Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

H+10 Jadi Hari Terakhir, SAR Siapkan Penyisiran Besar-Besaran di Selat Sunda

Laporan: Tim Redaksi
Rabu, 16 September 2026 | 22:35 WIB
H+10 jadi hari terakhir, SAR siapkan penyisiran besar-besaran di Selat Sunda - Ilustrasi RMN -
H+10 jadi hari terakhir, SAR siapkan penyisiran besar-besaran di Selat Sunda - Ilustrasi RMN -

RMBANTEN.COM –  Operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak speedboat Arupadhatu I memasuki fase paling menentukan.
 

Pada Kamis, 17 September 2026, operasi akan memasuki hari kesepuluh (H+10) sekaligus menjadi hari terakhir masa perpanjangan operasi SAR yang ditetapkan Basarnas.
 

Kepala Kantor Basarnas Banten, Al Amrad, mengonfirmasi bahwa apabila hingga Kamis sore belum ditemukan tanda-tanda keberadaan para korban, sesuai ketentuan operasi mandiri SAR akan dihentikan dan selanjutnya beralih ke pemantauan pasif.
 

Karena itu, Tim SAR gabungan akan kembali memaksimalkan pencarian sejak pagi dengan mengevaluasi sektor-sektor yang dinilai masih kritis.
 

KN SAR Basudewa Fokus Laut Terbuka
 

Salah satu armada utama yang disiapkan untuk operasi H+10 adalah KN SAR Basudewa.
 

Armada tersebut dijadwalkan kembali bergerak melakukan penyisiran di kawasan Laut Terbuka Tanjung Belimbing.
 

Wilayah laut terbuka menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian karena kemungkinan pergerakan objek maupun korban dapat dipengaruhi arus, angin, dan kondisi gelombang selama beberapa hari terakhir.
 

Sektor yang Belum Optimal Disisir Kembali
 

Tim SAR juga akan melakukan evaluasi terhadap seluruh sektor pencarian.
 

Koordinat yang dinilai belum terlewati secara optimal akan dipetakan kembali untuk kemudian disisir ulang.
 

Langkah ini menjadi penting mengingat pada beberapa hari sebelumnya operasi pencarian menghadapi kendala cuaca buruk yang dapat memengaruhi efektivitas penyisiran.
 

Dengan waktu operasi yang semakin terbatas, tim akan memprioritaskan titik-titik yang berdasarkan hasil evaluasi masih memiliki kemungkinan untuk memberikan petunjuk keberadaan Arupadhatu I.
 

Operasi Udara Sangat Bergantung Cuaca
 

Pencarian dari udara menggunakan helikopter maupun drone termal juga akan disiapkan.
 

Namun, pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi cuaca di lapangan.
 

Potensi hujan lebat dan angin kencang di wilayah Banten menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan. Kondisi di sekitar Gunung Anak Krakatau, termasuk kemungkinan gangguan debu vulkanik dan angin kuat, juga dapat memengaruhi operasi udara.
 

Jika kondisi tidak memungkinkan, pencarian akan lebih banyak bertumpu pada armada kapal laut.
 

Nelayan dan Kapal Komersial Diperkuat
 

Menjelang batas akhir masa operasi, Basarnas juga memaksimalkan jaringan pemantauan dari darat.
 

Pos-pos pemantauan di sepanjang pantai diperkuat untuk menerima laporan selama 24 jam.
 

Nelayan lokal dan kapal komersial yang melintas di kawasan Selat Sunda juga diharapkan ikut memberikan informasi apabila melihat benda, material kapal, atau tanda-tanda lain yang diduga berkaitan dengan Arupadhatu I.
 

Jaringan masyarakat dan pengguna laut tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas pengawasan di luar area yang dapat dijangkau langsung oleh armada SAR.
 

Keluarga Bersiap Menghadapi Semua Kemungkinan
 

Di tengah upaya pencarian yang terus berpacu dengan waktu, keluarga para korban juga menghadapi situasi yang berat.
 

Pihak keluarga menyatakan telah mempersiapkan mental menghadapi berbagai kemungkinan, sembari tetap berharap adanya perkembangan positif dan terus memanjatkan doa.
 

Bagi keluarga, pencarian H+10 bukan sekadar batas waktu operasi, tetapi menjadi momentum penting untuk mendapatkan kepastian mengenai keberadaan lima jurnalis dan tiga awak Arupadhatu I.
 

H+10 Menjadi Penentu
 

Kamis pagi akan menjadi salah satu fase paling krusial dalam operasi pencarian.
 

Tim SAR gabungan akan mengoptimalkan penyisiran laut terbuka, mengevaluasi sektor yang belum maksimal, memperkuat pemantauan pesisir, serta mengandalkan laporan nelayan dan kapal yang melintas.
 

Jika hingga Kamis sore tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, operasi mandiri SAR sebagaimana disampaikan Basarnas akan berakhir dan memasuki tahap pemantauan pasif.
 

Namun hingga batas waktu tersebut tiba, pencarian masih terus berlangsung.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: