Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

8 Bandara Kembali Dibuka, BMKG Subut Abu Anak Krakatau Negatif!

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 08 September 2026 | 12:43 WIB
Foto ilustrasi Raja Media Network - RMN -
Foto ilustrasi Raja Media Network - RMN -

RMBANTEN.COM — Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan sejumlah bandar udara kembali membuka operasional penerbangan setelah hasil pengujian paper test menunjukkan negatif abu vulkanik.
 

Berdasarkan pemantauan Selasa (8/9/2026), verifikasi lapangan menunjukkan ruang udara dan area landasan sejumlah bandara dinyatakan aman dari sebaran material abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK).
 

Dalam data terbaru yang disampaikan BMKG, delapan bandara yang sebelumnya terdampak penutupan telah dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik dan kembali beroperasi secara bertahap.
 

Paper Test Jadi Penentu Keamanan Bandara
 

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, pengujian paper test dilakukan secara berkala di sejumlah titik untuk melengkapi pemantauan citra satelit dan data meteorologi penerbangan.
 

Pengujian tersebut menjadi bagian dari proses verifikasi sebelum pengelola bandara memutuskan membuka kembali operasional penerbangan.
 

“Hasil pengamatan paper test per pukul 06.00 WIB menyatakan bahwa delapan bandara yang sebelumnya ditutup operasionalnya dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik. BMKG tetap memantau pergerakan abu secara real-time agar seluruh penerbangan berjalan aman,” kata Faisal, daam siaran persnya, Selasa (8/9/2026).
 

Soekarno-Hatta hingga Tanjung Lesung Kembali Beroperasi
 

Menindaklanjuti kondisi keamanan udara tersebut, Perum LPPNPI (AirNav Indonesia) menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) yang menjadi dasar informasi operasional penerbangan.
 

Bandara yang kembali beroperasi antara lain Soekarno-Hatta Tangerang sejak pukul 00.30 WIB, Halim Perdanakusuma Jakarta pukul 00.40 WIB, dan Husein Sastranegara Bandung pukul 00.42 WIB.
 

Kemudian Budiarto Curug Tangerang kembali beroperasi pukul 01.25 WIB dan Pondok Cabe Tangerang Selatan pukul 01.28 WIB.
 

Tiga bandara lainnya juga menyusul, yakni Muhammad Taufik Kiemas Sumatra Selatan pukul 09.31 WIB, Radin Inten II Lampung pukul 09.45 WIB, serta Salakanagara Tanjung Lesung Banten pukul 09.50 WIB.
 

Abu Vulkanik Bergerak ke Arah Selatan-Barat Daya
 

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan pemantauan terhadap pergerakan abu vulkanik terus dilakukan.
 

Secara umum, abu vulkanik berada pada ketinggian hingga 7.000 kaki atau sekitar 2,13 kilometer dan bergerak ke arah selatan-barat daya.
 

Sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah Banten bagian barat laut hingga Samudra Hindia di barat laut Banten.
 

Pada 8 September 2026 pukul 09.00 WIB, kecepatan pergerakan abu diperkirakan mencapai 5–10 knot atau sekitar 9,3–18,5 kilometer per jam.
 

“Pantauan cuaca di sekitar GAK dan perairan Selat Sunda cenderung cerah hingga cerah berawan dari pagi hingga malam hari,” ujar Andri.
 

BMKG: Potensi Tsunami Rendah
 

Di tengah aktivitas erupsi GAK, BMKG juga memastikan pemantauan terhadap kemungkinan tsunami terus dilakukan.
 

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan pemantauan menggunakan 20 tsunami gauge serta HF Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung belum menemukan anomali gelombang muka air laut.
 

Probabilitas terjadinya tsunami saat ini berada dalam kategori rendah, di bawah 50 persen.
 

“Tidak terdeteksi anomali kenaikan tinggi muka air laut ataupun perubahan pola arus permukaan secara signifikan yang mengindikasikan akan terjadinya tsunami,” jelas Ardhasena.
 

Untuk tujuh hari ke depan, 8–13 September 2026, tinggi gelombang di sekitar Selat Sunda diprakirakan berada pada kisaran 0,5–3 meter.
 

Erupsi Kecil Masih Terjadi
 

Meski aktivitas secara umum menunjukkan penurunan intensitas, erupsi GAK masih terus dipantau.
 

Mengacu informasi terbaru PVMBG pada pukul 07.49 WIB, kembali teramati erupsi dengan amplitudo maksimum 48 mm dan durasi 19 detik.
 

Erupsi tersebut masuk kategori strombolien atau erupsi kecil.
 

BMKG juga mendeteksi gangguan geomagnetik dan sambaran petir vulkanik melalui sensor magnet bumi serta lightning detector.
 

Aktivitas gangguan geomagnetik kecil dan sambaran petir vulkanik tercatat pada pukul 21.00–23.00 WIB. Namun, intensitasnya menunjukkan penurunan dibandingkan hari-hari sebelumnya.
 

OMC Dikebut Bersihkan Abu di Atmosfer
 

Untuk mempercepat pembersihan atmosfer dari material abu vulkanik, BMKG bersama BNPB, Kementerian Perhubungan, dan pihak terkait menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 7 September 2026.
 

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan, operasi dilakukan melalui penyemaian awan hujan dan penyemprotan watermist menggunakan dua pesawat Cessna Caravan yang ditempatkan di Posko Bandara Pondok Cabe dan Halim Perdanakusuma.
 

“Hingga saat ini, OMC telah melaksanakan lima sorti penerbangan, satu sorti menggunakan bahan semai powder NaCl, satu sorti liquid CaCl2 dan tiga sorti menggunakan spraying/watermist,” jelas Seto.
 

Operasi akan terus disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan arah sebaran abu vulkanik.
 

BMKG berharap konsentrasi abu di udara terus berkurang sehingga kondisi atmosfer berangsur kembali bersih.
 

Warga Diminta Tetap Tenang dan Waspada
 

Dengan dinamika erupsi yang masih berlangsung, BMKG meminta masyarakat tetap tenang sekaligus meningkatkan kewaspadaan.
 

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak sebaran abu vulkanik diimbau membatasi aktivitas di luar rumah.
 

Jika harus beraktivitas di luar, warga dianjurkan menggunakan masker dan kacamata pelindung untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.
 

BMKG juga meminta masyarakat terus mengikuti informasi resmi dari BMKG, PVMBG, BNPB, dan pemerintah daerah serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Foto ilustrasi Raja Media Network - RMN -
Pos Sebelumnya:
Korupsi, Kolusi, dan Erupsi
Komentar: