Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Indonesia Didesak Keluar dari Board of Peace Bentukan Trump

Laporan: Raja Media Network
Selasa, 03 Maret 2026 | 20:50 WIB
Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta, Prof. Din Syamsuddin
Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta, Prof. Din Syamsuddin

RMBANTEN.COM - Jakarta, Geopolitik - Desakan agar Indonesia keluar dari keanggotaan Board of Peace (Dewan Perdamaian) bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump semakin menguat. Dorongan ini mengemuka pasca AS dan Israel menyerang Iran pada Sabtu kemarin.


Setelah sebelumnya disuarakan 69 tokoh bersama 79 organisasi masyarakat sipil lewat sebuah petisi "Melawan Imperialisme Baru", bahkan termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui “Tausiyah MUI: Eskalasi Serangan AS-Israel terhadap Iran", yang terbaru Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta, Prof. Din Syamsuddin, juga menyampaikan hal senada.


Din meminta Presiden Prabowo menarik mundur Indonesia dari BoP karena visi perdamaian yang diusung hanya klaim semu semata. Karena yang terbukti sejatinya adalah “Dewan Peperangan” dan “Dewan Penjajahan Baru” menyusul serangan militer AS-Israel kepada sebuah negara berdaulat bernama resmi Republik Islam Iran tersebut.


Terlebih, dia menekankan, Indonesia sesuai amanat konstitusi harus bersikap tegas melawan segala bentuk penjajahan di muka bumi, menentang agresi dan invasi sebuah negara ke negara lain.


"Saatnya Presiden Prabowo berpikir ulang untuk keluar dari Board of Peace bikinan Presiden Trump, dan menarik ucapannya yang keliru bahwa 'keamanan Israel harus dijamin' karena itu berdasarkan logika terbalik," jelas Din, Selasa (3/3/2026).


Jalankan Politik Bebas Aktif


Sejalan dengan itu, Ketua World Peace Forum ini juga mengingatkan, Indonesia harus bersikap konsisten dan konsekwen menjalankan politik luar negeri bebas aktif dengan mengedepankan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian sejati serta tidak terjebak pada permainan politik global yang kolonialistik dan imperialistik.


"Presiden Prabowo Subianto perlu mengikuti jejak pendahulunya, seperti Presiden Sukarno dan Presiden Soeharto, yang bersikap tegas dan lugas terhadap neokolonialisme dan imperialisme (nekolim). Board of Peace adalah klaim perdamaian semu, dan sejatinya adalah Dewan Peperangan dan Penjajahan Baru," tandasnya.


Liga Arab dan OKI


Dalam pernyataannya, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini juga menyinggung negara-negara Arab yang tergabung dalam Liga Arab dan negara-negara Islam dan berpenduduk mayoritas muslim yang tergabung dalam OKI. Dia mendesak Liga Arab dan OKI bersatu menghadapi Israel-AS yang terus mempertontonkan kezalimannya, yang kali ini menyasar negara Islam bermazhab Syiah tersebut.


"Saatnyalah negara-negara Arab dan anggota OKI untuk menunjukkan solidaritas keislaman dan kemanusiaan mengenyahkan keangkuhan, ketakadilan, dan kezaliman Israel dan Amerika Serikat. Umat Islam sedunia cukup matang untuk tidak terpengaruh dengan politik devide et impera antara Sunni dan Syiah," demikian Din Syamsuddin.rajamedia

Komentar: