Dakwah Sampai Ujung Negeri! Kemenag Kirim 1.000 Dai ke Wilayah 3T

RMBANTEN.COM - Jakarta, 27 Februari 2025 – Kementerian Agama (Kemenag) kembali menggelar aksi nyata di bulan Ramadan. Tahun ini, 1.000 dai dan daiyah dikirim ke wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), wilayah khusus, hingga ke luar negeri.
Bukan sekadar ceramah, mereka membawa misi besar: memperkuat pemahaman agama, merajut harmoni sosial, dan menyelesaikan problematika umat di daerah perbatasan.
Pelepasan berlangsung pada Rabu (26/2) di Jakarta dalam acara Ceremony Pembekalan dan Pelepasan Dai ke Wilayah 3T, Wilayah Khusus, dan Imam Diaspora Indonesia di Luar Negeri Tahun 2025. Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad, secara simbolis menyerahkan bendera merah putih kepada perwakilan dai sebagai tanda pelepasan tugas mulia ini.
“1.000 dai ini siap terpisah selama sebulan dari keluarga. Perjalanan penuh tantangan, tapi juga penuh pahala luar biasa,” ujar Abu Rokhmad.
Dakwah ke Pelosok, Imam Diaspora ke Mancanegara
Program pengiriman dai ke wilayah 3T bukan hal baru. Sejak 2022, Kemenag rutin mengirim pendakwah untuk memperkuat nilai agama dan kearifan lokal. Tahun ini lebih spesial. Selain menjangkau pelosok, Kemenag juga mengirim lima dai ke Australia, Jerman, dan Selandia Baru untuk melayani diaspora Indonesia. Para dai yang dikirim ke luar negeri ini bukan sembarang orang, mereka adalah peraih juara MTQ tingkat nasional.
Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, menyebut meningkatnya permintaan layanan keagamaan dari luar negeri menjadi bukti Indonesia semakin diakui dalam kajian dan praktik keislaman.
“Lihat saja UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia), 70 persen mahasiswanya dari luar negeri. Bahkan, permintaan imam dan khatib datang dari Kuwait dan Uni Emirat Arab,” kata Zayadi.
Tak Sekadar Ceramah, Wajib Aktif di Medsos!
Dakwah era sekarang bukan hanya mimbar dan majelis, tapi juga media sosial. Abu Rokhmad menegaskan, setiap dai harus mendokumentasikan aktivitasnya, aktif di media sosial, dan membuat laporan berbasis data untuk mengukur dampak dakwahnya.
“Negara butuh tangan-tangan kreatif dan niat baik para dai. Bangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Jangan cuma ceramah, tapi juga ajak mereka bekerja keras sesuai bidangnya,” pesannya.
Zayadi menambahkan, seorang dai tak cukup hanya pandai bicara, tapi juga harus memahami audiensnya secara psikologis dan sosial.
“Dakwah yang efektif itu yang bisa menyentuh hati dan menyelesaikan masalah nyata masyarakat,” ujarnya.
Program ini tak berjalan sendiri. Sejumlah lembaga, seperti BAZNAS, Dompet Dhuafa, BSI Maslahat, hingga Ponpes As’adiyah ikut mendukung keberangkatan para dai. Para pendakwah ini akan bertugas mulai 27 Februari hingga akhir Ramadan, membawa misi dakwah ke seluruh penjuru negeri dan dunia.
Dakwah bukan sekadar kata-kata. Bagi para dai ini, Ramadan adalah perjalanan suci, meninggalkan kenyamanan demi menyebarkan cahaya Islam ke pelosok negeri. Bukan tugas ringan, tapi pahala tak akan ringan pula!
Warta Banten 1 hari yang lalu

Pulitik Jero | 1 hari yang lalu
Pamenteun | 1 hari yang lalu
Warta Banten | 1 hari yang lalu
Pulitik Jero | 3 hari yang lalu
Kaamanan | 2 hari yang lalu
Info haji | 1 hari yang lalu
Ékobis | 1 hari yang lalu
Pulitik Jero | 6 hari yang lalu
Gaya Hirup | 6 hari yang lalu