Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Polemik Internet RI-Singapura, Meutya Hafid Tegaskan Posisi Strategis Indonesia

Laporan: Raja Media Network
Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:10 WIB
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid - RMN -
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid - RMN -

RMBANTEN.COM — Jakarta — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid meminta masyarakat Indonesia tidak terpancing emosi menyikapi pernyataan mantan anggota parlemen Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, yang menyinggung kemungkinan pemutusan jalur internet Indonesia.
 

Meutya menegaskan, konektivitas digital Indonesia dan Singapura saling berkaitan. Sebagian jalur Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang terhubung ke Singapura melintasi perairan Indonesia.
 

“Kita tidak perlu geram. Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang mendarat di Singapura, tidak sampai dengan tiba-tiba. Sebagian besar jalurnya melalui perairan Indonesia,” kata Meutya melalui akun Instagram pribadinya, dikutip Rabu (28/10/2026).
 

Kabel Laut, Infrastruktur Strategis Dua Negara
 

Meutya menjelaskan, posisi geografis jalur kabel laut menunjukkan bahwa konektivitas digital kedua negara tidak bisa dipandang sebagai kepentingan sepihak.
 

Menurut dia, jika kabel laut tersebut dipotong atau mengalami gangguan, Singapura juga berpotensi menghadapi dampak besar. Meutya menyebut sekitar 80 persen kapasitas konektivitas Singapura dapat terancam lumpuh.
 

Pernyataan tersebut disampaikan untuk menegaskan bahwa infrastruktur digital regional saling terhubung dan membutuhkan kerja sama dalam menjaga keberlangsungannya.
 

Indonesia Punya Daya Tawar Digital
 

Selain faktor infrastruktur, Meutya menyoroti besarnya potensi pasar digital Indonesia. Dengan jumlah penduduk sekitar 47 kali lipat Singapura dan ratusan juta masyarakat terhubung ke internet, Indonesia memiliki posisi strategis dalam ekosistem teknologi regional.
 

“Penduduk Indonesia jumlahnya 47 kali lipat dari Singapura. 267 juta masyarakat terhubung ke internet. Tanpa angka ini, investor perusahaan teknologi global berpotensi angkat kaki dari Singapura,” ujarnya.
 

Besarnya pasar Indonesia menjadi salah satu faktor penting bagi investasi perusahaan teknologi global. Karena itu, hubungan konektivitas kedua negara perlu dibangun melalui kepentingan bersama, bukan ancaman yang berpotensi merugikan kedua pihak.
 

Polemik Bermula dari Unggahan Calvin Cheng
 

Polemik ini mencuat setelah Calvin Cheng mengunggah infografis bertajuk Indonesia’s Internet Dependence on Singapore melalui akun X miliknya pada Minggu (25/10/2026).
 

Infografis tersebut mengklaim sekitar 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia terhubung melalui Singapura. Unggahan itu disertai pertanyaan singkat, “Cut?” atau “Potong?”, yang memicu perbincangan di media sosial.
 

Namun, dalam unggahan berikutnya, Calvin menyatakan bahwa Singapura tidak akan melakukan pemutusan tersebut dan menyinggung kepatuhan terhadap hukum.
 

Dengan demikian, pernyataan Calvin tersebut perlu dibedakan dari kebijakan resmi pemerintah Singapura.
 

Menkomdigi Ajak Jaga Konektivitas Global
 

Meski menegaskan posisi strategis Indonesia, Meutya mengingatkan pentingnya menjaga infrastruktur digital secara bersama-sama. Menurutnya, jaringan komunikasi internasional bukan hanya menyangkut kepentingan Indonesia dan Singapura, tetapi juga konektivitas global.
 

“Kita tidak boleh berpikir kerdil. Infrastruktur digital adalah sektor yang perlu dijaga bersama, tidak hanya untuk kepentingan kedua negara tapi juga untuk konektivitas global,” tegasnya.
 

Pernyataan Meutya menegaskan bahwa ketahanan digital perlu dibangun melalui kerja sama, penghormatan terhadap kepentingan bersama, serta penguatan infrastruktur yang mendukung konektivitas internasional.
 

RAJA MEDIA — Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: