Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Idul Adha, Takbir, dan Jeritan Wong Cilik

Oleh: H. Dede Zaki Mubarok
Kamis, 28 Mei 2026 | 10:49 WIB
Foto ilustrasi RMN -
Foto ilustrasi RMN -

RMBANTEN.COM - HARI Raya Idul Adha selalu datang membawa gema takbir, aroma sate, dan hiruk-pikuk pembagian daging kurban. Masjid penuh. Lapangan dipadati jamaah. Grup WhatsApp keluarga ramai ucapan dan foto hewan kurban. Tetapi di balik suasana religius itu, ada pertanyaan yang terus menggantung di langit sosial kita: apakah semangat kurban benar-benar sudah menyentuh realitas kehidupan masyarakat?
 

Idul Adha bukan sekadar seremoni tahunan. Ia bukan hanya ritual menyembelih kambing atau sapi. Di balik kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, ada pelajaran tentang keberanian mengorbankan ego, keserakahan, dan kepentingan pribadi demi nilai kemanusiaan yang lebih besar.
 

Tahun ini, data terbaru Kementerian Pertanian menunjukkan kebutuhan hewan kurban nasional pada Idul Adha 1447 H/2026 diproyeksikan mencapai 2.355.470 ekor. Sementara ketersediaan hewan kurban nasional mencapai 3.246.790 ekor. Artinya, Indonesia mengalami surplus sekitar 891 ribu ekor hewan kurban.
 

Rinciannya cukup besar. Stok sapi mencapai 859.268 ekor dengan kebutuhan sekitar 791.452 ekor. Kambing tersedia lebih dari 1,4 juta ekor, sedangkan kebutuhan sekitar 1,08 juta ekor. Domba mencapai 935.690 ekor, hampir dua kali lipat dari kebutuhan nasional.
 

Kementerian Pertanian menyebut Indonesia tahun ini mengalami surplus ternak kurban sekitar 800 ribu ekor. Ini menjadi tanda bahwa daya dukung peternakan nasional cukup kuat memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Idul Adha.
 

Angka-angka itu menunjukkan satu hal penting: semangat berbagi umat Islam Indonesia masih sangat besar. Tradisi kurban tetap hidup dan tumbuh di tengah tekanan ekonomi global.
 

Namun di sisi lain, realitas sosial bangsa ini masih menyisakan ironi. Di tengah jutaan hewan kurban yang dipersiapkan, masih banyak rakyat kecil yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Masih ada keluarga yang hanya bisa menikmati daging setahun sekali saat Idul Adha tiba.
 

Di titik inilah Idul Adha menemukan makna sosialnya yang paling dalam. Sebab kurban sejatinya bukan hanya soal menyembelih hewan, melainkan menyembelih egoisme sosial. Ketika jutaan orang masih hidup dalam kesulitan, maka semangat kurban harus dimaknai lebih luas: menghadirkan kepedulian, solidaritas, dan keberpihakan kepada masyarakat kecil.
 

Di kota-kota besar, gedung pencakar langit terus bertambah. Pusat perbelanjaan penuh cahaya. Gaya hidup dipamerkan tanpa henti di media sosial. Tetapi di sudut-sudut kampung, masih ada keluarga yang bingung membayar sekolah anak, membeli beras, bahkan bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi.
 

Ironisnya, kadang masyarakat lebih sibuk memotret sapi kurban daripada memastikan tetangganya tidak tidur dalam keadaan lapar.
 

Padahal esensi kurban adalah distribusi kebahagiaan. Islam tidak mengajarkan kemewahan spiritual yang eksklusif. Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin sebagai simbol pemerataan dan solidaritas sosial.
 

Karena itu, Idul Adha juga layak menjadi momentum kritik moral bagi para pemegang kekuasaan. Bahwa rakyat membutuhkan lebih dari sekadar pidato dan pencitraan. Mereka membutuhkan keadilan ekonomi, pendidikan yang terjangkau, pelayanan kesehatan yang layak, dan lapangan pekerjaan yang manusiawi.
 

Kurban terbesar dalam kehidupan berbangsa hari ini mungkin bukan lagi sekadar menyembelih hewan. Tetapi keberanian mengorbankan kerakusan politik, korupsi, dan ketidakpedulian sosial.
 

Sebab selama masih ada elite yang hidup bermewah-mewahan di tengah rakyat yang menjerit, maka pesan suci Idul Adha belum benar-benar hadir dalam kehidupan sosial kita.
 

Idul Adha mengajarkan bahwa nilai manusia tidak diukur dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang rela diberikan untuk orang lain.
 

Maka takbir seharusnya tidak berhenti di masjid. Ia harus menjelma menjadi keberpihakan kepada wong cilik. Menjadi kepedulian nyata kepada mereka yang terpinggirkan. Menjadi keberanian membela keadilan di tengah zaman yang makin keras dan individualistis.
 

Sebab pada akhirnya, Allah tidak membutuhkan darah dan daging kurban kita. Yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dan keikhlasan sosial yang lahir dari hati manusia.
 

Penulis: Wartawan senior, DPP IKALUIN Jakartarajamedia

Komentar: