BMKG Waspadai Cumulonimbus 3-9 Oktober, Banten hingga Papua Berpotensi Terdampak
RMBANTEN.COM – Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 3-9 Oktober 2026.
Awan Cumulonimbus berpotensi tumbuh dengan intensitas berbeda-beda, mulai dari kategori Occasional hingga Frequent. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena awan Cb dapat berkaitan dengan kondisi cuaca signifikan, terutama bagi aktivitas penerbangan dan kegiatan masyarakat di wilayah terdampak.
Samudra Hindia Masuk Kategori Frequent
BMKG mencatat wilayah Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Mentawai berpotensi mengalami pertumbuhan awan Cumulonimbus kategori Frequent (FRQ).
Kategori ini menunjukkan cakupan spasial pertumbuhan awan Cb lebih dari 75 persen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus, terutama bagi aktivitas penerbangan serta kegiatan masyarakat yang berlangsung di wilayah perairan dan sekitarnya.
Banten hingga Papua Berpotensi Occasional
Selain kategori Frequent, BMKG memprakirakan pertumbuhan awan Cumulonimbus kategori Occasional (OCNL) dengan cakupan spasial sekitar 50-75 persen di sejumlah wilayah Indonesia.
Untuk wilayah daratan, potensi tersebut meliputi:
Sumatera: Aceh, Bengkulu, Jambi, Lampung, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.
Jawa: Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Kalimantan: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Papua: Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah.
Dengan demikian, masyarakat di sejumlah wilayah, termasuk Banten, perlu memperhatikan perkembangan informasi cuaca BMKG selama periode prakiraan tersebut.
Sejumlah Perairan Juga Berpotensi Ditumbuhi Cb
Potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus kategori Occasional juga diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah perairan.
Beberapa di antaranya adalah Laut Maluku, Laut Natuna Utara, Laut Sulawesi bagian barat, tengah dan timur, serta Selat Malaka bagian tengah dan utara.
Potensi serupa juga terdapat di Samudra Hindia sebelah barat Aceh, Bengkulu, Kepulauan Mentawai dan Kepulauan Nias.
Sementara di kawasan Pasifik, potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus diprakirakan berada di Samudra Pasifik sebelah utara Maluku dan Papua Barat Daya.
Tiga Kategori Pertumbuhan Awan Cumulonimbus
BMKG membagi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus berdasarkan cakupan spasialnya menjadi tiga kategori:
1. Isolated Cumulonimbus (ISOL CB): cakupan kurang dari 50 persen.
2. Occasional Cumulonimbus (OCNL CB): cakupan 50-75 persen.
3. Frequent Cumulonimbus (FRQ CB): cakupan lebih dari 75 persen.
BMKG menegaskan, persentase tersebut menunjukkan cakupan atau sebaran spasial awan Cumulonimbus, bukan probabilitas terjadinya hujan.
Artinya, angka persentase tersebut tidak dapat diartikan sebagai kemungkinan hujan sebesar 50 persen, 75 persen, atau lebih.
BMKG Minta Masyarakat Pantau Informasi Resmi
Informasi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus merupakan bagian dari produk prakiraan cuaca untuk penerbangan.
BMKG menggunakan model cuaca numerik untuk memperkirakan sebaran pertumbuhan awan tersebut hingga tujuh hari ke depan.
Masyarakat yang berada di wilayah dengan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus diimbau untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan peringatan dini resmi BMKG.
Pemantauan tersebut penting karena kondisi atmosfer dapat berubah dan perkembangan cuaca perlu mengikuti pembaruan prakiraan terbaru.
RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Patandang 4 hari yang lalu
Patandang | 5 hari yang lalu
Hukum | 6 hari yang lalu
Warta Banten | 3 hari yang lalu
Ékobis | 4 hari yang lalu
Hukum | 21 jam yang lalu
Patandang | 3 hari yang lalu
Warta Banten | 1 hari yang lalu
Pamenteun | 1 minggu yang lalu
Pulitik Jero | 5 hari yang lalu