Dikukuhkan Guru Besar Tafsir Maqashidi, Prof. Hasani Tawarkan Paradigma Teks hingga Peradaban
RMBANTEN.COM – Jakarta – Prof. Dr. Hasani Ahmad Said, M.A. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Tafsir Maqashidi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (30/9/2026). Dalam momentum akademik tersebut, Prof. Hasani memperkenalkan formula metodologis yang menempatkan tafsir Al-Qur’an tidak berhenti pada pemahaman teks, tetapi bergerak dari teks menuju tujuan, kemaslahatan, rahmat, hingga peradaban.
Pengukuhan berlangsung di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Gagasan tersebut menjadi inti paradigma Tafsir Maqashidi yang dikembangkan Prof. Hasani dalam membaca pesan Al-Qur’an agar tetap relevan dengan kebutuhan manusia dan tantangan kehidupan kontemporer.
Dari Teks Menuju Tujuan dan Kemaslahatan
Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Hasani merumuskan Tafsir Maqashidi melalui rangkaian:
“Dari teks menuju tujuan, dari tujuan menuju kemaslahatan, dari kemaslahatan menuju rahmat, dan dari rahmat menuju peradaban.”
Ia juga merumuskannya dalam bahasa Arab:
مِنَ النَّصِّ إِلَى الْمَقْصَدِ، وَمِنَ الْمَقْصَدِ إِلَى الْمَصْلَحَةِ، وَمِنَ الْمَصْلَحَةِ إِلَى الرَّحْمَةِ، وَمِنَ الرَّحْمَةِ إِلَى الْحَضَارَةِ
Menurut Prof. Hasani, teks tetap menjadi titik awal dalam proses penafsiran, tetapi bukan tujuan akhirnya.
“Teks adalah titik berangkat, tetapi bukan titik akhir. Kita memahami teks untuk menemukan maqshad, maqshad diwujudkan dalam kemaslahatan, kemaslahatan dihadirkan sebagai rahmat, dan rahmat pada akhirnya harus memberikan kontribusi bagi lahirnya peradaban.”
Tafsir Tidak Berhenti pada Pemahaman Teks
Dalam paradigma tersebut, proses penafsiran Al-Qur’an dimulai dengan membaca dan memahami al-nash, kemudian bergerak menemukan tujuan atau maksud yang terkandung di balik teks atau al-maqshad.
Tujuan tersebut selanjutnya diarahkan pada pencapaian al-maslahah, yakni kemaslahatan yang relevan dengan kehidupan manusia.
Tahap berikutnya membawa kemaslahatan menuju al-rahmah. Pesan Al-Qur’an diharapkan tidak berhenti sebagai kesimpulan teoritis, tetapi hadir dalam bentuk nilai kasih sayang, keadilan, kedamaian, dan kebermanfaatan.
Dari rahmat itulah kemudian lahir orientasi yang lebih luas, yakni al-hadharah atau tamaddun, berupa pembangunan peradaban yang berkeadaban.
Tafsir Maqashidi Hadir Menjawab Persoalan Kontemporer
Paradigma yang ditawarkan Prof. Hasani berupaya mempertemukan kesetiaan terhadap teks Al-Qur’an dengan tujuan-tujuan kemanusiaan serta kebutuhan kehidupan kontemporer.
Pendekatan maqashidi juga menjadi salah satu perhatian dalam kajian-kajian Prof. Hasani sebelumnya, termasuk dalam membaca persoalan aktual seperti ekologi dan literasi Al-Qur’an.
Dengan pendekatan tersebut, tafsir ditempatkan bukan sekadar sebagai aktivitas memahami makna teks, tetapi juga sebagai proses mengaktualisasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat.
Guru Besar dan Pengabdian Keilmuan
Pengukuhan ini menjadi capaian akademik penting bagi Prof. Hasani sekaligus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan studi tafsir di Indonesia.
Selain aktivitas akademik, Prof. Hasani juga dikenal sebagai pengasuh tetap kajian tafsir Serambi Islami yang tayang setiap Jumat pagi di TVRI. Ia juga mengasuh kajian tafsir di sejumlah masjid di Jakarta dan Tangerang Selatan.
Melalui berbagai ruang akademik dan pengajian tersebut, gagasan Tafsir Maqashidi yang dikembangkannya terus diarahkan agar dapat dipahami dan diterapkan dalam menjawab persoalan kehidupan.
Dari Al-Qur’an untuk Peradaban
Prof. Hasani kembali menegaskan bahwa Tafsir Maqashidi tidak berhenti pada teks.
“Tafsir Maqashidi tidak berhenti pada teks, tetapi bergerak dari teks menuju maqashid, dari maqashid menuju maslahah, dari maslahah menuju rahmah, dan dari rahmah menuju peradaban.”
Formula tersebut menjadi benang merah paradigma yang ia tawarkan: Al-Qur’an dibaca melalui teks, dipahami melalui tujuan, diwujudkan dalam kemaslahatan, dihadirkan sebagai rahmat, dan diorientasikan bagi lahirnya peradaban yang berkeadaban.
Pengukuhan sebagai Guru Besar Tafsir Maqashidi pun tidak hanya menjadi pencapaian akademik personal, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat peran studi tafsir dalam merespons tantangan masyarakat dan perkembangan kehidupan kontemporer.
RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Parlemen 6 hari yang lalu
Pulitik Jero | 5 hari yang lalu
Patandang | 5 hari yang lalu
Patandang | 3 hari yang lalu
Patandang | 2 hari yang lalu
Hukum | 4 hari yang lalu
Patandang | 5 hari yang lalu
Pulitik Jero | 6 hari yang lalu
Warta Banten | 1 hari yang lalu
Parlemen | 6 hari yang lalu




