Ramai-ramai Ikut Kebijakan Dedi Mulyadi

RMBANTEN.COM - DULU ditertawakan. Sekarang ditiru.
Dedi Mulyadi tidak pernah berubah. Gayanya tetap nyeleneh. Pakai iket kepala. Duduk di mana saja. Bicara dengan siapa saja. Bantu orang tanpa birokrasi yang ribet.
Tapi dulu, banyak yang meremehkan. Dibilang pencitraan. Gaya kampungan. Tidak sistematis.
Sekarang?
Banyak yang meniru.
Gaya yang Dekat dengan Rakyat
Bupati, wali kota, bahkan gubernur mulai turun ke lapangan.
Dulu, pemimpin daerah lebih sering di ruang rapat. Sekarang, mereka lebih sering di warung kopi. Lebih sering masuk kampung. Lebih sering mendengar langsung keluhan warga.
Ada yang benar-benar terinspirasi. Ada yang sekadar ikut tren.
Dedi Mulyadi tidak punya teori rumit soal kebijakan publik. Baginya, kalau ada orang miskin butuh bantuan, ya bantu. Kalau ada warga susah, ya turun langsung.
Tidak pakai banyak kajian. Tidak menunggu anggaran disetujui.
Dulu Dianggap Lebay, Sekarang Jadi Contoh
Dulu, orang melihat Dedi hanya sebagai sosok yang suka blusukan dan bagi-bagi uang di media sosial.
Sekarang, orang mulai sadar.
Metodenya efektif. Masalah cepat selesai. Birokrasi tidak berbelit.
Yang lebih penting: rakyat merasa dekat dengan pemimpinnya.
Maka, tidak heran kalau banyak kepala daerah ikut-ikutan.
Mulai dari yang benar-benar niat, sampai yang sekadar cari sorotan kamera.
Meniru Itu Mudah, Tulus Itu Susah
Siapa pun bisa meniru gaya Dedi Mulyadi.
Pakai baju sederhana. Duduk di warung kopi. Blusukan ke pasar.
Tapi apakah mereka juga benar-benar mendengar rakyat? Apakah mereka turun ke lapangan karena peduli, atau hanya ingin viral?
Meniru gaya itu mudah. Tapi meniru ketulusan, tidak semua bisa.
Dan rakyat, selalu tahu mana yang sungguh-sungguh, mana yang sekadar pencitraan.
Warta Banten 4 hari yang lalu

Mancanagara | 5 hari yang lalu
Nagara | 6 hari yang lalu
Hukum | 6 hari yang lalu
Hukum | 5 hari yang lalu
Nagara | 5 hari yang lalu
Warta Banten | 1 hari yang lalu
Peristiwa | 6 hari yang lalu
Hukum | 2 hari yang lalu
Nagara | 1 hari yang lalu