Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Dari Cilegon ke Puncak Akademik, Prof. Hasani Resmi Sandang Guru Besar Tafsir Maqashidi

Laporan: Zaki
Selasa, 14 Juli 2026 | 10:39 WIB
Foto ilustrasi - RMN -
Foto ilustrasi - RMN -

RMBANTEN.COM — Jakarta — Menyandang gelar Guru Besar Tafsir Maqashidi bukanlah capaian yang datang dalam semalam bagi Prof. Dr. Hasani Ahmad Said, S.Th.I., M.A. Di balik pengakuan akademik tertinggi itu tersimpan perjalanan panjang, disiplin keilmuan, serta produktivitas riset yang konsisten selama lebih dari dua dekade.
 

Lahir di Cilegon, Banten, 21 Februari 1982, Prof. Hasani tumbuh dalam lingkungan sederhana yang menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur'an sejak usia dini. Bekal pendidikan pesantren kemudian mengantarkannya memasuki dunia akademik hingga menjadi salah satu mufasir Indonesia yang diperhitungkan.
 

Menempuh Satu Jalur Keilmuan
 

Tidak banyak akademisi yang meniti seluruh jenjang pendidikannya pada satu bidang ilmu. Prof. Hasani memilih jalan itu.

Mulai dari sarjana, magister, hingga doktor, seluruhnya diselesaikan di bidang Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
 

Kesungguhannya memperdalam ilmu juga membawanya mengikuti Program Pendidikan Kader Mufassir di Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ). Tahun 2011, ia memperoleh kesempatan menjalani program post-doctoral di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, melalui beasiswa PSQ.
 

Pada tahun yang sama, ia menuntaskan disertasi doktoralnya dengan predikat lulusan terbaik, sebuah capaian yang menjadi fondasi kuat perjalanan akademiknya.
 

Produktif Menulis dan Meneliti
 

Di lingkungan akademik, Prof. Hasani dikenal sebagai dosen sekaligus peneliti yang sangat produktif.
 

Puluhan artikel ilmiah telah dipublikasikan di jurnal nasional maupun internasional. Karya-karyanya banyak dikutip oleh peneliti lain dalam kajian metodologi tafsir, ulumul Qur'an, sejarah Al-Qur'an, hingga perkembangan tafsir Nusantara.
 

Produktivitas tersebut juga tercermin dari sederet buku yang menjadi referensi di berbagai perguruan tinggi.
 

Di antaranya Tafsir Maqashidi: Metodologi Penafsiran Al-Qur'an Berbasis Maqashid al-Syari'ah, yang diterbitkan Rajawali Pers pada 2026. Buku itu dinilai sebagai salah satu karya penting dalam merumuskan metodologi Tafsir Maqashidi di Indonesia.
 

Selain itu, ia juga menulis Munasabah Al-Qur'an, Sejarah Al-Qur'an, Gaya Bahasa Majaz dalam Al-Qur'an, Pembaruan Tafsir Nusantara, Tafsir Tasawuf, Studi Islam: Kajian Islam Kontemporer, serta berbagai karya ilmiah lainnya.
 

Membawa Tafsir Maqashidi ke Level Baru
 

Nama Prof. Hasani hampir selalu dikaitkan dengan pengembangan Tafsir Maqashidi.
 

Melalui pendekatan tersebut, ia menegaskan bahwa penafsiran Al-Qur'an tidak boleh berhenti pada makna tekstual semata. Menurutnya, pesan Al-Qur'an harus mampu memberikan jawaban atas berbagai tantangan zaman, mulai dari persoalan kemanusiaan, keadilan sosial, lingkungan hidup, moderasi beragama, hingga perkembangan teknologi.
 

Paradigma itu terus dikembangkan melalui berbagai riset dan publikasi ilmiah sehingga menjadi salah satu corak tafsir kontemporer yang berkembang di Indonesia.
 

Aktif di Forum Internasional
 

Jejak akademik Prof. Hasani tidak hanya dibangun di ruang kelas.
 

Ia aktif mengikuti seminar internasional, konferensi ilmiah, serta kolaborasi riset di berbagai negara, antara lain Mesir, Turki, Arab Saudi, Iran, Uzbekistan, Amerika Serikat, hingga sejumlah negara di Eropa seperti Jerman, Prancis, Belanda, Belgia, serta kawasan Asia Tenggara.
 

Kehadirannya di berbagai forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan perkembangan studi tafsir Indonesia kepada komunitas akademik global.
 

Mengabdi untuk Pendidikan dan Dakwah
 

Selain mengajar di Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Hasani juga aktif membimbing mahasiswa, mengajar di berbagai program pascasarjana, serta mengemban sejumlah amanah kelembagaan.
 

Ia dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat, menjadi Dewan Hakim Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), serta rutin mengisi kajian tafsir di berbagai forum dan media nasional, termasuk Program Serambi Islami TVRI.
 

Bagi Prof. Hasani, dunia akademik dan dakwah merupakan dua ruang yang saling melengkapi dalam menyebarkan nilai-nilai Al-Qur'an kepada masyarakat.
 

Guru Besar Bukan Titik Akhir
 

Pengangkatan sebagai Guru Besar menjadi tonggak penting dalam perjalanan intelektual Prof. Hasani Ahmad Said.
 

Namun, baginya, jabatan akademik tertinggi itu bukan garis finis.
 

Sebaliknya, Guru Besar adalah amanah untuk terus melahirkan karya ilmiah, memperkuat tradisi keilmuan Islam, membina generasi akademisi baru, serta memastikan nilai-nilai Al-Qur'an tetap relevan dalam menjawab dinamika masyarakat modern.
 

Dengan rekam jejak akademik, produktivitas ilmiah, dan kiprah internasional yang dimilikinya, Prof. Hasani Ahmad Said kini menjadi salah satu wajah penting perkembangan studi Tafsir Maqashidi Indonesia di tingkat dunia.
 

RAJA MEDIA — Cepat, Tajam, Terpercaya.rajamedia

Komentar: