Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Membaca Arah Politik Prabowo (7): Kepemimpinan dan Teladan Moral

Oleh: H. Dede Zaki Mubarok
Senin, 10 Agustus 2026 | 12:20 WIB
Artikel seri (7), Membaca Arah Politik Prabowo: Kepemimpinan dan Teladan Moral. - Ilustrasi RMN -
Artikel seri (7), Membaca Arah Politik Prabowo: Kepemimpinan dan Teladan Moral. - Ilustrasi RMN -

RMBANTEN.COM - "The example of a good life is the best sermon."
— Benjamin Franklin

ADA banyak cara seorang pemimpin memengaruhi orang lain. Ia dapat menggunakan kewenangan, memberikan instruksi, membuat aturan, bahkan memberikan sanksi. Namun ada satu cara yang sering kali jauh lebih kuat daripada semuanya: memberikan teladan.


Seorang pemimpin dapat memerintahkan bawahannya untuk disiplin, tetapi keteladanannya dalam menggunakan waktu akan berbicara lebih keras daripada perintah.


Seorang pemimpin dapat menyerukan pemberantasan korupsi, tetapi integritasnya dalam mengelola kekuasaan akan menjadi ukuran yang jauh lebih menentukan.


Seorang pemimpin dapat berbicara tentang persatuan, tetapi cara ia memperlakukan perbedaan akan menunjukkan apakah persatuan itu benar-benar menjadi nilai atau sekadar slogan.


Karena itu, kepemimpinan pada hakikatnya bukan hanya persoalan kemampuan mengambil keputusan. Kepemimpinan adalah persoalan karakter.

Dalam konteks demokrasi modern, masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cakap mengelola pemerintahan. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu menjadi rujukan moral dalam menggunakan kekuasaan.


Di sinilah pembacaan terhadap arah politik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi menarik. Jika agenda pemberantasan korupsi, penguatan hukum, reformasi birokrasi, dan pembangunan institusi ingin menghasilkan perubahan yang berkelanjutan, maka semuanya membutuhkan satu fondasi: keteladanan dari pucuk kepemimpinan hingga seluruh jenjang pemerintahan.


Pemimpin Lebih Dahulu daripada Kebijakan


Sebuah kebijakan dapat dibuat melalui rapat.


Sebuah peraturan dapat disusun melalui mekanisme birokrasi.


Sebuah program dapat dirancang dengan anggaran yang besar.


Tetapi budaya organisasi tidak lahir dari dokumen.


Budaya lahir dari perilaku.


Itulah sebabnya karakter pemimpin memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap institusi yang dipimpinnya.


Jika seorang pemimpin menghargai integritas, bawahannya akan memahami bahwa kejujuran bukan sekadar kata-kata.


Jika seorang pemimpin menghormati hukum, aparat di bawahnya akan belajar bahwa kekuasaan memiliki batas.


Jika seorang pemimpin terbuka terhadap kritik, organisasi akan tumbuh menjadi ruang yang sehat untuk melakukan koreksi.


Sebaliknya, ketika pemimpin menganggap kekuasaan sebagai privilese, organisasi berisiko membangun budaya yang sama.


Karena itu, perubahan birokrasi sesungguhnya tidak cukup dimulai dari perubahan aturan. Ia harus dimulai dari perubahan perilaku kepemimpinan.


Teladan adalah Bahasa Kekuasaan


Kekuasaan memiliki bahasa sendiri.


Perintah adalah salah satunya.


Namun teladan adalah bahasa yang paling mudah dipahami.


Pemimpin yang datang tepat waktu mengajarkan disiplin tanpa harus berpidato tentang disiplin.


Pemimpin yang berani mengakui kesalahan mengajarkan tanggung jawab tanpa harus membuat seminar tentang etika.


Pemimpin yang tidak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi sedang mengajarkan batas antara jabatan dan privilese.


Karena itu, teladan memiliki kekuatan pedagogis.


Ia mendidik tanpa menggurui.


Ia memengaruhi tanpa memaksa.


Ia membangun budaya tanpa harus selalu membuat aturan baru.


Kepemimpinan dan Integritas


Dalam artikel sebelumnya telah dibahas bahwa integritas merupakan fondasi Indonesia Emas 2045.


Namun integritas tidak akan tumbuh hanya karena dimasukkan ke dalam dokumen kebijakan.


Ia harus terlihat dalam perilaku pemimpin.


Ketika pemimpin mengatakan perang terhadap korupsi, masyarakat akan melihat apakah prinsip itu berlaku kepada semua orang.


Ketika pemerintah berbicara tentang meritokrasi, masyarakat akan melihat apakah pengisian jabatan benar-benar didasarkan pada kompetensi dan kinerja.


Ketika pemerintah berbicara tentang supremasi hukum, masyarakat akan melihat apakah hukum berlaku sama bagi yang kuat maupun yang lemah.


Dengan kata lain, keteladanan adalah ujian paling nyata dari sebuah komitmen politik.


Pemimpin Harus Berani Dikritik


Salah satu ciri kepemimpinan yang sehat adalah kesediaan menerima kritik.


Pemimpin yang hanya ingin mendengar pujian akan kehilangan kemampuan untuk melihat kelemahan pemerintahannya sendiri.


Demokrasi membutuhkan ruang kritik karena kritik merupakan mekanisme koreksi.


Pers memiliki fungsi penting dalam konteks ini. Media bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga salah satu mekanisme kontrol sosial terhadap kekuasaan.


Karena itu, hubungan pemerintah dan media idealnya bukan hubungan antara pihak yang harus selalu sepakat, melainkan hubungan kemitraan yang memungkinkan informasi publik disampaikan secara terbuka dan kekuasaan tetap berada dalam ruang pengawasan masyarakat.


Pemimpin yang kuat tidak takut pada kritik.


Justru pemimpin yang kuat mampu menggunakan kritik untuk memperbaiki kebijakan.


Kepemimpinan Moral Bukan Kepemimpinan yang Lemah


Ada anggapan bahwa pemimpin yang terlalu memperhatikan etika akan sulit mengambil keputusan tegas.


Pandangan itu keliru.


Etika bukan lawan ketegasan.


Etika justru memberikan arah bagi ketegasan.


Pemimpin harus berani mengambil keputusan ketika kepentingan negara menuntutnya. Namun keberanian tersebut harus tetap berada dalam koridor hukum, akal sehat, dan kepentingan publik.


Ketegasan tanpa etika dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan.


Sebaliknya, etika tanpa keberanian dapat berubah menjadi kelemahan.


Kepemimpinan yang matang membutuhkan keduanya: ketegasan dalam keputusan dan kebijaksanaan dalam menggunakan kekuasaan.


Membaca Arah Kepemimpinan Prabowo


Presiden Prabowo Subianto menghadapi tantangan pemerintahan yang tidak sederhana.


Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik, pemerataan pembangunan, reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia secara bersamaan.


Semua agenda tersebut membutuhkan negara yang efektif.


Namun negara yang efektif tidak identik dengan negara yang menggunakan kekuasaan tanpa batas.


Efektivitas pemerintahan harus berjalan bersama dengan akuntabilitas.


Kecepatan pengambilan keputusan harus berjalan bersama dengan transparansi.


Ketegasan harus berjalan bersama dengan supremasi hukum.


Dan kekuasaan harus berjalan bersama dengan etika.


Di sinilah kepemimpinan Presiden Prabowo akan terus diuji oleh sejarah: bukan hanya pada apa yang berhasil dibangun, tetapi juga pada budaya kekuasaan seperti apa yang berhasil diwariskan.


Dari Pemimpin ke Institusi


Kepemimpinan yang baik pada akhirnya harus menghasilkan institusi yang kuat.


Ini penting.


Sebab negara tidak boleh bergantung selamanya kepada kualitas satu orang.


Pemimpin yang hebat bukanlah pemimpin yang membuat semua hal bergantung kepada dirinya. Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang mampu membangun sistem sehingga pemerintahan tetap berjalan baik bahkan ketika dirinya sudah tidak lagi berada di dalam kekuasaan.


Karena itu, ukuran keberhasilan kepemimpinan bukan hanya popularitas, elektabilitas, atau banyaknya proyek yang berhasil diwujudkan.


Ukuran yang lebih penting adalah apakah seorang pemimpin berhasil meninggalkan institusi yang lebih kuat daripada ketika ia datang.


Jika jawabannya ya, maka kepemimpinan tersebut telah menghasilkan warisan.


Keteladanan sebagai Warisan


Pada akhirnya, seorang pemimpin akan meninggalkan dua jenis warisan.


Warisan yang terlihat berupa kebijakan, infrastruktur, program, dan institusi.


Dan warisan yang tidak terlihat berupa budaya, nilai, serta teladan.


Warisan kedua sering kali jauh lebih panjang umurnya.


Jalan dapat rusak.


Gedung dapat direnovasi.


Program dapat dihentikan.


Namun budaya integritas dapat diwariskan dari satu generasi birokrasi kepada generasi berikutnya.


Karena itu, pemimpin yang memberi teladan moral sesungguhnya sedang menanam sesuatu yang mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tetapi akan menentukan wajah negara dalam jangka panjang.


Penutup


Kekuasaan pada akhirnya akan berakhir.


Jabatan memiliki masa.


Popularitas dapat berubah.


Namun teladan dapat hidup jauh lebih lama daripada masa jabatan seorang pemimpin.


Bangsa tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu berkata benar. Bangsa membutuhkan pemimpin yang berani hidup sesuai dengan apa yang dikatakannya.


Sebab rakyat tidak hanya membaca pidato pemimpinnya.


Rakyat membaca perilakunya.


Rakyat melihat bagaimana ia menggunakan kekuasaan.


Rakyat mengamati siapa yang diperlakukan adil dan siapa yang diistimewakan.


Rakyat menilai apakah hukum benar-benar berlaku untuk semua.


Dan dari situlah kepercayaan dibangun.


Kepemimpinan yang sejati bukanlah kemampuan membuat orang takut kepada kekuasaan, melainkan kemampuan membuat orang percaya bahwa kekuasaan digunakan untuk kepentingan mereka.


Pada akhirnya, sejarah tidak hanya akan bertanya siapa yang pernah memimpin Indonesia.


Sejarah akan bertanya:


Nilai apa yang ditinggalkan oleh kepemimpinannya?


Karena seorang pemimpin mungkin meninggalkan jabatan.


Tetapi seorang pemimpin yang memberikan teladan akan meninggalkan jejak moral.


"Membaca arah politik sebuah pemerintahan bukanlah sekadar melihat siapa yang memegang kekuasaan, tetapi membaca nilai apa yang hidup di dalam kekuasaan tersebut. Sebab, kebijakan dapat mengubah keadaan dalam satu periode, tetapi keteladanan dapat mengubah budaya sebuah bangsa."


Penulis: Wartawan Senior, Pengurus Pusat IKALUIN Jakarta.


Bersambung ke Artikel (8): Meritokrasi dan Masa Depan Birokrasi Indonesia


RAJA MEDIA - Opini 2026.rajamedia

Komentar: