Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Democracy Stability Consolidation Commander

"Sebuah Pembacaan atas Peran Sufmi Dasco Ahmad"

Oleh: H. Dede Zaki Mubarok
Jumat, 31 Juli 2026 | 14:31 WIB
Ilustrasi Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad - RMN -
Ilustrasi Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad - RMN -

RMBANTEN.COM - "POLITICS is the art of the possible," demikian ungkap Otto von Bismarck. Politik bukan semata seni merebut kekuasaan, melainkan kemampuan mengubah kemenangan politik menjadi pemerintahan yang bekerja. Dalam demokrasi, tantangan terbesar bukan hanya memenangkan pemilu, tetapi juga memastikan kemenangan itu menghadirkan stabilitas, efektivitas pemerintahan, dan kesejahteraan rakyat.


Demokrasi tidak berhenti ketika Komisi Pemilihan Umum menetapkan pemenang pemilu. Justru setelah kompetisi usai, tantangan yang sesungguhnya dimulai: bagaimana mengubah kemenangan politik menjadi pemerintahan yang stabil, efektif, dan mampu bekerja untuk kepentingan rakyat.


Sejarah politik dunia memperlihatkan bahwa tidak sedikit pemerintahan yang lahir melalui proses demokratis, tetapi gagal menjalankan roda pemerintahan karena tersandera konflik politik yang berkepanjangan. Polarisasi terus berlanjut, komunikasi antarelite memburuk, parlemen berubah menjadi arena pertarungan tanpa akhir, sementara agenda pembangunan berjalan tersendat.


Dalam konteks itulah stabilitas politik menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Stabilitas bukanlah lawan demokrasi. Sebaliknya, stabilitas merupakan prasyarat agar demokrasi mampu menghasilkan kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat.


Lahirnya Sebuah Perspektif Politik


Pengamat politik Syahganda Nainggolan memperkenalkan istilah Democracy Stability Consolidation Commander untuk menggambarkan figur yang menjalankan fungsi menjaga stabilitas demokrasi melalui konsolidasi politik, komunikasi antarelite, dan penguatan koordinasi kelembagaan. Istilah ini bukan konsep baku dalam literatur ilmu politik, melainkan sebuah perspektif analitis untuk membaca fungsi politik yang selama ini ada, tetapi jarang diberi nama secara eksplisit.

Menurut saya, istilah tersebut menarik untuk dikaji karena mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh kualitas visi seorang presiden atau kecakapan para menteri. Di balik pemerintahan yang mampu bekerja dengan tenang, hampir selalu terdapat figur-figur yang bertugas membangun komunikasi, menjembatani kepentingan, mengelola konflik, dan menjaga kohesi politik.


Mengapa Demokrasi Membutuhkan Konsolidator?


Samuel P. Huntington mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi sebuah negara bukan semata-mata kurangnya demokrasi, melainkan lemahnya kemampuan institusi politik mengelola perubahan. Sementara Francis Fukuyama menekankan pentingnya kapasitas negara, supremasi hukum, dan akuntabilitas sebagai fondasi pemerintahan yang efektif.


Gagasan tersebut sejalan dengan pandangan Max Weber bahwa negara modern bertumpu pada institusi yang bekerja secara rasional dan efektif. Karena itu, demokrasi tidak cukup hanya menghasilkan pemimpin melalui pemilu, tetapi juga memerlukan kemampuan membangun koordinasi politik agar institusi negara dapat menjalankan fungsinya secara optimal.


Dengan demikian, demokrasi memerlukan lebih dari sekadar legitimasi elektoral. Demokrasi membutuhkan kemampuan menjaga keteraturan politik agar negara dapat bekerja sekaligus menghadirkan ruang dialog yang mampu menjembatani beragam kepentingan.


Dalam kerangka itulah, fungsi seorang konsolidator politik menjadi penting. Ia bukan pengambil seluruh keputusan negara, melainkan penghubung yang memastikan komunikasi tetap berjalan, konflik dapat dikelola, dan agenda pemerintahan memperoleh dukungan politik yang memadai.


Lima Pilar Democracy Stability Consolidation Commander


Dalam kerangka tersebut, ada lima fungsi yang dapat digunakan untuk membaca konsep Democracy Stability Consolidation Commander.


Pertama, Political Communicator, yaitu kemampuan menjaga komunikasi politik tetap terbuka di tengah beragam kepentingan sehingga perbedaan tidak berubah menjadi kebuntuan.


Kedua, Conflict Manager, yakni kemampuan mengelola perbedaan agar tidak berkembang menjadi krisis politik yang mengganggu jalannya pemerintahan.


Ketiga, Coalition Integrator, yaitu menjaga soliditas pemerintahan koalisi tanpa menghilangkan dinamika demokrasi yang sehat.


Keempat, Institutional Bridge Builder, yakni membangun jembatan komunikasi antara lembaga-lembaga negara agar masing-masing dapat menjalankan fungsi konstitusionalnya secara efektif.


Kelima, National Stability Guardian, yaitu menjaga stabilitas politik sebagai fondasi bagi keberlanjutan pemerintahan dan pembangunan nasional.


Kelima fungsi tersebut bukan dimaksudkan sebagai teori politik baru, melainkan sebagai kerangka analitis untuk membaca bagaimana proses konsolidasi berlangsung dalam praktik pemerintahan.


Membaca Peran Dasco dalam Arsitektur Politik Prabowo


Melalui lima fungsi tersebut, peran Sufmi Dasco Ahmad menjadi menarik untuk dibaca.


Sebagai Wakil Ketua DPR RI sekaligus salah satu tokoh penting Partai Gerindra, Dasco berada pada posisi yang memungkinkan dirinya berinteraksi dengan berbagai pusat kekuatan politik. Dalam berbagai kesempatan, ia terlihat aktif menjalin komunikasi lintas partai, menjadi penghubung antara DPR dan pemerintah, serta memberikan penjelasan terhadap berbagai isu strategis yang berkembang di ruang publik.


Pengamatan ini tentu tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan bahwa stabilitas pemerintahan bergantung pada satu orang. Stabilitas politik merupakan hasil kerja kolektif Presiden, kabinet, DPR, partai-partai politik, birokrasi, aparat negara, dan partisipasi masyarakat. Namun, dalam sebuah arsitektur politik, selalu ada figur-figur yang memainkan fungsi konsolidasi secara lebih menonjol.


Melalui perspektif Democracy Stability Consolidation Commander, peran Dasco dapat dibaca sebagai salah satu figur yang terlihat menjalankan fungsi tersebut. Ia tidak hanya hadir sebagai pimpinan parlemen, tetapi juga tampak memainkan peran komunikasi, koordinasi, dan konsolidasi yang mendukung efektivitas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.


Stabilitas untuk Demokrasi, Bukan Stabilitas atas Demokrasi


Yang lebih penting dari pembahasan ini sesungguhnya bukanlah sosok Dasco semata, melainkan kesadaran bahwa demokrasi modern membutuhkan mekanisme konsolidasi politik yang sehat. Negara yang demokratis tetap memerlukan ruang dialog, jembatan komunikasi, dan kemampuan menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah politik, bukan melalui polarisasi yang berkepanjangan.


Karena itu, istilah Democracy Stability Consolidation Commander layak dipandang sebagai pintu masuk untuk mendiskusikan satu fungsi penting dalam pemerintahan demokratis. Apakah konsep ini kelak berkembang menjadi bagian dari khazanah pemikiran politik Indonesia, tentu akan ditentukan oleh perjalanan waktu dan diskursus akademik.


Di situlah ungkapan Bismarck kembali menemukan relevansinya. Politik adalah the art of the possible—seni mengubah berbagai kemungkinan menjadi kenyataan. Dalam negara demokrasi, kemungkinan itu adalah mengubah kemenangan elektoral menjadi pemerintahan yang stabil, efektif, serta mampu menghadirkan pelayanan publik, pembangunan, dan kesejahteraan bagi rakyat.


Sejarah mungkin lebih sering mengingat nama presiden. Namun pemerintahan yang berhasil hampir selalu ditopang oleh para konsolidator yang bekerja dalam senyap, memastikan komunikasi tetap terjaga, institusi tetap berjalan, dan negara terus bergerak menuju tujuan yang telah ditetapkan.


Pada akhirnya, demokrasi yang matang bukan hanya diukur dari kualitas kompetisi politiknya, tetapi juga dari kemampuannya membangun konsolidasi setelah kompetisi itu usai. Sebab, kemenangan dalam pemilu dapat melahirkan pemerintahan, tetapi hanya konsolidasi politik yang mampu menjaga pemerintahan tetap bekerja demi kepentingan rakyat.

Penulis: Wartawan Senior, PP IKALUIN Jakarta


RAJA MEDIA - Opini 2026rajamedia

Komentar: