Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

TPA Jatiwaringin Terbakar Jadi Alarm Nasional! DPR Minta Open Dumping Dihentikan

Laporan: Firman
Kamis, 09 Juli 2026 | 06:47 WIB
Petugas sedang berjibaku memadamkan api di TPA Jatiwaringin Kabupaten Tangerang - Foto: Dok. BNPB -
Petugas sedang berjibaku memadamkan api di TPA Jatiwaringin Kabupaten Tangerang - Foto: Dok. BNPB -

RMBANTEN.COM  — Jakarta — Kebakaran hebat yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, dinilai bukan sekadar musibah daerah. Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS, Ateng Sutisna, menyebut peristiwa tersebut sebagai alarm nasional yang menandakan rapuhnya sistem pengelolaan sampah di Indonesia.
 

Menurutnya, kebakaran yang terjadi sejak 30 Juni 2026 menjadi bukti bahwa praktik open dumping atau pembuangan sampah terbuka sudah tidak layak lagi dipertahankan.
 

Open Dumping Dinilai Sudah Gagal
 

Ateng menegaskan, perubahan iklim yang memicu musim kemarau lebih panjang membuat risiko kebakaran TPA meningkat drastis.
 

Karena itu, pemerintah pusat maupun daerah diminta tidak lagi menganggap kebakaran TPA hanya sebagai persoalan teknis.
 

"Jatiwaringin adalah alarm keras bahwa open dumping sudah tidak bisa ditoleransi. Dalam kondisi El Nino kuat, TPA yang dibiarkan terbuka bisa berubah menjadi tungku api raksasa yang mengancam kesehatan warga dan mencemari udara," tegas Ateng, Rabu (8/7/2026).
 

El Nino Tingkatkan Ancaman Kebakaran
 

Ia mengingatkan, berbagai proyeksi klimatologi menunjukkan Indonesia berpotensi menghadapi El Nino dengan intensitas tinggi yang bertepatan dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) pada paruh kedua 2026.
 

Kondisi tersebut diperkirakan memperpanjang musim kemarau, meningkatkan suhu udara, sekaligus memperbesar risiko kebakaran di TPA yang masih menerapkan sistem penimbunan terbuka.
 

Menurut Ateng, pengalaman El Nino sebelumnya membuktikan puluhan TPA di berbagai daerah pernah mengalami kebakaran akibat kondisi serupa.
 

Bara Api Berasal dari Dalam Gunungan Sampah
 

Ateng menjelaskan, kebakaran TPA tidak selalu dipicu api dari luar.
 

Proses pembusukan sampah organik secara alami menghasilkan panas dan gas metana. Saat musim kemarau, panas tersebut terperangkap di dalam timbunan sampah hingga memunculkan bara api bawah permukaan yang sangat sulit dipadamkan.
 

"Api di TPA berbeda dengan api di bangunan biasa. Yang terlihat di permukaan sering kali hanya gejalanya. Bara sebenarnya berada jauh di dalam gunungan sampah," ujarnya.
 

Ancam Kesehatan Warga
 

Selain sulit dipadamkan, kebakaran TPA juga menghasilkan asap berbahaya yang mengandung karbon monoksida, partikulat halus (PM2.5), hingga potensi dioksin dan furan dari pembakaran plastik.
 

Menurut Ateng, kelompok paling rentan adalah balita, lansia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan.
 

Peristiwa di TPA Jatiwaringin sendiri telah menyebabkan ratusan warga mengalami gangguan pernapasan dan memaksa sebagian warga mengungsi akibat kepulan asap.
 

DPR Desak Audit Seluruh TPA
 

Sebagai langkah konkret, Ateng mendesak pemerintah segera melakukan audit risiko kebakaran terhadap seluruh TPA aktif di Indonesia.
 

Ia juga mengusulkan enam langkah prioritas yang harus segera dijalankan, yakni:
 

1. Menghentikan praktik open dumping menuju controlled landfill atau sanitary landfill

Memasang sistem pemantauan suhu dan titik panas menggunakan sensor termal serta drone thermal imaging

2. Membangun sistem pengendalian gas metana melalui flare system

3. Memperkuat pengolahan air lindi agar tidak mencemari lingkungan. 

4. Menyusun protokol darurat kebakaran TPA bersama BPBD. 

5. Mempercepat program pengurangan dan pemilahan sampah dari sumbernya. 
 

Negara Harus Bertindak
 

Ateng menegaskan DPR RI akan terus mengawal kebijakan pengelolaan sampah nasional, termasuk kesiapan anggaran dan koordinasi lintas kementerian serta pemerintah daerah.
 

Ia mengingatkan, tanpa perubahan serius, kebakaran serupa berpotensi terjadi di berbagai daerah.
 

"Godzilla El Nino harus dijawab dengan tata kelola sampah yang serius. Kalau sampah masih dibiarkan menumpuk terbuka tanpa pengelolaan yang baik, berarti kita sedang memelihara bencana. Negara harus hadir sebelum TPA lain menjadi Jatiwaringin berikutnya," pungkasnya.
 

RAJA MEDIA — Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: