Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Negara Kokoh! Menag: Keluarga Benteng Utama Membangun Masyarakat Beradab

Laporan: Iyan Sopian
Minggu, 04 Januari 2026 | 10:37 WIB
Menag Nasaruddin Umar saat menjadi pembicara dalam Seminar Natal Nasional 2025 di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT), Jakarta, Sabtu (3/1/2026). - Ist/RMN -
Menag Nasaruddin Umar saat menjadi pembicara dalam Seminar Natal Nasional 2025 di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT), Jakarta, Sabtu (3/1/2026). - Ist/RMN -

RMBANTEN.COM - Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kekuatan sebuah negara tidak pernah lahir dari sistem semata, melainkan dari ketahanan keluarga. Di tengah tekanan kehidupan metropolitan, keluarga dinilai menjadi benteng utama dalam membangun masyarakat yang beradab dan negara yang kokoh.
 

Penegasan itu disampaikan Menag saat menjadi pembicara dalam Seminar Natal Nasional 2025 bertema “Keluarga Bertahan di Tengah Tantangan Metropolitan”, yang digelar di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT), Jakarta, Sabtu (3/1/2026).
 

Kitab Suci Bicara Keluarga, Bukan Sekadar Negara
 

Menurut Menag, ajaran agama menempatkan keluarga sebagai inti kehidupan sosial. Ia menilai, baik dalam Al-Qur’an maupun Alkitab, pembahasan mengenai keluarga justru jauh lebih dominan dibandingkan pembahasan tentang negara.

“Norma-norma tentang keluarga jauh lebih banyak dibahas dalam kitab suci dibandingkan norma tentang negara. Tidak mungkin ada negara yang ideal jika masyarakatnya berantakan, dan tidak mungkin ada masyarakat yang ideal jika keluarganya rapuh,” tegas Nasaruddin Umar.
 

Keluarga Bukan Sekadar Ikatan Biologis
 

Menag menjelaskan, konsep keluarga dalam perspektif agama tidak berhenti pada relasi biologis antara ayah, ibu, dan anak. Keluarga juga mencakup dimensi spiritual, sosial, dan intelektual.
 

“Anak itu bukan hanya anak biologis, tetapi juga anak spiritual, anak sosial, dan anak intelektual. Karena itu, siapa pun yang belum berkeluarga atau tidak memiliki anak biologis jangan merasa kehilangan peran,” jelasnya.
 

Perceraian dan Ancaman Sosial Baru
 

Menag mengingatkan bahwa salah satu tantangan terbesar masyarakat perkotaan saat ini adalah meningkatnya angka perceraian. Dampaknya, kata dia, tidak hanya merusak relasi suami-istri, tetapi juga melahirkan persoalan sosial baru.
 

“Perceraian sering melahirkan kelompok miskin baru, terutama perempuan dan anak-anak. Banyak persoalan sosial, termasuk penyalahgunaan narkoba, berakar dari keluarga yang tidak utuh secara emosional,” ungkapnya.
 

Ikatan Emosional Tak Kalah Penting
 

Dalam konteks penguatan keluarga, Menag menekankan bahwa dukungan ekonomi saja tidak cukup. Ia menyoroti pentingnya membangun ikatan emosional yang berkelanjutan dalam keluarga biologis maupun keluarga spiritual.
 

“Kita sering membiayai, memberi beasiswa, tetapi lupa membangun ikatan emosional. Padahal hubungan batin itulah yang menjaga ketahanan keluarga dan membentuk karakter generasi muda,” tegasnya.
 

Persamaan Nilai Lintas Iman
 

Menag juga mengajak umat beragama untuk melihat persamaan nilai luhur antaragama, khususnya antara Islam dan Kristen. Menurutnya, semakin dalam pemahaman terhadap kitab suci, semakin banyak titik temu yang ditemukan.
 

“Agama tidak pernah mengajarkan kebencian. Semakin dalam kita memahami kitab suci, semakin banyak persamaan yang kita temukan,” ujarnya.
 

Ujian Keluarga Bagian dari Pendewasaan
 

Menutup paparannya, Menag mengingatkan masyarakat agar tidak mudah putus asa ketika menghadapi ujian rumah tangga. Ia mencontohkan banyak tokoh besar dalam sejarah agama yang lahir dari keluarga dengan tantangan berat, termasuk dari keluarga orang tua tunggal.
 

“Ujian dalam keluarga adalah bagian dari proses pendewasaan. Setiap ujian selalu disertai peluang untuk naik kelas dalam kehidupan,” katanya.

 

Menuju Puncak Natal Nasional 2025
 

Seminar Natal Nasional 2025 menghadirkan narasumber lintas sektor, di antaranya Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan James T. Riady, serta dihadiri Ketua Panitia Natal Nasional 2025 Maruarar Sirait, pimpinan kementerian dan lembaga, dan tokoh masyarakat.
 

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menuju Perayaan Natal Nasional 2025 yang mengusung tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”, dan akan digelar besok, Minggu, 5 Januari 2026.rajamedia

Komentar: