Lebaran, Board of Peace, dan Pilihan yang Tidak Pernah Netral
RMBANTEN.COM - SAYA membayangkan suasana pagi Idul Fitri.
Takbir pelan. Jalanan lengang. Orang-orang saling memaafkan.
Di saat yang sama, di belahan lain dunia, suara yang terdengar bukan takbir. Tapi sirene. Ledakan. Dan laporan korban.
Saya teringat satu istilah yang belakangan sering disebut: Board of Peace.
Indonesia masuk di dalamnya.
Niatnya baik. Sangat baik. Membantu Palestina. Menjaga perdamaian. Ikut memulihkan Gaza.
Tapi saya berhenti di satu titik.
Board of Peace itu… dipimpin oleh Amerika Serikat.
Negara yang selama ini berdiri di belakang Israel.
Saya ulang pelan-pelan.
Forum damai.
Dipimpin oleh pihak yang juga bagian dari konflik.
Saya tidak bilang ini salah. Tapi jelas ini tidak sederhana.
Lalu situasi berkembang.
Iran ikut terseret. Bahkan diserang.
Iran—yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai pendukung Palestina.
Peta berubah. Cepat sekali.
Dari konflik lokal, menjadi regional.
Dari Gaza, melebar ke kawasan.
Dan Indonesia… tetap di Board of Peace.
Di sinilah saya mulai bertanya.
Apakah kita sedang ikut menyelesaikan masalah?
Atau justru sedang masuk ke dalam desain besar yang sudah disusun pihak lain?
Saya tidak punya jawabannya. Tapi pertanyaannya penting.
Saya teringat nasihat ulama.
Mustofa Bisri pernah bilang:
agama harus berpihak pada kemanusiaan.
Sederhana. Tapi berat.
Karena dalam politik, kemanusiaan sering kalah oleh kepentingan.
Saya juga teringat ajaran Abah Anom.
Tentang kejujuran hati. Tentang tidak menipu diri sendiri.
Dalam konteks negara, itu berarti satu hal:
jangan sampai kita terlihat memperjuangkan damai… tapi sebenarnya hanya menjaga posisi.
Indonesia punya prinsip “bebas aktif”.
Bebas. Tidak berpihak.
Aktif. Ikut menciptakan perdamaian.
Bagus. Ideal.
Tapi dunia tidak selalu ideal.
Kadang, tidak berpihak itu justru dianggap tidak berani.
Kadang, aktif itu hanya berarti hadir—bukan menentukan.
Di bawah Prabowo Subianto, pilihan itu menjadi nyata.
Tetap di jalur aman?
Atau mulai mengambil risiko?
Karena masuk Board of Peace saja tidak cukup.
Yang lebih penting:
apakah kita bisa memengaruhi arah perdamaian itu?
Atau hanya menjadi peserta yang baik?
Idul Fitri selalu mengajarkan satu hal: kembali jujur.
Jujur pada diri sendiri.
Jujur pada pilihan.
Dalam geopolitik, kejujuran itu berarti berani melihat kenyataan:
bahwa dunia tidak hanya diisi oleh niat baik,
tapi juga oleh kepentingan besar.
Saya tidak ingin menutup tulisan ini dengan kesimpulan.
Biarlah pertanyaannya tetap menggantung.
Mungkin itu lebih jujur.
Indonesia ada di Board of Peace.
Dunia sedang tidak damai.
Pertanyaannya tinggal satu:
kita sedang ikut menciptakan damai…
atau sekadar ikut dalam cara dunia mengelola konflik?
Penulis: Wartawan Senior, Ketua DPP PJS, Pengurus Pusat IKALUIN Jakarta![]()
Patandang | 6 hari yang lalu
Nagara | 2 hari yang lalu
Kaamanan | 5 hari yang lalu
Parlemen | 6 hari yang lalu
Ékobis | 3 hari yang lalu
Warta Banten | 2 hari yang lalu
Pulitik Jero | 4 hari yang lalu
Hukum | 6 hari yang lalu
Patandang | 6 hari yang lalu