Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Membaca Arah Politik Prabowo (14): Kedaulatan Pangan dan Ketahanan Nasional

Oleh: H. Dede Zaki Mubarok
Sabtu, 12 September 2026 | 13:07 WIB
Artikel series: Membaca Arah Politik Prabowo (14) "Kedaulatan Pangan dan Ketahanan Nasional" - Ilustrasi RMN -
Artikel series: Membaca Arah Politik Prabowo (14) "Kedaulatan Pangan dan Ketahanan Nasional" - Ilustrasi RMN -

RMBANTEN.COM - “Pangan adalah soal hidup matinya sebuah bangsa.”
— Soekarno
 

Tidak ada negara yang benar-benar berdaulat jika kebutuhan pangan rakyatnya sepenuhnya bergantung kepada negara lain.
 

Sebab pangan bukan sekadar komoditas ekonomi.
 

Pangan adalah kebutuhan paling mendasar manusia. Ketika pangan tersedia, terjangkau, dan aman, masyarakat memiliki fondasi kehidupan yang kokoh. Tetapi ketika pangan langka dan mahal, dampaknya dapat menjalar menjadi persoalan sosial, ekonomi, bahkan politik.
 

Karena itu, kedaulatan pangan pada hakikatnya adalah bagian dari kedaulatan negara.
 

Negara boleh memiliki pertahanan yang kuat.
 

Negara boleh memiliki industri strategis.
 

Negara boleh memiliki teknologi maju.
 

Tetapi jika rakyatnya tidak mampu memperoleh pangan yang cukup dan terjangkau, ketahanan nasional tetap memiliki titik lemah.
 

Dalam konteks membaca arah politik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pangan karena itu harus ditempatkan bukan hanya sebagai urusan pertanian, tetapi sebagai bagian dari strategi pembangunan dan ketahanan nasional.

Indonesia Emas 2045 tidak mungkin dibangun oleh rakyat yang kuat secara ekonomi tetapi rapuh dalam akses terhadap pangan.
 

Pangan Bukan Sekadar Urusan Perut
 

Selama ini pangan sering dipandang sebagai persoalan produksi: berapa banyak beras dihasilkan, berapa ton jagung dipanen, berapa besar stok tersedia.
 

Padahal persoalannya jauh lebih luas.
 

Pangan menyangkut produksi, distribusi, harga, cadangan, kualitas, gizi, teknologi, lahan, air, hingga kesejahteraan petani.
 

Artinya, ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan memastikan pangan tersedia.
 

Pangan juga harus terjangkau dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat.
 

Di sinilah pangan bertemu dengan keadilan sosial.
 

Karena bagi keluarga berpenghasilan tinggi, kenaikan harga pangan mungkin hanya mengubah pola belanja.
 

Tetapi bagi keluarga miskin, kenaikan harga beras, telur, minyak, atau kebutuhan pokok dapat berarti berkurangnya makanan yang dikonsumsi anak-anak.
 

Maka menjaga stabilitas pangan sesungguhnya adalah menjaga daya hidup masyarakat.
 

Kedaulatan Pangan Berbeda dengan Sekadar Swasembada
 

Swasembada berarti kemampuan memenuhi kebutuhan dari produksi sendiri.
 

Kedaulatan pangan memiliki makna yang lebih luas.
 

Kedaulatan berarti negara memiliki kemampuan menentukan arah kebijakan pangannya sendiri, melindungi kepentingan rakyat, memperkuat produksi nasional, dan tidak mudah terguncang oleh tekanan eksternal.
 

Sebuah negara bisa saja memiliki pangan yang cukup hari ini karena impor.
 

Tetapi jika pasokan global terganggu, harga melonjak, atau negara pemasok menghentikan ekspor, ketergantungan tersebut dapat menjadi persoalan strategis.
 

Karena itu, kedaulatan pangan bukan berarti menutup diri dari perdagangan internasional.
 

Indonesia tetap membutuhkan perdagangan.
 

Tetapi perdagangan harus menjadi pilihan strategis, bukan ketergantungan permanen.
 

Impor boleh menjadi instrumen. Kedaulatan tidak boleh menjadi korban.
 

Petani adalah Pilar Kedaulatan Pangan
 

Tidak mungkin berbicara tentang kedaulatan pangan tanpa membicarakan petani.
 

Petani adalah orang yang memastikan pangan hadir di meja makan masyarakat.
 

Namun ironinya, mereka yang menjaga pangan bangsa sering kali menghadapi persoalan kesejahteraan.
 

Biaya produksi meningkat.
 

Akses pupuk dan sarana produksi menjadi persoalan.
 

Harga hasil panen tidak selalu menguntungkan.
 

Lahan pertanian terus menghadapi tekanan.
 

Regenerasi petani juga menjadi tantangan.
 

Jika kondisi ini dibiarkan, persoalannya bukan hanya kemiskinan petani.
 

Negara dapat kehilangan fondasi produksi pangannya.
 

Karena itu, kebijakan pangan harus menjadikan petani sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek program.
 

Petani membutuhkan kepastian harga, akses pembiayaan, teknologi, benih, pupuk, irigasi, penyuluhan, perlindungan lahan, serta akses pasar.
 

Lebih dari itu, anak muda harus melihat pertanian sebagai profesi masa depan yang bermartabat.
 

Jika petani sejahtera, pangan kuat. Jika petani ditinggalkan, kedaulatan pangan terancam.
 

Air dan Lahan adalah Infrastruktur Pangan
 

Pangan tidak lahir dari kebijakan.
 

Pangan lahir dari tanah dan air.
 

Karena itu, perlindungan lahan pertanian produktif dan pengelolaan sumber daya air harus menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan.
 

Alih fungsi lahan yang tidak terkendali dapat mengurangi kapasitas produksi.
 

Kerusakan irigasi dapat meningkatkan risiko gagal panen.
 

Perubahan iklim dapat mengubah pola musim dan meningkatkan ancaman terhadap produksi.
 

Maka pembangunan infrastruktur pangan tidak cukup berupa gudang dan jalan distribusi.
 

Irigasi, waduk, embung, jalan usaha tani, teknologi pengairan, dan sistem informasi pertanian juga merupakan infrastruktur strategis.
 

Menjaga lahan pangan hari ini berarti menjaga kemampuan bangsa memberi makan generasi esok.
 

Teknologi Harus Masuk ke Sawah dan Ladang
 

Pertanian masa depan tidak boleh hanya mengandalkan cara-cara lama.
 

Indonesia membutuhkan pertanian yang semakin presisi, efisien, dan berbasis teknologi.
 

Sensor, data cuaca, kecerdasan buatan, mekanisasi, sistem irigasi modern, drone, hingga teknologi pascapanen dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi biaya.
 

Namun teknologi harus benar-benar sampai kepada petani.
 

Jangan sampai modernisasi pertanian hanya menjadi milik perusahaan besar.
 

Negara harus memastikan petani kecil juga dapat mengakses teknologi melalui pembiayaan, koperasi, pendampingan, dan kelembagaan yang kuat.
 

Sebab transformasi pertanian akan berhasil ketika teknologi tidak hanya berada di laboratorium, tetapi bekerja di sawah.
 

Distribusi Menentukan Harga Pangan
 

Pangan yang cukup belum tentu berarti harga terjangkau.
 

Masalah dapat muncul dalam distribusi.
 

Jarak antara sentra produksi dan konsumen, biaya transportasi, penyimpanan, rantai perdagangan yang panjang, serta informasi pasar yang tidak seimbang dapat membuat harga berubah secara tajam.
 

Karena itu, kebijakan pangan harus memperkuat rantai distribusi dari petani hingga konsumen.
 

Gudang dan cold storage perlu diperkuat.
 

Logistik harus semakin efisien.
 

Pasar rakyat harus diperhatikan.
 

Informasi harga harus transparan.
 

Dan kelembagaan petani harus diperkuat agar posisi tawarnya meningkat.
 

Harga pangan yang adil harus menguntungkan petani tanpa membebani konsumen.
 

Di sinilah negara harus menemukan keseimbangan.
 

Membaca Arah Politik Prabowo

 

Bagi Presiden Prabowo Subianto, pangan tidak semestinya ditempatkan hanya sebagai urusan produksi pertanian.
 

Pangan adalah bagian dari kemandirian bangsa.
 

Ketergantungan yang terlalu besar terhadap pasokan pangan dari luar negeri dapat menjadi kerentanan ketika dunia menghadapi perang, krisis energi, perubahan iklim, gangguan rantai pasok, atau gejolak harga global.
 

Karena itu, agenda swasembada pangan dalam pemerintahan Prabowo harus dibaca sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan nasional.
 

Di sini terdapat hubungan yang sangat jelas antara pangan, ekonomi kerakyatan, dan kedaulatan negara.
 

Petani yang produktif memperkuat produksi.
 

Produksi yang kuat mengurangi ketergantungan.
 

Distribusi yang efisien menjaga harga.
 

Harga yang terjangkau menjaga daya beli.
 

Dan masyarakat yang memiliki akses terhadap pangan yang cukup dan bergizi menjadi fondasi sumber daya manusia yang kuat.
 

Artinya, politik pangan sesungguhnya adalah politik tentang masa depan bangsa.
 

Karena itu, ukuran keberhasilan kebijakan pangan Prabowo tidak cukup hanya dilihat dari apakah Indonesia mampu mencapai swasembada pada satu komoditas.
 

Pertanyaan yang lebih besar adalah: apakah Indonesia sedang membangun sistem pangan nasional yang mandiri, produktif, berkeadilan, dan tahan terhadap krisis?
 

Di sinilah tantangan pemerintahan Prabowo.
 

Swasembada tidak boleh hanya berarti negara mampu menghasilkan pangan dalam jumlah besar.
 

Swasembada harus berjalan bersama kesejahteraan petani.
 

Jangan sampai produksi meningkat, tetapi petani tetap kesulitan.
 

Jangan sampai stok pangan tersedia, tetapi harga di tingkat konsumen tetap membebani masyarakat.
 

Jangan sampai hilirisasi menciptakan nilai tambah, tetapi petani hanya menjadi pemasok bahan mentah.
 

Karena itu, kebijakan pangan harus membangun keseimbangan antara kepentingan produsen, konsumen, dan negara.
 

Petani harus memperoleh harga yang layak.
 

Konsumen harus memperoleh harga yang terjangkau.
 

Negara harus memiliki cadangan pangan yang kuat.
 

Ketiganya harus berjalan bersama.
 

Di sinilah arah politik pangan Prabowo akan diuji.
 

Apakah negara hanya mengejar swasembada, atau membangun kedaulatan pangan?
 

Sebab keduanya tidak sepenuhnya sama.
 

Swasembada adalah kemampuan memproduksi.
 

Kedaulatan adalah kemampuan menentukan.
 

Dan negara yang berdaulat harus memiliki kemampuan menentukan bagaimana rakyatnya memperoleh pangan, bagaimana petaninya dilindungi, bagaimana cadangan dibangun, serta bagaimana sistem pangan bertahan ketika dunia menghadapi krisis.
 

Karena itu, agenda pangan pemerintahan Prabowo harus dilihat sebagai proyek jangka panjang.
 

Bukan sekadar program satu periode.
 

Bukan sekadar target produksi.
 

Tetapi pembangunan sebuah ekosistem pangan nasional.
 

Ekosistem yang menghubungkan petani dengan teknologi, pembiayaan, irigasi, pupuk, pasar, industri pengolahan, distribusi, hingga konsumen.
 

Jika ekosistem itu berhasil dibangun, Indonesia tidak hanya menghasilkan pangan.
 

Indonesia membangun kekuatan nasional.


“Swasembada pangan membuat negara mampu memproduksi. Kedaulatan pangan membuat negara mampu menentukan masa depannya.”
 

Di situlah pangan bertemu dengan visi besar pemerintahan Prabowo: membangun Indonesia yang lebih mandiri, kuat, dan tidak mudah terguncang oleh tekanan eksternal.
 

Dan pada akhirnya, keberhasilan politik pangan akan kembali kepada satu pertanyaan sederhana:
 

Apakah rakyat Indonesia semakin mudah memperoleh pangan yang cukup, bergizi, aman, dan terjangkau, sementara petaninya semakin sejahtera?
 

Jika jawabannya ya, maka kebijakan pangan bukan hanya berhasil sebagai program pemerintah.
 

Ia berhasil sebagai strategi negara.
 

Langkah Konkret Membangun Kedaulatan Pangan
 

Kedaulatan pangan membutuhkan langkah yang nyata dan konsisten.
 

Pertama, memperkuat produksi pangan nasional melalui peningkatan produktivitas, irigasi, benih, pupuk, mekanisasi, dan teknologi pertanian.
 

Kedua, meningkatkan kesejahteraan petani melalui kepastian pasar, akses pembiayaan, perlindungan harga, penguatan koperasi, dan peningkatan posisi tawar.
 

Ketiga, melindungi lahan pertanian produktif agar pembangunan tidak mengorbankan kapasitas produksi pangan jangka panjang.
 

Keempat, memperkuat cadangan dan distribusi pangan agar Indonesia memiliki kemampuan menghadapi krisis, bencana, gangguan rantai pasok, maupun gejolak harga global.
 

Kelima, mempercepat regenerasi petani dengan menjadikan pertanian sebagai sektor yang modern, menguntungkan, dan menarik bagi generasi muda.
 

Keenam, mengembangkan teknologi dan hilirisasi pangan agar hasil pertanian tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi menghasilkan nilai tambah bagi petani dan ekonomi nasional.
 

Inilah yang membedakan kebijakan pangan jangka pendek dengan strategi kedaulatan pangan.
 

Program dapat menghasilkan panen.
 

Tetapi sistem yang kuat menghasilkan ketahanan.
 

Pangan dan Ketahanan Nasional
 

Ketahanan nasional tidak hanya dibangun dengan kekuatan militer.
 

Ketahanan nasional juga dibangun melalui kemampuan negara memastikan rakyatnya dapat hidup secara aman dan layak.
 

Pangan berada di dalamnya.
 

Ketika harga pangan melonjak, inflasi meningkat.
 

Ketika pasokan terganggu, aktivitas ekonomi terdampak.
 

Ketika petani kehilangan penghasilan, kemiskinan dapat meningkat.
 

Ketika masyarakat kesulitan memperoleh makanan bergizi, kualitas sumber daya manusia ikut terancam.
 

Artinya, pangan memiliki hubungan langsung dengan ekonomi, kesehatan, pendidikan, stabilitas sosial, dan keamanan nasional.
 

Pangan adalah fondasi ketahanan nasional karena manusia yang lapar sulit membangun bangsa yang kuat.
 

Dari Ketahanan Pangan Menuju Kedaulatan Bangsa
 

Ketahanan pangan berarti negara mampu menghadapi gangguan.
 

Kedaulatan pangan berarti negara memiliki kemampuan menentukan masa depannya.
 

Keduanya saling berkaitan.
 

Indonesia tidak harus memproduksi semua jenis pangan sendiri.
 

Tetapi Indonesia harus memiliki kemampuan strategis untuk memastikan rakyatnya tetap memperoleh pangan dalam berbagai kondisi.
 

Itulah sebabnya diversifikasi pangan juga penting.
 

Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan yang sangat besar: beras, jagung, singkong, sagu, sorgum, umbi-umbian, ikan, dan berbagai sumber protein lainnya.
 

Kemandirian pangan tidak harus berarti satu jenis pangan untuk seluruh Indonesia.
 

Justru kekayaan pangan lokal dapat menjadi kekuatan strategis.
 

Bangsa yang mengenali kekayaan pangannya sendiri akan lebih kuat menghadapi ketidakpastian dunia.
 

Pangan sebagai Investasi Antar-Generasi
 

Kebijakan pangan tidak boleh hanya mengejar hasil panen tahun ini.
 

Yang harus dipikirkan adalah kemampuan bangsa memproduksi pangan dua puluh, tiga puluh, bahkan lima puluh tahun ke depan.
 

Karena itu, keberlanjutan menjadi sangat penting.
 

Tanah harus dijaga.
 

Air harus dilindungi.
 

Ekosistem harus dipelihara.
 

Teknologi harus dikembangkan.
 

Petani harus dipersiapkan.
 

Dan generasi muda harus dilibatkan.
 

Sebab lahan yang hilang hari ini mungkin tidak dapat dikembalikan.
 

Petani yang meninggalkan sawah hari ini mungkin sulit digantikan.
 

Dan sumber air yang rusak hari ini dapat menjadi persoalan bagi generasi berikutnya.
 

Kedaulatan pangan adalah investasi yang hasilnya diwariskan kepada generasi berikutnya.
 

Penutup
 

Pada akhirnya, pangan bukan sekadar apa yang kita makan.
 

Pangan adalah tentang seberapa kuat sebuah bangsa berdiri di atas kakinya sendiri.
 

Negara yang mampu memberi makan rakyatnya dengan produksi yang kuat, distribusi yang adil, harga yang terjangkau, dan sistem yang tahan terhadap krisis memiliki fondasi ketahanan nasional yang kokoh.
 

Karena itu, membangun kedaulatan pangan bukan hanya tugas sektor pertanian.
 

Ia adalah agenda ekonomi.
 

Agenda sosial.
 

Agenda kesehatan.
 

Agenda lingkungan.
 

Dan pada akhirnya, agenda kebangsaan.
 

Indonesia Emas 2045 tidak boleh hanya menjadi bangsa yang besar secara ekonomi.
 

Indonesia harus menjadi bangsa yang mampu memastikan rakyatnya hidup sehat, produktif, dan sejahtera.
 

Sebab negara yang kuat bukan hanya negara yang mampu mempertahankan wilayahnya.
 

Negara yang kuat adalah negara yang mampu memastikan rakyatnya tidak kehilangan harapan dan tidak kehilangan pangan.
 

“Membaca arah politik sebuah pemerintahan bukan hanya melihat seberapa besar negara mampu menghasilkan pangan, tetapi seberapa kuat negara memastikan pangan tersedia, terjangkau, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat. Sebab, kedaulatan pangan pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang tumbuh di tanah Indonesia, tetapi tentang kemampuan bangsa menentukan masa depannya sendiri.”
 

Penulis: Wartawan Senior, Pengurus Pusat IKALUIN Jakarta.
 

Bersambung ke Artikel (15): Energi, Industrialisasi, dan Kemandirian Ekonomirajamedia

Komentar: