Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Membaca Arah Politik Prabowo (5): Integritas sebagai Fondasi Indonesia Emas 2045

Oleh: H. Dede Zaki Mubarok
Senin, 03 Agustus 2026 | 10:54 WIB
Foto ilustrasi - RMN -
Foto ilustrasi - RMN -

RMBANTEN.COM - "KURANG cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat diperbaiki dengan pengalaman, tetapi tidak jujur sulit diperbaiki."
— Mohammad Hatta


Pesan Bung Hatta tersebut tetap relevan hingga hari ini. Kecerdasan dapat ditingkatkan melalui pendidikan, keterampilan dapat diasah melalui pengalaman, tetapi integritas merupakan fondasi moral yang menentukan kualitas seseorang maupun kualitas sebuah bangsa.


Ketika Indonesia menetapkan visi besar Indonesia Emas 2045, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya target pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, atau peningkatan daya saing global. Yang lebih mendasar adalah membangun karakter bangsa dan memperkuat kualitas institusi negara.


Sebab, sejarah menunjukkan bahwa banyak negara memiliki sumber daya alam melimpah, bonus demografi, bahkan kekuatan ekonomi yang besar, tetapi gagal menjadi negara maju karena kehilangan satu hal yang paling mendasar: integritas.

Dalam perspektif itu, menarik membaca arah politik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Agenda pemberantasan korupsi, penguatan supremasi hukum, reformasi birokrasi, dan peningkatan kualitas pelayanan publik sesungguhnya bermuara pada satu tujuan besar, yaitu membangun negara yang berintegritas.


Namun, integritas bukan sekadar kebutuhan pemerintahan hari ini. Ia merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan wajah Indonesia ketika memasuki usia satu abad kemerdekaannya.


Indonesia Emas Dimulai dari Karakter Bangsa


Indonesia Emas 2045 sering dipahami sebagai target ekonomi. Padahal kemajuan bangsa tidak pernah lahir hanya dari pertumbuhan angka-angka statistik.


Negara maju dibangun oleh institusi yang kuat, birokrasi yang profesional, kepastian hukum yang terjaga, serta budaya integritas yang menjadi karakter bersama.


Berbagai kajian pembangunan menunjukkan bahwa kualitas institusi merupakan salah satu penentu keberhasilan sebuah negara. Infrastruktur dapat dibangun dalam beberapa tahun. Teknologi dapat dikuasai melalui investasi. Namun membangun integritas membutuhkan proses panjang yang melibatkan pendidikan, keteladanan, budaya organisasi, dan konsistensi kepemimpinan.


Pada akhirnya, seluruh agenda pembangunan akan kembali pada satu pertanyaan mendasar: nilai apa yang menopang seluruh proses tersebut?


Integritas bukan sekadar fondasi pembangunan. Integritas adalah fondasi peradaban sebuah bangsa.


Integritas adalah Keselarasan


Integritas sering kali dipahami sebatas kejujuran. Sesungguhnya maknanya jauh lebih luas.


Integritas adalah keselarasan antara nilai yang diyakini, ucapan yang disampaikan, dan tindakan yang dilakukan.


Dalam penyelenggaraan negara, integritas berarti keberanian menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi, kelompok, ataupun kekuasaan.


Di sinilah integritas menjadi titik temu antara moralitas dan tata kelola pemerintahan.


Negara yang kuat tidak hanya membutuhkan aparatur yang cerdas, tetapi juga aparatur yang dapat dipercaya.


Kepemimpinan Membangun Budaya


Pakar manajemen Peter Drucker pernah mengatakan,


"Culture eats strategy for breakfast."


Pesan tersebut mengingatkan bahwa strategi sebesar apa pun akan sulit berhasil apabila budaya organisasi tidak mendukung.


Indonesia Emas 2045 adalah strategi besar bangsa.


Namun strategi itu hanya akan menjadi dokumen perencanaan apabila budaya integritas tidak tumbuh dalam birokrasi, lembaga negara, dunia usaha, dan kehidupan politik.


Budaya selalu dimulai dari kepemimpinan.


Apa yang ditoleransi pemimpin akan menjadi kebiasaan.


Apa yang dihargai pemimpin akan menjadi budaya.


Karena itu, keteladanan memiliki daya pengaruh yang jauh lebih besar daripada pidato.


Integritas Melahirkan Kepercayaan


Dalam artikel sebelumnya telah dibahas bahwa kepercayaan publik merupakan modal terbesar sebuah negara.


Namun kepercayaan tidak muncul dari ruang hampa.


Kepercayaan lahir ketika rakyat melihat adanya konsistensi antara janji dan tindakan.


Kepercayaan tumbuh ketika hukum ditegakkan secara adil.


Kepercayaan menguat ketika birokrasi melayani dengan profesional.


Kepercayaan berkembang ketika anggaran negara dikelola secara transparan dan akuntabel.


Dengan kata lain, integritas merupakan akar dari kepercayaan publik.


Tanpa integritas, kepercayaan hanya menjadi slogan.


Korupsi adalah Musuh Integritas


Tidak ada ancaman yang lebih serius terhadap budaya integritas selain korupsi.


Korupsi bukan hanya merugikan keuangan negara.


Korupsi menghancurkan keteladanan, merusak sistem meritokrasi, melemahkan birokrasi, dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap negara.


Karena itu, pemberantasan korupsi sesungguhnya merupakan perjuangan menjaga integritas bangsa.


Tujuan akhirnya bukan sekadar memenjarakan pelaku.


Tujuan akhirnya adalah memastikan bahwa budaya penyelenggaraan negara dibangun di atas nilai kejujuran, profesionalisme, dan akuntabilitas.


Integritas adalah Investasi Antar-Generasi


Setiap bangsa pada akhirnya akan mewariskan sesuatu kepada generasi berikutnya. Ada yang mewariskan kemakmuran, ada yang mewariskan utang, ada pula yang meninggalkan konflik berkepanjangan. Namun warisan yang paling menentukan masa depan sebuah bangsa sesungguhnya bukanlah besarnya kekayaan yang ditinggalkan, melainkan kualitas institusinya dan karakter manusianya.


Indonesia Emas 2045 bukan sekadar target pembangunan yang ingin dicapai oleh satu pemerintahan. Ia merupakan investasi antargenerasi yang sedang dibangun oleh bangsa Indonesia hari ini untuk dinikmati oleh generasi yang akan datang.


Dalam perspektif itu, integritas tidak lagi menjadi urusan pribadi seorang pejabat atau aparatur negara. Integritas adalah investasi nasional. Ia menentukan apakah generasi mendatang akan mewarisi negara yang bersih, birokrasi yang profesional, hukum yang dipercaya, serta demokrasi yang matang.


Bonus demografi yang sering disebut sebagai peluang emas tidak akan banyak berarti apabila tidak dibarengi dengan budaya integritas. Sebaliknya, generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung kejujuran, akuntabilitas, etika publik, dan tanggung jawab akan menjadi modal terbesar Indonesia dalam mewujudkan cita-cita sebagai negara maju.


Warisan Sebuah Pemerintahan


Setiap pemerintahan tentu ingin meninggalkan warisan.


Ada yang dikenang karena pembangunan infrastrukturnya.


Ada yang dikenang karena keberhasilan ekonominya.


Ada pula yang dikenang karena reformasi kelembagaannya.


Namun warisan yang paling bernilai bukanlah gedung, jalan tol, atau kawasan industri.


Warisan terbesar adalah institusi yang bersih, birokrasi yang profesional, hukum yang dipercaya, dan budaya integritas yang tetap hidup jauh setelah masa jabatan berakhir.


Institusi yang kuat akan menjaga kesinambungan pembangunan, siapa pun pemimpinnya.


Di situlah ukuran sejati keberhasilan seorang pemimpin. Bukan sekadar apa yang dibangun selama masa jabatannya, melainkan nilai dan institusi yang tetap hidup setelah ia tidak lagi memegang kekuasaan.


Penutup


Indonesia Emas 2045 bukan sekadar target waktu.


Ia adalah ujian sejarah bagi seluruh bangsa Indonesia.


Indonesia Emas 2045 tidak akan ditentukan semata-mata oleh besarnya investasi, tingginya pertumbuhan ekonomi, atau kecanggihan teknologi. Semua itu penting, tetapi bukan penentu utama.


Yang akan menentukan adalah kualitas manusia yang memimpinnya, integritas institusi yang menjaganya, serta karakter bangsa yang mempertahankannya. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya mampu membangun kemajuan, melainkan juga mampu menjaga nilai-nilai yang membuat kemajuan itu bermakna.


Sebagaimana diingatkan Bung Hatta, kecerdasan dapat dipelajari dan keterampilan dapat dilatih. Namun tanpa kejujuran, seluruh pencapaian hanya akan menjadi bangunan megah yang berdiri di atas fondasi yang rapuh.


Sebab, pada akhirnya sejarah tidak hanya mengingat bangsa yang berhasil menjadi kaya. Sejarah akan mengingat bangsa yang mampu menjaga integritasnya ketika kekuasaan, kekayaan, dan kesempatan berada di tangannya.


Indonesia Emas bukanlah tujuan yang dapat dicapai oleh satu generasi, apalagi satu pemerintahan. Ia adalah estafet panjang yang membutuhkan pemimpin berintegritas, institusi yang kuat, dan rakyat yang percaya kepada negaranya. Ketika ketiganya bertemu, Indonesia tidak hanya akan menjadi negara maju, tetapi juga bangsa yang bermartabat di mata dunia.


"Membaca arah politik sebuah pemerintahan bukanlah menebak kehendak kekuasaan, melainkan mencermati konsistensi antara gagasan, kebijakan, dan tindakan. Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat bangsa yang berhasil menjadi maju, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga integritas dalam perjalanan menuju kemajuan itu."


Penulis: adalah wartawan senior, Pengurus Pusat IKALUIN Jakarta.


RAJA MEDIA - Opini 2026rajamedia

Komentar: