Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Abu Anak Krakatau Bukan Debu Biasa, Ini Bahayanya bagi Pernapasan

Laporan: Firman
Selasa, 08 September 2026 | 20:48 WIB
Foto ilustrasi Raja Media Network - RMN -
Foto ilustrasi Raja Media Network - RMN -

RMBANTEN.COM — Kota Tangerang — Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK).
 

Selain mengikuti informasi resmi pemerintah, masyarakat diminta memahami dampak abu vulkanik terhadap kesehatan, khususnya terhadap sistem pernapasan.
 

Dokter Spesialis Paru RSUD Kota Tangerang, dr. Virginia Nurya Hikmawati, menegaskan abu vulkanik tidak bisa disamakan dengan debu biasa karena memiliki karakteristik dan kandungan berbeda.
 

Abu Vulkanik Mengandung Mineral dan Silika
 

Virginia menjelaskan, debu biasa dapat berasal dari tanah, serat kain, jamur, maupun alergen. Sementara abu vulkanik mengandung partikel mineral dan logam, termasuk kuarsa dan silika.
 

“Kalau debu biasa kandungannya bisa berupa tanah, serat kain, jamur, maupun alergen. Sementara abu vulkanik memiliki partikel mineral dan logam, termasuk kuarsa dan silika,” jelasnya melansir laman resmi Pemkot Tangerang, Selasa (8/9/2026).
 

Partikel abu vulkanik berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup.
 

Jika mencapai bagian paru-paru, partikel tersebut dapat memicu reaksi peradangan pada jaringan pernapasan.
 

Bisa Picu Kekambuhan Asma
 

Tubuh akan mengenali partikel abu vulkanik sebagai benda asing. Kondisi itu dapat memicu peningkatan produksi lendir pada saluran pernapasan.
 

Dampaknya dapat lebih berat bagi masyarakat yang sebelumnya telah memiliki gangguan pernapasan.
 

“Orang yang sudah memiliki penyakit pernapasan sebelumnya, bisa mengalami kekambuhan, seperti asma,” ungkap Virginia.
 

Karena itu, kelompok rentan perlu mendapatkan perhatian lebih dan mengurangi paparan abu vulkanik sebanyak mungkin.
 

Gejala Berbeda Sesuai Bagian Tubuh
 

Paparan abu vulkanik tidak hanya berdampak pada paru-paru. Gejala dapat muncul pada sejumlah bagian tubuh.
 

Pada mata, paparan abu dapat menimbulkan rasa perih dan gatal. Sementara pada hidung dan tenggorokan, abu dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, batuk, hingga sakit tenggorokan.
 

Jika partikel masuk lebih jauh hingga mencapai paru-paru, keluhan dapat berkembang menjadi batuk berat dan sesak napas.
 

“Kalau sudah ada sesak napas, itu menjadi salah satu tanda bahwa kita perlu mendapatkan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan,” katanya.
 

Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
 

Virginia mengingatkan masyarakat tidak mengabaikan gejala kesehatan setelah terpapar abu vulkanik.
 

Penggunaan masker menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi jumlah partikel yang terhirup. Masyarakat juga disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah yang tidak diperlukan, terutama kelompok rentan.
 

Bersihkan Diri Setelah dari Luar
 

Perlindungan tidak berhenti ketika masyarakat sudah masuk ke dalam rumah.
 

Setelah kembali dari luar, warga disarankan segera membersihkan diri dengan mencuci tangan dan wajah serta menjaga kebersihan tubuh untuk mengurangi partikel abu yang menempel.
 

“Intinya, kurangi pajanan, kurangi aktivitas di luar rumah yang tidak diperlukan, terutama bagi kelompok rentan. Tetap terapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta pantau informasi resmi dari pemerintah,” pungkasnya.
 

Pemkot Tangerang mengimbau masyarakat tetap tenang namun waspada. Dengan membatasi paparan, menggunakan pelindung yang tepat, menjaga kebersihan, dan segera mencari pertolongan medis ketika muncul gejala berat, risiko kesehatan akibat abu vulkanik dapat ditekan.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: