Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Tembus Rp25,3 Miliar! Expo Haji dan Umrah Jogja Buka Peluang Bisnis Menggiurkan

Laporan: Raja Media Network
Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:39 WIB
Tembus Rp25,3 Miliar! Expo Haji dan Umrah Jogja buka peluang bisnis benggiurkan - RMN -
Tembus Rp25,3 Miliar! Expo Haji dan Umrah Jogja buka peluang bisnis benggiurkan - RMN -

RMBANTEN.COM — Yogyakarta — Expo Haji dan Umrah yang digelar di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, pada 23–25 Oktober 2026, mencatat potensi perputaran nilai ekonomi sebesar Rp25.315.248.426 atau sekitar Rp25,3 miliar.
 

Capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi ekosistem bisnis penyelenggaraan ibadah haji dan umrah, sekaligus tingginya minat masyarakat terhadap layanan perjalanan ibadah.
 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) DIY, Silvia Rosetti, mengatakan expo tersebut menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari pameran dan bazar yang diikuti 121 tenant, business matching, talkshow, manasik akbar, hingga kegiatan walk and run.

“Peserta yang terdaftar lebih dari 5.300 orang. Namun, jumlah masyarakat yang keluar masuk selama kegiatan berlangsung jauh lebih besar. Dari keseluruhan ekosistem yang berjalan, tercatat transaksi dengan nilai total Rp 25,3 miliar,” ungkap Silvia, Selasa (27/10/2026).
 

Transaksi Travel Haji dan Umrah Tembus Rp19,35 Miliar
 

Berdasarkan data penyelenggara, transaksi perjalanan haji dan umrah menjadi komponen terbesar dengan nilai mencapai Rp19.351.500.000 atau sekitar Rp19,35 miliar.
 

Sementara itu, transaksi tenant tercatat sebesar Rp949.462.000. Nilai ini menggambarkan aktivitas perdagangan yang berlangsung selama pameran.
 

Selain transaksi tersebut, kegiatan business matching menghasilkan potensi transaksi sebesar Rp1.004.900.000, yang berasal dari 20 letter of intent (LoI) dan tiga nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).

Menurut Silvia, transaksi yang tercatat mencakup beragam layanan perjalanan ibadah, mulai dari haji reguler, haji khusus, hingga umrah.
 

Kegiatan business matching juga menjadi salah satu bagian penting dalam expo karena mempertemukan penyedia jasa dengan calon jamaah dan membuka peluang kerja sama melalui kontrak bisnis.
 

Meski demikian, nilai potensi kerja sama perlu dibedakan dari transaksi yang telah terealisasi. LoI dan MoU menunjukkan adanya penjajakan atau kesepakatan kerja sama yang masih memerlukan tindak lanjut sesuai isi masing-masing dokumen.
 

122 UMKM Masuk Proses Kurasi Haji dan Umrah Store
 

Penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu aspek penting dalam penyelenggaraan expo.
 

Berdasarkan data kegiatan, sebanyak 122 UMKM sedang menjalani proses kurasi untuk Haji dan Umrah Store. Proses ini membuka peluang bagi produk lokal untuk masuk ke pasar kebutuhan jamaah.

Selain itu, business matching melibatkan 42 UMKM dan 136 pelaku bisnis dari kalangan perusahaan.
 

Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperluas jaringan, menjajaki kemitraan, dan menghubungkan produk lokal dengan kebutuhan industri perjalanan ibadah.
 

Kebutuhan jamaah haji dan umrah mencakup beragam produk dan layanan, mulai dari perlengkapan ibadah, busana, makanan, hingga berbagai kebutuhan pendukung perjalanan.
 

Dengan akses pasar dan kemitraan yang tepat, UMKM berpeluang mengambil bagian dalam rantai pasok bisnis haji dan umrah. Namun, keberhasilan jangka panjangnya akan bergantung pada tindak lanjut proses kurasi dan kerja sama yang telah dijajaki.
 

Ribuan Jamaah Ikuti Manasik dan Sa'i Walk and Run
 

Expo Haji dan Umrah tidak hanya menjadi ajang bisnis, tetapi juga menghadirkan kegiatan edukasi dan aktivitas yang melibatkan masyarakat.
 

Data penyelenggara mencatat sebanyak 2.889 jamaah mengikuti manasik haji, sedangkan 1.500 peserta mengikuti Sa'i Walk and Run. Adapun peserta yang mengikuti pembukaan tercatat sebanyak 572 orang.
 

Rangkaian kegiatan tersebut memperluas partisipasi masyarakat sekaligus memberikan ruang bagi calon jamaah untuk mengenal lebih dekat layanan dan persiapan perjalanan ibadah.
 

Dalam keterangannya, Silvia menjelaskan bahwa expo dirancang untuk mempertemukan masyarakat dengan penyelenggara perjalanan umrah, penyelenggara ibadah haji khusus, serta kelompok bimbingan ibadah haji dan umrah.
 

“Kami ingin tujuan expo untuk menghubungkan penyelenggara dengan masyarakat benar-benar terwujud. Kami juga ingin memperkenalkan Kementerian Haji dan Umrah kepada masyarakat secara lebih luas,” katanya.
 

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengenal layanan yang tersedia sekaligus memperoleh informasi mengenai biro perjalanan yang kredibel dan legal.
 

Hotel dan Transportasi Ikut Menggerakkan Ekonomi
 

Perputaran ekonomi expo juga melibatkan sektor pendukung di luar transaksi perjalanan ibadah dan penjualan tenant.
 

Data penyelenggara mencatat nilai hunian hotel sebesar Rp1.755.231.500. Sementara itu, biaya transportasi dan parkir mencapai Rp1.432.520.500.
 

Adapun biaya perlengkapan kegiatan tercatat sebesar Rp750.634.426 dan biaya konsumsi sebesar Rp71.000.000.
 

Komponen tersebut memperlihatkan keterlibatan berbagai sektor usaha, termasuk perhotelan, transportasi, penyedia perlengkapan, serta usaha makanan dan minuman.
 

Penyelenggaraan kegiatan berskala besar dapat menciptakan permintaan terhadap barang dan jasa dari berbagai sektor. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan aktivitas di area pameran, tetapi juga kebutuhan pendukung selama kegiatan berlangsung.
 

Namun, nilai transaksi, potensi kerja sama bisnis, dan biaya penyelenggaraan merupakan kategori berbeda. Karena itu, angka-angka tersebut perlu dibaca sesuai karakter masing-masing komponen dan tidak serta-merta dianggap sebagai keuntungan bersih penyelenggara.
 

Yogyakarta Diharapkan Jadi Model Expo Nasional
 

Expo Haji dan Umrah turut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lainnya.
 

Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Ketua Kadin, serta Menteri Haji dan Umrah. Perwakilan dari 33 kantor wilayah Kementerian Haji dan Umrah dari berbagai provinsi di Indonesia juga hadir dalam kegiatan tersebut.
 

Kehadiran berbagai pihak itu memperlihatkan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam mengembangkan ekosistem bisnis haji dan umrah yang lebih terhubung dan berkelanjutan.
 

Silvia berharap penyelenggaraan expo di Yogyakarta dapat menjadi model bagi kegiatan serupa di tingkat nasional. Menurutnya, potensi industri haji dan umrah masih sangat besar sehingga perlu didukung ekosistem yang kredibel dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
 

“Harapannya, Jogja bisa menjadi role model expo haji dan umroh di Indonesia. Ekosistemnya terus tumbuh karena potensinya sangat tinggi,” tandasnya.
 

Potensi Ekonomi Rp25,3 Miliar, Tantangannya Keberlanjutan
 

Secara keseluruhan, Expo Haji dan Umrah mencatat potensi perputaran nilai ekonomi sebesar Rp25.315.248.426 atau sekitar Rp25,3 miliar.
 

Capaian ini memperlihatkan peluang pengembangan ekosistem bisnis haji dan umrah yang melibatkan penyelenggara perjalanan ibadah, pelaku UMKM, perusahaan, serta sektor pendukung lainnya.
 

Bagi UMKM, kesempatan mengikuti kurasi dan menjajaki kemitraan dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas jangkauan pasar. Sementara itu, bagi industri perjalanan ibadah, kegiatan ini dapat menjadi sarana mempertemukan penyedia layanan dengan masyarakat.
 

Tantangan berikutnya adalah memastikan peluang yang muncul selama expo dapat ditindaklanjuti menjadi transaksi nyata, kemitraan berkelanjutan, serta peningkatan akses pasar bagi produk lokal.
 

Pada akhirnya, keberhasilan expo tidak hanya diukur dari besarnya angka perputaran ekonomi, tetapi juga dari seberapa jauh peluang tersebut menghasilkan manfaat berkelanjutan bagi pelaku usaha dan masyarakat.
 

RAJA MEDIA — Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: