Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Ferry Paulus Sebut Liga Indonesia Nomor Satu ASEAN, Data AFC Menempatkan Indonesia di Posisi Keenam

Laporan: Firman
Rabu, 02 September 2026 | 14:36 WIB
Ketua LIB Ferry Paulus sebut Liga Indonesia nomor satu ASEAN. Data AFC justru menempatkan Indonesia di posisi keenam - Ilustrasi RMN -
Ketua LIB Ferry Paulus sebut Liga Indonesia nomor satu ASEAN. Data AFC justru menempatkan Indonesia di posisi keenam - Ilustrasi RMN -

RMBANTEN.COM — Jakarta — Pernyataan Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB) Ferry Paulus menjelang bergulirnya BRI Super League 2026/27 memantik perhatian. Ferry menyebut kompetisi sepak bola Indonesia kini berada di posisi teratas ASEAN.
 

Pernyataan tersebut menjadi menarik ketika disandingkan dengan data pemeringkatan kompetisi klub Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
 

Dalam ranking AFC, Indonesia justru masih berada di peringkat ke-20 Asia. Di kawasan ASEAN, Indonesia berada di posisi keenam, di bawah Thailand, Malaysia, Vietnam, Singapura, dan Kamboja.
 

Lantas, apakah Ferry keliru?
 

“Nomor Satu ASEAN” dalam Konteks Bisnis
 

Pernyataan Ferry perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat.
 

Ferry memang menyebut posisi Liga Indonesia sebagai yang teratas di ASEAN, tetapi konteks yang disampaikan berkaitan dengan aspek bisnis dan komersial kompetisi.
 

Artinya, klaim tersebut tidak otomatis berarti Liga Indonesia menempati peringkat pertama ASEAN dalam AFC Club Competition Ranking.
 

Di sinilah persoalan muncul.
 

Sebab bagi publik sepak bola, istilah “ranking” secara umum lebih mudah dipahami sebagai pemeringkatan berdasarkan prestasi kompetisi. Sementara indikator komersial dan indikator prestasi AFC merupakan dua hal yang berbeda.
 

Data AFC: Indonesia Masih Peringkat 20 Asia
 

Jika ukuran yang digunakan adalah ranking AFC, faktanya berbeda.
 

Indonesia tercatat berada di peringkat ke-20 Asia dengan sekitar 25,759 poin.
 

Dalam klasemen kawasan ASEAN, posisi Indonesia juga belum berada di puncak.
 

Indonesia masih berada di peringkat keenam ASEAN.
 

Data tersebut menunjukkan bahwa perjalanan sepak bola Indonesia di level klub Asia memang mengalami perkembangan, tetapi belum cukup untuk menyebut Indonesia sebagai kekuatan nomor satu ASEAN berdasarkan ranking AFC.
 

Dengan kata lain, klaim nomor satu ASEAN tidak bisa digunakan sebagai gambaran prestasi kompetitif Indonesia di level Asia.
 

Persib dan Dewa United Memang Berpengaruh
 

Pernyataan Ferry mengenai Persib Bandung dan Dewa United juga memiliki dasar.
 

Performa klub Indonesia di kompetisi AFC berpengaruh terhadap perolehan poin dan posisi Indonesia dalam ranking asosiasi.
 

Pada periode tertentu, Indonesia bahkan sempat naik ke peringkat ke-18 Asia dengan 26,299 poin.
 

Kenaikan tersebut tidak lepas dari kiprah klub Indonesia di kompetisi Asia, termasuk Persib Bandung di AFC Champions League Two dan Dewa United di AFC Challenge League.
 

Ketika perjalanan kedua klub tersebut tidak berlanjut sesuai harapan, perolehan poin Indonesia ikut terdampak.
 

Namun, penurunan ranking tidak sesederhana hanya disebabkan oleh satu pertandingan atau kegagalan satu klub.
 

Sistem pemeringkatan AFC merupakan akumulasi performa klub-klub dari suatu asosiasi dalam kompetisi AFC. Karena itu, hasil Persib dan Dewa United memang menjadi bagian penting, tetapi bukan satu-satunya faktor.
 

“Pelatih Saya” Shin Tae-yong Ikut Jadi Sorotan
 

Kontroversi Ferry Paulus tidak berhenti pada soal ranking.
 

Dalam kesempatan yang sama, Ferry juga menyapa Shin Tae-yong dengan sebutan “pelatih saya”.
 

Ucapan tersebut kemudian menjadi bahan pembicaraan di tengah publik sepak bola Indonesia.
 

Shin Tae-yong kini menangani Persija Jakarta. Sementara Ferry Paulus sendiri memiliki sejarah panjang dengan klub ibu kota tersebut.
 

Secara faktual, ucapan itu tidak otomatis membuktikan adanya keberpihakan PT LIB kepada Persija.
 

Namun, sebagai operator kompetisi, setiap pilihan kata pejabat LIB memang memiliki konsekuensi terhadap persepsi publik mengenai independensi dan netralitas kompetisi.
 

Kontroversi atau Fakta?
 

Jika seluruh pernyataan Ferry ditempatkan dalam konteksnya, persoalannya menjadi lebih terang.
 

Liga Indonesia bisa saja disebut nomor satu ASEAN dalam indikator bisnis atau komersial tertentu. Tetapi Indonesia belum menjadi nomor satu ASEAN dalam ranking kompetisi klub AFC.
 

Bahkan berdasarkan data AFC, Indonesia masih berada di peringkat keenam ASEAN dan ke-20 Asia.
 

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah Ferry Paulus berkata benar atau salah.
 

Persoalan yang lebih penting adalah indikator apa yang digunakan ketika mengatakan “nomor satu ASEAN”.
 

Jika indikatornya bisnis, pernyataan tersebut harus dibaca sebagai pencapaian komersial.
 

Jika indikatornya prestasi klub di Asia, datanya belum mendukung.
 

Pada akhirnya, sepak bola Indonesia membutuhkan keduanya: liga yang kuat secara bisnis sekaligus klub yang mampu berbicara lebih jauh di kompetisi Asia.
 

Sebab di lapangan, ranking tidak ditentukan oleh narasi.
 

Prestasi yang akan berbicara.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: