Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Membaca Arah Politik Prabowo (9): Reformasi Birokrasi — Mengubah Budaya, Bukan Sekadar Struktur

Oleh: H. Dede Zaki Mubarok
Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:00 WIB
Tulisan lanjutan, Membaca Arah Politik Prabowo (9): Reformasi Birokrasi — Mengubah Budaya, Bukan Sekadar Struktur - RMN -
Tulisan lanjutan, Membaca Arah Politik Prabowo (9): Reformasi Birokrasi — Mengubah Budaya, Bukan Sekadar Struktur - RMN -

RMBANTEN.COM - “Culture eats strategy for breakfast.”
— Peter Drucker
 

Kalimat Peter Drucker tersebut sederhana, tetapi mengandung pelajaran besar bagi setiap organisasi, termasuk negara.
 

Strategi dapat disusun.
 

Regulasi dapat dibuat.
 

Struktur organisasi dapat diubah.
 

Teknologi dapat diterapkan.
 

Namun apabila budaya kerja tidak berubah, seluruh perubahan tersebut berisiko hanya menghasilkan wajah baru dari birokrasi lama.
 

Di sinilah persoalan reformasi birokrasi Indonesia menjadi penting.
 

Selama bertahun-tahun, reformasi birokrasi sering dikaitkan dengan perubahan struktur organisasi, penyederhanaan regulasi, digitalisasi pelayanan, penataan kelembagaan, hingga perubahan sistem kerja.
 

Semua itu penting.

Tetapi reformasi birokrasi tidak akan pernah benar-benar selesai apabila perubahan hanya berhenti pada struktur.
 

Yang jauh lebih sulit adalah mengubah budaya kerja.
 

Mengubah cara berpikir.
 

Mengubah kebiasaan.
 

Mengubah cara aparatur memandang kekuasaan.
 

Dan yang paling penting, mengubah cara negara memandang masyarakat.
 

Dalam konteks membaca arah politik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, tantangan tersebut menjadi semakin relevan. Pemerintahan yang ingin bergerak cepat, membangun ekonomi, memperkuat ketahanan nasional, dan menghadirkan pelayanan publik yang lebih baik membutuhkan birokrasi yang bukan hanya besar, tetapi juga lincah, profesional, berintegritas, dan berorientasi pada hasil.
 

Reformasi Bukan Sekadar Mengubah Struktur
 

Birokrasi Indonesia telah mengalami banyak perubahan kelembagaan.
 

Nama lembaga dapat berubah.
 

Organisasi dapat digabung atau dipisahkan.
 

Jabatan dapat disederhanakan.
 

Prosedur dapat dibuat lebih singkat.
 

Namun perubahan struktur tidak otomatis mengubah perilaku.
 

Sebuah kantor yang sudah menggunakan sistem digital tetap dapat bekerja dengan budaya lama.
 

Sebuah pelayanan yang sudah memiliki aplikasi tetap dapat lambat apabila aparatur di belakang sistem tersebut tidak memiliki orientasi melayani.
 

Karena itu, ukuran reformasi birokrasi tidak boleh hanya dilihat dari berapa banyak regulasi yang dicabut atau berapa banyak aplikasi yang dibuat.
 

Pertanyaan yang lebih penting adalah:
 

Apakah masyarakat merasakan negara menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih adil, dan lebih pasti?
 

Jika jawabannya belum, berarti reformasi masih memiliki pekerjaan besar.
 

Dari Birokrasi yang Dilayani Menjadi Birokrasi yang Melayani
 

Salah satu perubahan budaya yang paling mendasar adalah mengubah cara aparatur memandang masyarakat.
 

Dalam paradigma birokrasi lama, masyarakat sering ditempatkan sebagai pihak yang membutuhkan pelayanan dari negara.
 

Dalam paradigma pemerintahan modern, masyarakat harus dipandang sebagai pemilik kedaulatan yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik.
 

Perubahan perspektif ini sangat penting.
 

Aparatur bukan pemilik kewenangan.
 

Aparatur adalah pemegang amanah.
 

Jabatan bukan privilese.
 

Jabatan adalah tanggung jawab.
 

Kewenangan bukan alat untuk menunjukkan kekuasaan.
 

Kewenangan adalah instrumen untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
 

Jika cara pandang ini berubah, maka budaya birokrasi pun akan berubah.
 

Kecepatan Harus Berjalan Bersama Akuntabilitas
 

Pemerintahan modern membutuhkan kecepatan.
 

Masyarakat tidak ingin menunggu berhari-hari untuk mendapatkan pelayanan yang seharusnya dapat diselesaikan dalam hitungan menit.
 

Dunia usaha membutuhkan kepastian.
 

Investor membutuhkan prosedur yang jelas.
 

Masyarakat membutuhkan pemerintah yang responsif terhadap persoalan sehari-hari.
 

Namun kecepatan tidak boleh mengorbankan akuntabilitas.
 

Reformasi bukan berarti semua prosedur dihilangkan.
 

Reformasi berarti prosedur yang tidak perlu dipangkas, sementara mekanisme pengawasan yang penting justru diperkuat.
 

Pemerintahan yang cepat tetapi tidak akuntabel dapat melahirkan masalah baru.
 

Sebaliknya, pemerintahan yang terlalu berhati-hati hingga tidak mampu mengambil keputusan juga dapat menghambat pembangunan.
 

Karena itu, reformasi birokrasi membutuhkan keseimbangan antara kecepatan, kepastian, transparansi, dan pengawasan.
 

Digitalisasi Bukan Tujuan Akhir
 

Transformasi digital menjadi salah satu instrumen penting dalam reformasi birokrasi.
 

Digitalisasi dapat mempercepat pelayanan, mengurangi tatap muka yang tidak perlu, meningkatkan transparansi, dan membantu pemerintah mengambil keputusan berdasarkan data.
 

Tetapi teknologi bukan tujuan akhir.
 

Aplikasi yang bagus tidak akan menyelesaikan persoalan jika budaya kerja di belakangnya tetap buruk.
 

Digitalisasi yang hanya memindahkan formulir kertas ke layar komputer belum tentu merupakan reformasi.
 

Reformasi digital yang sesungguhnya adalah ketika teknologi membuat pelayanan lebih sederhana, keputusan lebih cepat, data lebih akurat, dan masyarakat lebih mudah mendapatkan haknya.
 

Dengan kata lain:
 

Teknologi harus mengubah cara kerja, bukan sekadar mengubah bentuk pekerjaan.
 

Reformasi Membutuhkan Aparatur yang Berani Berubah
 

Tidak semua perubahan nyaman.
 

Reformasi selalu menghadirkan resistensi karena perubahan mengganggu kebiasaan lama.
 

Aparatur yang selama bertahun-tahun bekerja dengan pola tertentu mungkin merasa tidak nyaman ketika sistem berubah.
 

Namun negara tidak boleh berhenti hanya karena perubahan terasa tidak nyaman.
 

Aparatur negara harus memiliki kemampuan belajar kembali.
 

Reskilling dan upskilling bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
 

Dunia berubah dengan cepat.
 

Teknologi berkembang.
 

Kebutuhan masyarakat berubah.
 

Model ekonomi berubah.
 

Karena itu, birokrasi yang tidak mau belajar akan tertinggal.
 

Birokrasi yang tidak mau berubah pada akhirnya akan menjadi beban bagi negara.
 

Reformasi Dimulai dari Kepemimpinan
 

Sebagaimana dibahas dalam Artikel (7), budaya organisasi sangat dipengaruhi oleh pemimpin.
 

Reformasi birokrasi pun demikian.
 

Pemimpin yang ingin mengubah budaya harus berani memberi contoh.
 

Ia harus menunjukkan bahwa kinerja dihargai.
 

Ia harus memberikan ruang bagi inovasi.
 

Ia harus berani menindak pelanggaran.
 

Ia harus membuka ruang kritik.
 

Dan yang paling penting, ia harus konsisten.
 

Tidak mungkin membangun budaya integritas apabila pelanggaran hanya ditindak ketika dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kekuasaan.
 

Tidak mungkin membangun meritokrasi apabila promosi jabatan masih dipengaruhi kedekatan.
 

Tidak mungkin membangun pelayanan publik apabila aparatur lebih sibuk menjaga kepentingan internal daripada menyelesaikan persoalan masyarakat.
 

Karena itu, reformasi birokrasi sesungguhnya adalah ujian kepemimpinan.
 

Membaca Arah Politik Prabowo
 

Pemerintahan Presiden Prabowo memiliki agenda besar yang membutuhkan kapasitas negara yang kuat.
 

Program pembangunan nasional, peningkatan kesejahteraan, ketahanan pangan dan energi, penguatan sumber daya manusia, hingga agenda Indonesia Emas 2045 tidak dapat dijalankan hanya dengan keputusan politik.
 

Semua membutuhkan birokrasi yang mampu mengeksekusi.
 

Karena itu, reformasi birokrasi menjadi bagian penting dari keberhasilan agenda tersebut.
 

Namun reformasi yang dibutuhkan bukan sekadar birokrasi yang patuh.
 

Indonesia membutuhkan birokrasi yang profesional tetapi tidak kehilangan keberanian, cepat tetapi tetap akuntabel, inovatif tetapi tetap taat hukum, dan loyal kepada pemerintah tetapi tetap setia kepada kepentingan negara.
 

Di sinilah arah reformasi birokrasi pemerintahan Prabowo akan diuji.
 

Bukan hanya dari banyaknya perubahan struktur.
 

Bukan hanya dari banyaknya aplikasi yang diluncurkan.
 

Tetapi dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.
 

Mengubah Budaya Takut Menjadi Budaya Tanggung Jawab
 

Salah satu persoalan klasik birokrasi adalah budaya takut.
 

Aparatur takut mengambil keputusan karena khawatir salah.
 

Takut berinovasi karena takut disalahkan.
 

Takut mengambil inisiatif karena lebih aman mengikuti prosedur lama.
 

Budaya seperti ini membuat birokrasi kehilangan energi.
 

Reformasi harus mengubahnya menjadi budaya tanggung jawab.
 

Aparatur harus diberi ruang untuk mengambil keputusan sesuai kewenangan, sepanjang dilakukan dengan itikad baik, berbasis aturan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
 

Dengan demikian, birokrasi tidak lagi bekerja karena ketakutan terhadap atasan, tetapi karena kesadaran terhadap tanggung jawab publik.
 

Itulah birokrasi yang dewasa.
 

Ukuran Reformasi adalah Kepuasan Masyarakat
 

Pada akhirnya, reformasi birokrasi harus kembali kepada masyarakat.
 

Bukan kepada birokrasi itu sendiri.
 

Bukan kepada pejabat.
 

Bukan kepada banyaknya laporan administratif.
 

Masyarakatlah yang harus menjadi ukuran keberhasilan.
 

Apakah mengurus dokumen menjadi lebih mudah?
 

Apakah pelayanan kesehatan semakin baik?
 

Apakah pendidikan semakin mudah diakses?
 

Apakah perizinan semakin cepat dan transparan?
 

Apakah masyarakat memperoleh kepastian hukum?
 

Apakah pengaduan ditangani dengan serius?
 

Jika berbagai pertanyaan tersebut semakin banyak dijawab dengan "ya", maka reformasi sedang berjalan.
 

Sebaliknya, jika masyarakat masih harus mencari jalan belakang untuk mendapatkan pelayanan, berarti ada budaya lama yang belum berubah.
 

Dari Reformasi Birokrasi Menuju Reformasi Negara
 

Pada tingkat yang lebih luas, reformasi birokrasi sesungguhnya merupakan bagian dari reformasi negara.
 

Birokrasi adalah tangan negara yang paling dekat dengan masyarakat.
 

Ketika tangan itu bekerja dengan baik, masyarakat merasakan kehadiran negara.
 

Ketika tangan itu lamban, koruptif, atau diskriminatif, masyarakat akan mempertanyakan negara.
 

Karena itu, reformasi birokrasi bukan proyek administratif.
 

Ia adalah proyek kenegaraan.
 

Tujuannya bukan hanya membuat aparatur lebih efisien, tetapi memastikan negara hadir secara nyata dalam kehidupan rakyat.
 

Penutup
 

Reformasi birokrasi tidak akan berhasil hanya dengan mengganti struktur.
 

Tidak cukup dengan membuat aturan baru.
 

Tidak selesai hanya dengan membangun aplikasi.
 

Dan tidak akan berhasil apabila hanya menjadi jargon setiap pergantian pemerintahan.
 

Reformasi yang sesungguhnya adalah perubahan budaya.
 

Budaya dari dilayani menjadi melayani.
 

Budaya dari takut mengambil keputusan menjadi berani bertanggung jawab.
 

Budaya dari mengejar jabatan menjadi mengejar kinerja.
 

Budaya dari menjaga kepentingan kelompok menjadi menjaga kepentingan negara.
 

Indonesia membutuhkan birokrasi yang memahami bahwa kekuasaan adalah amanah, jabatan adalah tanggung jawab, dan pelayanan publik adalah bentuk pengabdian.
 

Jika reformasi birokrasi berhasil mengubah budaya tersebut, maka Indonesia tidak hanya memiliki birokrasi yang lebih efisien.
 

Indonesia akan memiliki negara yang lebih hadir, lebih dipercaya, dan lebih kuat.
 

Dan pada akhirnya, keberhasilan reformasi birokrasi tidak ditentukan oleh seberapa banyak struktur yang berubah, melainkan oleh seberapa dalam budaya kerja berubah.
 

Karena negara tidak berubah hanya karena organisasinya berubah. Negara berubah ketika manusia yang menjalankannya berubah.
 

"Membaca arah politik sebuah pemerintahan bukan hanya melihat kebijakan yang dibuat, tetapi melihat apakah kebijakan tersebut mampu mengubah cara negara bekerja dan cara negara melayani rakyat. Sebab, reformasi yang sejati bukan sekadar perubahan struktur, melainkan perubahan budaya."
 

Penulis: Wartawan Senior, Pengurus Pusat IKALUIN Jakarta.
 

Bersambung ke Artikel (10): Negara Hadir: Dari Kekuasaan Menuju Pelayanan Publikrajamedia

Komentar: