Pariwisata Berkelas Tanpa Miras: Menyusuri Jejak Peradaban Cibanten Kota Serang
RMBANTEN.COM - TANGGAL 10 Agustus 2026, Kota Serang memasuki usia ke-19 tahun. Usia ini bukan sekadar penanda perjalanan administratif sebuah daerah otonom, tetapi momentum untuk meneguhkan arah pembangunan kota. Kota Serang tidak cukup hanya membangun jalan, gedung, dan kawasan permukiman, melainkan juga harus membangun jati dirinya sebagai kota yang berakar pada sejarah, kebudayaan, dan nilai-nilai luhur masyarakatnya. Sungai Cibanten, situs-situs purbakala, keraton, rumah-rumah ibadah, hingga Teluk Banten merupakan warisan peradaban yang tidak ternilai. Seluruh kekayaan itu dapat menjadi fondasi industri pariwisata yang membangun manusia, memajukan kebudayaan, menggerakkan ekonomi rakyat, serta menjaga kelestarian lingkungan. Inilah hadiah terbaik yang dapat dipersembahkan bagi Kota Serang pada hari jadinya.
Di tengah berbagai perdebatan mengenai arah pengembangan pariwisata, Kota Serang memiliki pilihan yang jauh lebih bermartabat. Kota ini tidak membutuhkan minuman keras untuk menarik wisatawan. Yang dibutuhkan adalah keberanian menghidupkan kembali Jejak Peradaban Cibanten sebagai narasi besar pembangunan. Wisatawan datang bukan hanya untuk mencari hiburan, tetapi juga untuk memperoleh pengalaman, pengetahuan, dan inspirasi. Kota-kota besar di dunia membuktikan bahwa sejarah, budaya, kuliner, dan harmoni sosial justru menjadi daya tarik yang paling berkelanjutan. Kota Serang memiliki seluruh modal tersebut.
~2_1785749774.jpg)
Industri pariwisata pada hakikatnya bukan sekadar menghasilkan pendapatan daerah. Pariwisata harus mendukung pembangunan manusia melalui pendidikan dan pengalaman yang bermakna. Pariwisata juga harus memajukan kebudayaan dengan merawat warisan sejarah dan tradisi masyarakat. Pada saat yang sama, pengembangan wisata wajib menjaga kelestarian sungai, ruang hijau, situs cagar budaya, dan lingkungan hidup. Ketika manusia, budaya, ekonomi, dan alam tumbuh bersama, pariwisata menjadi kekuatan pembangunan yang berkelanjutan. Prinsip inilah yang seharusnya menjadi arah baru pembangunan Kota Serang.
Sungai Cibanten merupakan urat nadi yang membentuk perjalanan panjang Kota Serang. Sejak masa kerajaan, sungai ini menjadi jalur perpindahan penduduk, perdagangan, pertanian, pemerintahan, dan penyebaran agama. Dari hulu hingga muara terbentang jejak perubahan dari masyarakat agraris menuju peradaban maritim. Tidak banyak kota di Indonesia yang memiliki koridor sejarah selengkap ini. Sungai Cibanten sesungguhnya adalah museum terbuka yang memadukan alam, sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat. Potensi tersebut masih menunggu untuk dikemas menjadi destinasi wisata kelas dunia.
Perjalanan menyusuri Jejak Peradaban Cibanten dapat dimulai dari Situs Banten Girang di kawasan hulu sungai. Situs ini merupakan jejak penting perkembangan awal Banten sebelum berdirinya Kesultanan Banten. Dari kawasan inilah terlihat bagaimana pertanian, sungai, dan permukiman menjadi fondasi kehidupan masyarakat pada masa lampau. Aliran Sungai Cibanten menghubungkan kawasan pedalaman dengan wilayah pesisir yang kelak berkembang menjadi pusat perdagangan. Memahami Banten Girang berarti memahami akar sejarah Kota Serang. Perjalanan wisata dimulai dari sumber lahirnya sebuah peradaban.
Dari Banten Girang, perjalanan berlanjut menuju kawasan Kaujon dan Kenari yang berkembang di sepanjang koridor Sungai Cibanten. Kawasan-kawasan ini menjadi penghubung antara kehidupan pedalaman dengan pusat kota yang terus tumbuh. Sungai bukan sekadar aliran air, melainkan jalur transportasi, perdagangan, dan pertukaran budaya pada zamannya. Di sepanjang koridor inilah masyarakat membangun permukiman, pasar, dan ruang-ruang kehidupan yang saling terhubung. Menata kembali kawasan ini sebagai jalur wisata akan menghidupkan memori kolektif masyarakat Kota Serang. Wisatawan tidak hanya melihat bangunan, tetapi juga memahami perjalanan sebuah kota.
Perjalanan berikutnya membawa wisatawan menuju Masjid Kasunyatan, salah satu pusat dakwah Islam tertua di Banten. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga saksi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pembentukan masyarakat pada masa Kesultanan Banten. Bagi umat Islam, kawasan ini menjadi tujuan ziarah yang penuh makna. Bagi wisatawan umum, Masjid Kasunyatan merupakan warisan arsitektur dan sejarah yang memperkaya pemahaman tentang perjalanan Kota Serang. Mengunjungi rumah ibadah tidak berarti mencampurkan keyakinan, melainkan menghormati sejarah dan kebudayaan yang membentuk sebuah peradaban. Dari titik inilah Jejak Peradaban Cibanten mulai memperlihatkan wajahnya sebagai ruang harmoni yang terbuka bagi semua.
Dari Masjid Kasunyatan, perjalanan berlanjut menuju Keraton Kaibon dan Keraton Surosowan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Banten. Di kawasan inilah keputusan-keputusan penting yang memengaruhi jalur perdagangan dan kehidupan masyarakat pernah diambil. Keraton bukan hanya simbol kekuasaan, melainkan juga pusat kebudayaan, diplomasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Tata kota yang dibangun memperlihatkan perpaduan nilai Islam dengan keterbukaan terhadap perdagangan internasional. Hingga kini, sisa-sisa bangunan tersebut masih menyimpan pelajaran berharga bagi generasi sekarang. Kawasan ini layak menjadi ruang belajar sejarah yang hidup.
Tidak jauh dari keraton berdiri Masjid Agung Banten yang menjadi ikon Kota Serang sekaligus salah satu pusat peradaban Islam di Nusantara. Masjid ini telah menjadi tempat ibadah, pendidikan, musyawarah, dan ziarah selama berabad-abad. Bagi umat Islam, kawasan ini memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi. Bagi wisatawan umum, kompleks Masjid Agung Banten menawarkan kekayaan sejarah, arsitektur, dan kebudayaan yang mengagumkan. Nilai sebuah masjid tidak hanya terletak pada bangunannya, tetapi juga pada peran besarnya dalam membentuk masyarakat. Karena itu, masjid merupakan bagian penting dari warisan peradaban dunia.
Perjalanan kemudian mengantarkan wisatawan ke Benteng Speelwijk dan Vihara Avalokitesvara. Dua situs ini mengingatkan bahwa sejarah Banten dibentuk oleh perjumpaan berbagai bangsa, agama, dan kebudayaan. Benteng menjadi saksi persaingan perdagangan internasional pada masa kolonial, sedangkan vihara menunjukkan jejak panjang komunitas Tionghoa dalam kehidupan Banten. Keberadaan keduanya berdampingan dengan masjid dan keraton merupakan pelajaran berharga tentang dinamika sejarah. Mengunjungi rumah ibadah dan situs sejarah bukan berarti mencampurkan keyakinan, melainkan menghormati warisan budaya yang membentuk identitas sebuah kota. Harmoni seperti inilah yang layak diwariskan kepada generasi mendatang.
Di ujung perjalanan terbentang Teluk Banten yang sejak dahulu menjadi pintu gerbang Nusantara. Dari teluk inilah kapal-kapal dagang datang dan pergi membawa rempah-rempah, ilmu pengetahuan, budaya, serta gagasan dari berbagai penjuru dunia. Teluk Banten membuktikan bahwa Banten pernah menjadi simpul penting dalam jaringan perdagangan internasional. Potensi sejarah maritim tersebut masih dapat dikembangkan melalui wisata bahari, susur sungai, dan edukasi sejarah. Dengan menghubungkan hulu Sungai Cibanten hingga Teluk Banten, Kota Serang memiliki koridor wisata yang sangat unik. Tidak banyak kota di Indonesia yang memiliki narasi sejarah seutuh ini.
Pengembangan Jejak Peradaban Cibanten akan memberi manfaat yang luas bagi masyarakat. Pelaku UMKM, pedagang pasar, pengrajin, seniman, pemandu wisata, pelaku ekonomi kreatif, hingga penyedia jasa transportasi akan memperoleh peluang baru. Kuliner khas Banten, kerajinan lokal, dan produk budaya akan semakin dikenal oleh wisatawan. Pada saat yang sama, masyarakat terdorong untuk menjaga kebersihan sungai, merawat situs sejarah, dan melestarikan tradisi daerah. Pariwisata menjadi penggerak ekonomi rakyat sekaligus penguat identitas budaya. Inilah bentuk pembangunan yang manfaatnya dirasakan secara bersama.
Memasuki usia ke-19 tahun, Kota Serang memiliki kesempatan besar untuk meneguhkan dirinya sebagai kota wisata peradaban. Jejak Sungai Cibanten, situs-situs sejarah, rumah-rumah ibadah, keraton, benteng, dan Teluk Banten merupakan kekayaan yang tidak dapat dibuat secara instan oleh kota lain. Modal inilah yang harus diolah dengan visi yang berpihak pada pembangunan manusia, kemajuan kebudayaan, kesejahteraan ekonomi rakyat, dan kelestarian lingkungan. Kota Serang tidak perlu membangun daya tarik yang bertentangan dengan karakter masyarakatnya. Sebaliknya, Kota Serang dapat menjadi contoh bahwa pariwisata yang berkelas lahir dari sejarah yang dirawat, keragaman yang dihormati, dan alam yang dijaga. Menyusuri Jejak Peradaban Cibanten pada akhirnya bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan perjalanan mengenali jati diri Kota Serang sekaligus menata masa depannya.
Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Penulis: adalah Dekan FKIP UNTIRTA/ Ketua Presidium FSPP Provinsi Banten
RAJA MEDIA - Opini 2026![]()
Patandang | 2 hari yang lalu
Patandang | 2 hari yang lalu
Patandang | 6 hari yang lalu
Patandang | 5 hari yang lalu
Nagara | 6 hari yang lalu
Pulitik Jero | 5 hari yang lalu
Patandang | 1 hari yang lalu
Patandang | 4 hari yang lalu
Warta Banten | 6 hari yang lalu