bencana.
“Pascabencana banjir yang melanda daerah kami hingga menghanyutkan galeri usaha, memulihkan omzet dan menemukan pasar yang stabil menjadi tantangan terberat. Melalui pendampingan Kementerian UMKM bersama ASPPENDO, kami dapat terhubung langsung dengan manajemen ritel modern,” kata Nova.
Ia juga mengatakan pendampingan memberikan pemahaman mengenai standar kurasi mutu dan kemasan yang dibutuhkan pasar.
“Kami mendapatkan pemahaman nyata mengenai standar kurasi mutu serta kemasan yang dibutuhkan pasar, dan kami sangat optimistis usaha ini dapat segera bangkit kembali,” katanya.
Kemitraan Akan Diperluas ke Hotel dan Pariwisata
Sebagai tindak lanjut, Kementerian UMKM berencana memperluas jaringan kemitraan rantai pasok usaha mikro ke sektor perhotelan dan pariwisata melalui sinergi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).
Produk makanan olahan, minuman, cenderamata, dan kriya khas Aceh diarahkan agar memiliki peluang masuk ke kebutuhan operasional industri perhotelan dan ekosistem destinasi wisata.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas akses pasar sekaligus membantu usaha mikro Aceh membangun kembali kegiatan bisnis secara berkelanjutan setelah terdampak bencana.
RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Ékobis | 1 hari yang lalu
Patandang | 4 hari yang lalu
Parlemen | 5 hari yang lalu
Hukum | 6 hari yang lalu
Patandang | 3 hari yang lalu
Peristiwa | 6 hari yang lalu
Pamenteun | 1 minggu yang lalu
Ékobis | 5 hari yang lalu
Patandang | 4 hari yang lalu