Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Ricuh di Sekolah Islam Pembangunan, Psikolog: Anak Bisa Trauma Jangka Panjang!

Laporan: Tim Redaksi
Jumat, 05 Juni 2026 | 08:21 WIB
Ketua Kesehatan Mental Indonesia sekaligus Ketua IKALUIN 97, Hena Rustiana - Foto: Istimewa -
Ketua Kesehatan Mental Indonesia sekaligus Ketua IKALUIN 97, Hena Rustiana - Foto: Istimewa -

RMBANTEN.COM — Tangsel, Pendidikan — Peristiwa ketegangan yang terjadi di lingkungan TK Islam Pembangunan dan SD Islam Pembangunan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Kamis (4/6/2026), menjadi sorotan luas publik.


Insiden yang melibatkan rombongan yang diduga berasal dari pihak UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan pihak Yayasan Syarif Hidayatullah itu memicu suasana panas di area sekolah.


Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat aksi saling dorong, adu argumen, hingga upaya mempertahankan pintu gerbang sekolah. Situasi tersebut membuat para siswa, guru, dan orang tua murid dilanda kepanikan.


Publik Sesalkan Konflik Terjadi di Area Sekolah


Banyak kalangan menyesalkan terjadinya kericuhan di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi anak-anak.

Apalagi insiden tersebut terjadi saat aktivitas sekolah berlangsung dan disaksikan langsung oleh para siswa.


Sejumlah pihak menilai peristiwa itu menjadi preseden buruk bagi dunia pendidikan karena mempertontonkan konflik orang dewasa di hadapan anak-anak.


Psikolog: Anak Bisa Kehilangan Rasa Aman


Ketua Kesehatan Mental Indonesia, Hena Rustiana, mengatakan peristiwa tersebut termasuk kejadian luar biasa yang berpotensi memberikan dampak serius terhadap kondisi psikologis anak.


Menurut Hena, anak pada dasarnya memandang sekolah sebagai tempat aman.


Ketika situasi mengancam muncul di lingkungan sekolah, anak dapat mengalami shock, ketakutan, kepanikan, hingga kehilangan rasa aman.


“Anak-anak bisa mengalami stres, menangis, gemetar, dan sulit berkonsentrasi,” ujar Hena.


Trauma Bisa Berkepanjangan


Hena yang juga Ketua IKALUIN 97 menjelaskan, bila tidak ditangani dengan tepat, pengalaman tersebut dapat meninggalkan dampak psikologis jangka panjang.


Mulai dari trauma, menurunnya rasa aman, hingga hilangnya kepercayaan terhadap orang dewasa dan institusi pendidikan.


Ia menegaskan bahwa dari perspektif psikologi anak, kejadian seperti itu bukan sekadar konflik orang dewasa yang kebetulan disaksikan anak.


“Ketika terjadi di lembaga pendidikan, apalagi saat kegiatan sekolah berlangsung, anak bisa memaknainya sebagai ancaman langsung terhadap keselamatan dirinya,” katanya.


"Ada Darah Mengalir, Dampak Bisa Lebih Berat"


Menurut Hena, dampak psikologis menjadi lebih berat jika anak-anak bukan hanya menyaksikan kontak fisik, tetapi juga melihat adanya darah dalam insiden tersebut.


Ia menyebut kondisi itu masuk dalam kategori Early Adverse Experiences atau pengalaman negatif pada masa perkembangan awal anak.


“Anak-anak terpapar terlalu dini pada konflik orang dewasa. Apalagi mereka menyaksikan figur yang dianggap aman justru terluka,” ujarnya.


Bisa Ganggu Resiliensi Anak


Hena mengingatkan pengalaman tersebut berpotensi menjadi faktor risiko bagi kesehatan mental anak dan perkembangan resiliensi mereka di masa depan.


Bahkan, bila tidak segera ditangani secara tepat, anak-anak bisa memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap stres dan trauma di kemudian hari.


Perlu Pemulihan dan Pendampingan


Ia menilai langkah pemulihan psikologis dan pendampingan terhadap anak-anak harus segera dilakukan oleh pihak sekolah maupun keluarga.


Selain itu, komunikasi yang baik kepada siswa dan orang tua dinilai penting agar rasa aman anak dapat dipulihkan kembali.


Peristiwa ini kini terus menjadi perhatian publik setelah video kericuhan viral di berbagai platform media sosial.rajamedia

Komentar: