Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Kemiskinan Harus Putus! Gus Ipul Gas Sekolah Rakyat, Sasar Anak dan Keluarga

Laporan: Raja Media Network
Senin, 04 Mei 2026 | 16:50 WIB
Menteri Sosial Saifullah Yusuf - Foto: Dok Kemensos -
Menteri Sosial Saifullah Yusuf - Foto: Dok Kemensos -

RMBANTEN.COM - Jakarta – Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) tancap gas melawan kemiskinan lewat jalur pendidikan. Program Sekolah Rakyat disiapkan sebagai strategi besar—bukan hanya menyasar anak, tapi juga keluarganya.
 

“Sekolah Rakyat ini bukan sekadar pendidikan, tapi jalan keluar dari kemiskinan,” tegas Gus Ipul, Minggu (3/5/2026).
 

Sasar Keluarga, Bukan Sekadar Anak
 

Gus Ipul menekankan pendekatan baru: intervensi harus menyentuh seluruh ekosistem keluarga.
 

Tujuannya:
 

1. Anak sekolah 

2. Keluarga ikut naik kelas 

3. Kemiskinan diputus dari akarnya 
 

“Kalau anak lulus, keluarganya juga harus ikut terangkat,” ujarnya.


4 Juta Anak “Tak Terlihat”
 

Data menunjukkan kondisi darurat pendidikan:
 

1. Lebih dari 4 juta anak usia 7–18 tahun 

2. Tidak sekolah, putus sekolah, atau berisiko putus 
 

Data dari Badan Pusat Statistik memperkuat fakta bahwa masih banyak anak belum tersentuh sistem pendidikan.
 

“Ada anak-anak yang invisible, ada di sekitar kita tapi tak terjangkau program,” kata Gus Ipul.
 

Sekolah Rakyat: Angkat dari Lapisan Bawah
 

Program ini dirancang sebagai “pengungkit dari bawah”.
 

Fokusnya:
 

1. Menjangkau kelompok paling rentan 

2. Mempersempit kesenjangan pendidikan 

3. Memberi akses bagi yang tertinggal 
 

“Kalau ingin semua naik, harus mulai dari bawah,” tegasnya.
 

Gotong Royong Jadi Kunci
 

Dengan keterbatasan anggaran, pemerintah tak bisa bekerja sendiri.
 

Gus Ipul menegaskan:
 

1. Perlu kolaborasi masyarakat 

2. Partisipasi publik harus dibuka 

3. Program harus sampai ke akar rumput 
 

“Gotong royong itu keharusan, bukan pilihan,” ujarnya.
 

Tantangan Digital: Anak Siap, Sistem Belum
 

Gus Ipul juga menyoroti paradoks pendidikan saat ini:
 

1. Anak-anak: digital native 

2. Sistem: belum merata 
 

Ketimpangan akses teknologi masih jadi masalah serius.
 

Mu’ti: Lingkungan Tentukan Masa Depan Anak
 

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan faktor lingkungan sangat menentukan.
 

“Lingkungan belajar dan sosial yang baik jadi kunci keberhasilan,” ujarnya.
 

Ia juga menekankan pentingnya birokrasi mampu membaca kesenjangan dan menutupnya.
 

Pesan Keras Pemerintah
 

Program Sekolah Rakyat bukan proyek biasa.
 

Ini misi besar: angkat yang tertinggal, putus rantai kemiskinan, dan pastikan tak ada anak yang hilang dari sistem.rajamedia

Komentar: